Sebuah tank baja tipe M1 Abrams berada di Washington, AS, 3 Juli 2019. (Foto: AFP/MARK WILSON)
Sebuah tank baja tipe M1 Abrams berada di Washington, AS, 3 Juli 2019. (Foto: AFP/MARK WILSON)

AS Setujui Penjualan Senjata Senilai Rp31 Triliun ke Taiwan

Internasional amerika serikat taiwan
Willy Haryono • 09 Juli 2019 15:21
Washington: Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui potensi adanya penjualan senjata senilai USD2,2 miliar (setara Rp31 triliun) ke Taiwan. Senjata tersebut termasuk tank tempur dan misil anti-pesawat.
 
Jika transaksi ini terwujud, maka akan menjadi penjualan perlengkapan militer dengan nilai terbesar dari AS ke Taiwan dalam beberapa dekade terakhir. Kabar ini hampir dipastikan membuat Tiongkok geram.
 
Menurut keterangan Agensi Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSCA), rencana penjualan senjata meliputi 108 unit tank jenis M1A2T Abrams, 250 misil anti-pesawat tipe Stinger dan sejumlah perlengkapan terkait lainnya dengan estimasi nilai Rp31 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Rencana penjualan ini akan berkontribusi terhadap modernisasi armada tank dan pertahanan udara negara penerima. Penjualan ini juga mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan membantu meningkatkan kapabilitas keamanan dan pertahanan (Taiwan)," sebut DSCA, dilansir dari laman AFP, Selasa 9 Juli 2019.
 
DSCA menilai penjualan senjata ke Taiwan ini tidak akan "mengubah keseimbangan militer" di kawasan. Kongres AS telah mendapat informasi mengenai rencana penjualan ini, dan memiliki waktu 30 hari untuk menolak atau menerimanya.
 
Sebelumnya di bulan ini, Tiongkok telah mengendus rencana penjualan senjata AS dan menentangnya. Beijing menekankan isu penjualan senjata ke Taiwan "bersifat sangat sensitif dan juga merusak."
 
Taiwan menjalankan pemerintahannya sendiri secara terpisah dari Tiongkok sejak berakhirnya perang sipil 1949. Namun Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayah yang perlu disatukan kembali, bahkan dengan kekerasan jika memang diperlukan.
 
Tiongkok telah meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap Taipei sejak terpilihnya Tsai Ing-wen sebagai Presiden Taiwan pada 2016. Partai Progresif Demokratis milik Tsai menolak mengakui bahwa Taiwan adalah bagian dari "Satu Tiongkok."
 
AS telah mengubah pengakuan diplomatik dari Taiwan ke Tiongkok pada 1979. Namun hingga kini, AS masih menjadi mitra penting dan penyalur senjata utama ke Taipei.
 
Baca: AS Kirim Dua Kapal ke Selat Taiwan
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif