Komandan NATO Jenderal Curtis Scaparrotti berbicara di hadapan Kongres AS di Washington, 5 Maret 2019. (Foto: AFP/JIM WATSON)
Komandan NATO Jenderal Curtis Scaparrotti berbicara di hadapan Kongres AS di Washington, 5 Maret 2019. (Foto: AFP/JIM WATSON)

Antisipasi Ancaman Rusia, NATO Ingin Perkuat Ukraina

Internasional ukraina nato rusia
Willy Haryono • 06 Maret 2019 09:35
Washington: Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO berencana memperkuat pertahanan Ukraina dalam rangka mengantisipasi ancaman Rusia yang dinilai "semakin agresif" dari hari ke hari.
 
Komandan NATO Jenderal Curtis Scaparrotti asal Amerika Serikat mengatakan salah satu bentuk penguatan itu adalah penjualan misil anti-tank Javelin ke Ukraina tahun kemarin.
 
"Tapi masih ada beberapa sistem lainnya yang dapat disalurkan ke Ukraina, seperti sistem penembak jitu dan amunisi," kata Scaparroti di hadapan Kongres AS di Washington, seperti dikutip dari kantor berita AFP, Selasa 5 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia juga menambahkan bahwa AS perlu mempertimbangkan penguatan pertahanan di Laut Hitam, sebuah wilayah perairan di mana Rusia menembaki dan menyita tiga kapal Rusia pada akhir tahun lalu. Ketiga kapal itu, beserta para krunya, ditahan Rusia saat sedang berlayar di Selat Kerch.
 
"Lima tahun usai Rusia menganeksasi Krimea, Moskow terus mempersenjatai, melatih dan bahkan ikut berperang bersama pasukan antipemerintah Ukraina di wilayah timur," tutur Scaparrotti.
 
"Konflik di Ukraina timur masih berlangsung panas, dengan sejumlah pelanggaran gencatan senjata dilaporkan terjadi pada setiap pekan," lanjut dia.
 
Setelah terjadinya gerakan massa dalam jumlah besar di Ukraina pada 2014 dan naiknya Presiden Petro Poroshenko, Rusia mencaplok Krimea. Kiev dan beberapa negara Eropa menuduh Rusia mendukung gerakan separatisme di wilayah timur Ukraina. Konflik di wilayah tersebut telah menewaskan sekitar 13 ribu orang.
 
Saat ditanya mengenai Turki -- salah satu anggota NATO -- yang ingin membeli sistem pertahanan anti-pesawat S400 buatan Rusia, Scaparrotti menekankan bahwa posisi Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon adalah menanti kepastian. Pentagon akan memblokade pengiriman pesawat jet tempur siluman F-35 ke Turki jika Ankara jadi membeli S400.
 
Washington mengirim gelombang pertama F-35 ke Turki pada Juni 2018. Namun beberapa pesawat itu kini masih berada di AS, sementara para pilot Turki menjalani pelatihan mengoperasikan F-35. Proses pelatihan dan pengiriman ini dapat berlangsung selama dua tahun jika tidak ada hambatan berarti.
 
Baca:Rusia Tuduh Ukraina Lakukan Manuver Berbahaya di Krimea
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif