Gagasan untuk berkolaborasi pertama kali datang dari YB dan kemudian disampaikan melalui Boniex, vokalis for Revenge. Bagi for Revenge, proyek tersebut menjadi pengalaman istimewa sekaligus tantangan karena harus menyatukan karakter musikal mereka dengan YB dan Tepe dalam satu karya.
“Buat kami itu suatu kehormatan. Terlebih menyatukan for Revenge, YB, dan TePe dalam sebuah lagu menjadi tantangan tersendiri,” ungkap Boniex dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id.
Kehadiran Tepe dalam proyek ini juga bukan tanpa alasan. Sebelumnya, ia beberapa kali dipercaya tampil bersama for Revenge sebagai drummer. Intensitas pertemuan tersebut kemudian membuat hubungan personal mereka semakin dekat.
Boniex bahkan menilai peran Tepe cukup penting dalam mempertemukan for Revenge dengan YB. Dalam proses penggarapan “Museum Duka”, Boniex dan YB terlibat dalam penulisan lirik, sedangkan Tepe mengisi posisi drum. Aransemen lagu turut dikerjakan bersama Faisal Riant, yang sebelumnya juga terlibat dalam proyek for Revenge “I Miss You Every Brand New Day”.
Membicarakan Kehilangan Lewat “Museum Duka”
Proses kreatif “Museum Duka” berlangsung secara dinamis. Boniex mencoba menerjemahkan gagasan yang dibawa YB, sebelum keduanya mengembangkan tema mengenai kehilangan serta bagaimana seseorang menghadapi dan memproses rasa duka.Menurut Boniex, setiap orang memiliki ruang personal untuk menyimpan kenangan tentang seseorang maupun masa lalu yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.
“Setiap orang punya ‘Museum Duka’-nya masing-masing. Setiap orang punya ruangan untuk menyimpan cerita, wajah, dan versi diri yang pernah kita kenal begitu dalam,” ujar Boniex.
YB pun memiliki pandangan serupa. Baginya, “Museum Duka” merupakan gambaran mengenai tempat personal yang dimiliki setiap manusia untuk menyimpan sosok atau kenangan yang telah pergi.
Tempat tersebut bisa berupa hati, sebuah ruangan, hingga benda-benda yang masih disimpan sebagai pengingat. Ketika rasa rindu kembali muncul, seseorang seolah akan kembali mengunjungi “museum” tersebut untuk mengenang apa yang pernah ada.
“Lagu ini bukan cuma tentang gue, bukan cuma tentang for Revenge. Kami berusaha mewakili mereka yang juga merasa kehilangan,” tutur YB.
Kolaborasi ini sekaligus menjadi pengalaman baru bagi YB. Untuk pertama kalinya, ia bernyanyi menggunakan bahasa Indonesia dalam sebuah karya kolaborasi bersama band.
Karakter vokal YB memberikan warna tersendiri dalam musik for Revenge. Sementara itu, permainan drum Tepe menjadi elemen penting yang memperkuat perpaduan karakter musikal ketiganya dalam “Museum Duka”.
Lewat lagu ini, for Revenge, YB, dan Tepe tidak ingin mengajak pendengar untuk melupakan kehilangan. Sebaliknya, mereka ingin mengajak pendengar berdamai dengan duka dan menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup.
“Duka bukan tentang melupakan, melainkan tentang belajar melepaskan tanpa harus berhenti mengenang,” tutup Boniex.
Bagi Sobat Medcom yang penasaran dengan kolaborasi terbaru for Revenge, YB, dan Tepe, single “Museum Duka” kini sudah dapat didengarkan di berbagai platform musik digital.