Pemimpin oposisi Kamboja, Sam Rainsy yang tiba di Prancis karena tidak bisa kembali ke negaranya. Foto: AFP
Pemimpin oposisi Kamboja, Sam Rainsy yang tiba di Prancis karena tidak bisa kembali ke negaranya. Foto: AFP

AS Prihatin Kamboja Kukuh Tolak Kepulangan Tokoh Oposisi

Internasional politik kamboja kamboja
Marcheilla Ariesta • 08 November 2019 19:01
Phnom Penh: Amerika Serikat menyatakan keprihatinannya atas tindakan keras Kamboja terhadap oposisinya. Menurut mereka, sikap Perdana Menteri Hun Sen terlalu otoriter sehingga menangkap puluhan aktivis dan mencegah para pemimpin oposisi kembali dari luar negeri.
 
"Amerika Serikat sangat prihatin dengan serangkaian penangkapan, pelecehan, dan intimidasi yang dilakukan kepada anggota oposisi politik Kamboja baru-baru ini, dengan menggagalkan kembalinya dia ke Kamboja," kata juru bicara Kedutaan AS di Kamboja, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 8 November 2019.
 
Sementara itu, kelompok hak asasi manusia Amnesty Internasional juga mengecam kerja sama dengan Malaysia dan Thailand untuk mencegah tokoh oposisi Kamboja yang ingin menggalang dukungan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pendiri partai oposisi yang diasingkan, Sam Rainsy, mengatakan akan kembali ke Kamboja. Namun, dia ditentang kembali ke Kamboja karena memimpin demokrasi menentang aturan partai.
 
Kemarin, Malaysia menahan tokoh oposisi lainnya, Mu Sochua, di bandara. Namun dia dibebaskan 24 jam kemudian bersama dengan dua oposisi Kamboja lainnya.
 
PM Hun Sen, yang telah memerintah Kamboja selama lebih dari tiga dekade, menggambarkan rencana kembalinya para pemimpin oposisi di luar negeri sebagai upaya untuk melakukan kudeta.
 
Direktur Penelitian Amnesty International untuk Asia Tenggara, Joanne Mariner mempertanyakan tindakan negara-negara di kawasan itu 'memblokir' para pemimpin oposisi dan aktivis dari perjalanan pulang.
 
"Negara tetangga Kamboja seharusnya tidak tunduk pada tekanan Hun Sen," katanya.
 
"Malaysia benar untuk membebaskan Mu Sochua dan dua rekan senegaranya. Tapi mereka seharusnya tidak ditahan sejak awal," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif