Hal tersebut disampaikan Casagrande dalam wawancara bersama Radiónica. Drummer yang bergabung dengan Slipknot pada 2024 itu juga memberikan sedikit gambaran mengenai proses pengerjaan album studio kedelapan mereka.
Sebelumnya, Slipknot telah melepas single “Arsenal” pada bulan lalu. Lagu tersebut menjadi rilisan musik pertama mereka setelah tiga tahun tanpa materi baru.
Slipknot Nikmati Proses Kreatif Album Baru
Dalam wawancara tersebut, Casagrande mengungkapkan bahwa Slipknot saat ini tengah mengumpulkan banyak materi lagu. Meski belum bisa membocorkan detail lebih jauh, ia memastikan seluruh personel merasa puas dengan perkembangan musik yang telah mereka ciptakan.
“Kami sedang mengerjakan banyak lagu. Banyak sekali lagu,” ujar Casagrande, dikutip dari Music News pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Ia juga menggambarkan suasana di dalam band yang tengah berada dalam kondisi positif. Menurutnya, para personel menikmati setiap proses yang berlangsung di studio dan merasa antusias dengan materi baru mereka.
“Saya tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang sedang kami kerjakan di studio saat ini. Namun, yang bisa saya katakan adalah band ini sangat senang dengan musik yang sudah kami ciptakan sejauh ini. Semua orang sedang berada dalam suasana yang sangat baik,” lanjutnya.
Casagrande menegaskan bahwa Slipknot tidak ingin menjadikan pertimbangan komersial sebagai batasan dalam berkarya. Bagi mereka, membuat musik yang jujur dan bisa dibanggakan jauh lebih penting daripada menebak-nebak selera pasar.
“Kami melakukan apa yang menurut kami tepat saat ini dan berusaha tetap jujur kepada semua penggemar. Itu saja. Kami membuat musik yang benar-benar nyata, bukan memikirkan bisnis. Kami juga tidak memikirkan apakah orang-orang akan menyukainya atau tidak,” katanya.
Ia kemudian membandingkan pendekatan tersebut dengan sebagian musisi yang kerap memikirkan masa depan sebuah karya dari sisi komersial, termasuk peluang penjualan dan kesempatan tampil di arena besar. Slipknot, menurut Casagrande, justru memilih mengambil jalan berbeda.
“Sekarang ini, kita melihat banyak musisi yang terlalu memikirkan masa depan, apakah karya mereka akan laku atau tidak, serta apakah mereka bisa tampil di arena-arena besar. Apa yang kami lakukan justru sebaliknya,” ungkapnya.
“Kami hanya berfokus membuat sesuatu yang kami sukai dan bisa membuat kami bangga dengan apa yang sedang dikerjakan,” tambahnya.
Pengaruh Brasil Tetap Ada dalam Permainan Eloy
Selain membahas proses kreatif Slipknot, Casagrande turut menyinggung identitas musikalnya sebagai musisi asal Brasil. Ia merasa pengaruh musik dari negara kelahirannya akan selalu terbawa dalam permainan drumnya, termasuk ketika menggarap materi bersama Slipknot.
Mantan drummer Sepultura itu menganggap latar belakang musikalnya sebagai bagian dari karakter yang tidak bisa begitu saja dilepaskan.
“Saya hanya satu orang, jadi mustahil bagi saya untuk tidak membawa pengaruh Brasil ke dalam musik. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa saya hilangkan,” jelasnya.
Meski demikian, Casagrande menyadari pentingnya beradaptasi dengan karakter musik Slipknot. Ia berusaha menemukan keseimbangan antara mempertahankan identitas musikalnya dan menyesuaikan permainan dengan kebutuhan band.
“Tentu saja, saya tidak bermain seperti band Brasil pada umumnya. Saya terus berkembang agar bisa menyesuaikan diri dengan dunia Slipknot. Namun, saya tetap bisa mempertahankan DNA musikal dan mengekspresikan diri saya di dalam band ini,” tuturnya.
Jim Root: Slipknot Tak Ingin Mengulang Formula Lama
Pandangan Casagrande sejalan dengan pernyataan gitaris Slipknot, Jim Root, yang sebelumnya juga memberikan gambaran mengenai arah musik album mendatang. Root menegaskan bahwa band tidak ingin sekadar mengulang formula dari dua album awal mereka, Slipknot (1999) dan Iowa (2001).
Menurutnya, Slipknot justru tengah mencoba berbagai pendekatan baru untuk menemukan karakter musik yang sesuai dengan kondisi mereka saat ini.
“Kami benar-benar sedang bereksperimen dengan berbagai pendekatan musik. Jangan berharap akan ada album lain seperti Iowa atau album debut kami yang berjudul Slipknot. Kami sudah pernah melewati fase itu,” ujar Root.
Meski bereksperimen dengan berbagai pendekatan, Root mengaku merasakan suasana yang jujur dan autentik selama proses pengerjaan album. Atmosfer tersebut mengingatkannya pada masa-masa awal Slipknot ketika mereka mulai merekam musik bersama.
Namun, ia mengingatkan bahwa kesan tersebut tidak serta-merta menjadi gambaran mengenai hasil akhir album, baik dari segi karakter musik maupun produksinya.
“Suasananya terasa jujur dan autentik bagi saya. Ada sesuatu yang tidak biasa, sekaligus mengingatkan saya pada masa-masa awal kami melakukan rekaman. Namun, bukan berarti hal itu akan menentukan jenis musik yang sedang kami buat atau seperti apa nantinya suara dan produksinya,” tutup Root.