Joe Jonas (Foto: Instagram/joejonas)
Joe Jonas (Foto: Instagram/joejonas)

Joe Jonas Jalani Terapi Mental Usai Album Solonya Gagal

Rafi Alvirtyantoro • 06 Agustus 2026 23:32
Ringkasnya gini..
  • Joe Jonas merasa gagal setelah album solo perdananya, Fastlife, tidak mencapai target ekspektasi.
  • Tekanan emosional memicu serangan panik dan keluhan fisik hingga disarankan menemui terapis.
  • Konsultasi kesehatan mental membantu Joe Jonas melewati masa sulit dan fase berat dalam hidupnya.
Jakarta: Penyanyi Joe Jonas membagikan kisah tentang "kegagalan" dalam kariernya di industri musik hingga harus menjalani terapi untuk mengatasinya.
 
Dalam episode terbaru siniar Hey Jonas!, para anggota Jonas Brothers duduk bersama membagikan kisah seputar kesuksesan dan tantangan tumbuh besar di tengah popularitas sebuah grup musik ternama. Salah satunya adalah Joe.
 
Ia mengatakan bahwa album solo perdananya, Fastlife (2011), tidak sesuai dengan harapan. Hal ini membuatnya merasa gagal sebagai penyanyi hingga menjalani terapi.

"Alasan saya mulai menjalani terapi adalah saat pertama kali merasakan apa yang disebut 'gagal'," kata Joe Jonas, dikutip dari saluran YouTube Jonas Brothers, pada Kamis, 6 Agustus 2026.
 
"Saya merilis album solo saat berusia 21 atau 22 tahun, dan hasilnya tidak sesuai harapan,” lanjutnya.

Ekspektasi Tinggi dan Kegagalan Album Solo

Popularitas besar Jonas Brothers awalnya dianggap sebagai bekal untuknya bersolo karier. Namun ternyata, hasilnya tidak sesuai dengan harapan.
 
“Padahal saat itu, apa pun yang disentuh Jonas Brothers selalu sukses besar. Kami terbiasa langsung menduduki peringkat pertama,” tutur Joe.
 
Jonas Brothers diketahui memang telah meraih kesuksesan sejak debut pada tahun 2006. Sebanyak 26 lagu mereka berhasil masuk tangga lagu Billboard Hot 100, dan delapan album sukses menembus 10 besar Billboard 200.
 
Joe menjelaskan bahwa salah satu tujuan solo kariernya adalah sebagai pembuktian bahwa dirinya bisa melangkah tanpa bayang-bayang saudaranya.
 
"Saya merilis karya sendiri dan memiliki ekspektasi yang sangat tinggi untuk sukses tanpa kalian. Di dalam hati, hal itu terasa begitu krusial. Saya merasa, 'Jika berhasil membuktikannya, barulah keberadaan saya diakui’,” jelas Joe.

Beban Emosional dan Awal Mula Menjalani Terapi

Beban emosional yang dirasakan oleh Joe membuatnya mulai mengalami serangan panik dan rasa sakit yang tak kunjung hilang. Bahkan, ia sampai bolak-balik berkonsultasi ke dokter.
 
Setelah menjalani berbagai pemeriksaan medis, seorang dokter memastikan kondisinya baik-baik saja secara fisik dan menyarankannya untuk berkonsultasi ke terapis. Walaupun saat itu Joe sempat mengabaikannya.
 
“Saat itu saya berpikir, 'Maksudnya terapis? Saya tidak butuh terapis. Untuk apa saya ke terapis?',” tanyanya.
 
Untuk mengatasi tekanan mental tersebut, Joe bersepeda berjam-jam mengelilingi kota New York, Amerika Serikat, tanpa membawa ponsel agar terhindar dari komentar negatif soal albumnya.
 
Hingga akhirnya, Joe mengikuti sesi terapi sesuai dengan saran dokter sebelumnya. Ia pun menyadari betapa ia sangat membutuhkannya.
 
"Saya akhirnya berkonsultasi dengan seseorang. Pada sesi pertama, saya menghabiskan waktu satu jam hanya untuk menangis saat menjawab pertanyaan awal, dan dari situ saya menyadari betapa besarnya manfaat terapi,” ujar Joe.
 
Menurutnya, terapi sangat membantunya untuk melewati masa-masa sulit tersebut, termasuk saat menghadapi berbagai fase besar dalam hidupnya selanjutnya.
 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA