Selama ini, sosok Corey Taylor begitu lekat dengan Slipknot sebagai vokalis utama. Namun, jauh sebelum band tersebut mencapai kesuksesan global, Slipknot memiliki sosok vokalis pendiri bernama Anders Colsefni.
Sebelum menggunakan nama Slipknot, kelompok tersebut dibentuk Colsefni bersama Shawn "Clown" Crahan dan mendiang Paul Gray dengan nama The Pale Ones pada September 1995 di Des Moines, Iowa.
Pada masa awal perjalanan band, Colsefni memegang peran sebagai vokalis sekaligus pemain perkusi. Ia juga menjadi pengisi utama lini vokal dalam demo independen perdana Slipknot, Mate. Feed. Kill. Repeat., yang dirilis pada 1996.
Perubahan besar dalam posisi vokalis terjadi ketika Corey Taylor bergabung pada Mei 1997. Para personel Slipknot kala itu tertarik dengan karakter dan jangkauan vokal Taylor yang sebelumnya dikenal melalui band Stone Sour.
Colsefni kemudian memutuskan meninggalkan Slipknot pada September 1997. Kepergiannya terjadi ketika band mulai mengembangkan arah musik dan membuka peluang untuk mendapatkan kontrak dengan label besar, termasuk Roadrunner Records.
Kala itu, karakter vokal Colsefni yang lebih banyak mengandalkan teknik growl dinilai berbeda dengan kebutuhan Slipknot yang ingin menghadirkan vokal lebih dinamis, mulai dari scream dan growl hingga clean voice yang melodis.
Tak ingin sekadar menjadi personel pendukung dan merasa sudah tidak lagi sejalan dengan arah musikal band, Colsefni akhirnya memilih hengkang. Corey Taylor kemudian menjadi vokalis utama Slipknot hingga sekarang.
Di bawah komando Taylor, Slipknot kemudian melesat ke panggung internasional melalui album debut self-titled, Slipknot, yang dirilis pada 1999. Album tersebut menjadi titik penting yang mengantarkan band menuju kesuksesan global.
Meski tidak lagi menjadi bagian dari Slipknot, hubungan Colsefni dengan Taylor tetap terjalin baik. Ia bahkan beberapa kali membawakan lagu-lagu dari Mate. Feed. Kill. Repeat. secara langsung selama bertahun-tahun dengan dukungan Taylor.
Anders Colsefni Akui Lebih Cocok dengan Death Metal
Mengenang kembali masa ketika dirinya meninggalkan Slipknot dan melihat kesuksesan besar yang kemudian diraih band tersebut, Colsefni mengaku tidak terlalu mempermasalahkan keputusan yang terjadi pada masa lalu.
Slipknot formasi awal bersama Anders Colsefni (Foto: via Loaded Radio)
Dalam wawancaranya dengan The Phase Remains The Same, Colsefni menyadari bahwa karakter musiknya memang lebih dekat dengan death metal. Ia pun memahami bahwa arah musik Slipknot bersama Taylor membuka peluang yang lebih luas bagi band tersebut.
"Pada dasarnya gue ini vokalis death metal, dan mereka dapet kesempatan buat maju dan nyampe di posisi mereka yang sekarang," ungkap Colsefni.
Menurut Colsefni, karakter musik yang dibangun Slipknot bersama Taylor memungkinkan mereka menghasilkan lagu-lagu yang lebih mudah menjangkau pendengar arus utama.
"Mereka bisa bikin lagu-lagu yang masuk radio. Apa pun yang gue bikin gak bakal bisa masuk radio. Gue udah tahu dari awal," lanjutnya.
Kepergiannya dari Slipknot sempat memberikan dampak emosional bagi Colsefni. Namun, seiring waktu, ia mulai menerima kenyataan bahwa dirinya memang bukan sosok yang akan membawa band tersebut menuju popularitas seperti sekarang.
"Meski sempat bikin mental gue hancur sebentar, gue akhirnya sadar kalau gue cuma salah satu dari sekian banyak vokalis awal yang emang bukan sosok yang bikin bandnya terkenal," tutur Colsefni.
"Butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan itu, tapi akhirnya gue baik-baik aja. Bahkan sekarang pun gue nggak ada rasa penyesalan sama sekali," lanjutnya.
Colsefni juga tidak melihat pergantian vokalis tersebut sebagai sesuatu yang harus disesali. Baginya, keputusan memasukkan Taylor justru menjadi bagian dari perjalanan yang membuat Slipknot berkembang jauh lebih besar.
"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan berdasarkan situasi yang terjadi saat itu. Kalau memang harus membawa masuk vokalis lain agar band lokal yang dulu saya ikut bangun bisa berkembang dan memberikan pengaruh besar dalam sejarah musik, saya benar-benar tidak masalah dengan itu," ungkapnya.
Tetap Bermusik di Tengah Kehidupan Normal
Meski masih aktif bermusik, Colsefni kini tidak menjalani kehidupan sebagai musisi penuh waktu seperti sebagian besar personel Slipknot. Ia juga memiliki pekerjaan reguler dan mengaku menikmati kehidupan tersebut."Gue tidak menjalani gaya hidup rock and roll seperti mereka. Saya masih harus bekerja 40 sampai 60 jam seminggu, melakukan semua hal normal seperti kebanyakan orang, lalu mencari waktu untuk bermusik setelahnya. Tapi ya mayoritas orang emang gitu kan?" tuturnya.
Menurut Colsefni, kehidupan seperti itu justru menjadi realitas bagi sebagian besar musisi. Hanya segelintir orang yang akhirnya bisa menikmati kesuksesan besar dari musik sebagai profesi utama.
"Mayoritas musisi di luar sana juga menjalani kehidupan seperti itu. Cuma sedikit orang terpilih yang benar-benar dapet piala emas itu," tutupnya.