Jakarta: Popularitas lagu “Sesi Potret” yang kembali meroket membuat banyak orang ramai menggunakannya pada platform TikTok. Lagu yang dipopulerkan oleh enau dan Ari Lesmana ini memiliki tone dan atmosfer yang sendu sehingga membuat para pendengar merasa sedih tiap kali mendengarnya.
Namun, sebenarnya apa sih makna dari lagu tersebut sampai bikin banyak orang menangis?
Lirik Lagu Sesi Potret
Sebelum kita bedah makna lagunya, ada baiknya kita simak dulu lirik dari lagu sedih yang viral ini, yuk!
Tahun lalu berjuta alasanku
Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan
Kali ini sudah lumayan
Berkat doamu di ijabah sang maha kaya
Dan tahun ini kubisa pulang
Oleh-oleh sudah ditangan
Tapi anehnya bukan kau yang menyambutku
Oh ternyata kau yang lebih dulu pulang
Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu
Ho-ho-ho-ho
Sesi potret yang selalu ku benci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisannya tak sama lagi
Oh ho ho satu dua tiga
Ini nyata kau telah pergi
Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Sesal hatiku tak sempat temani kamu
Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Masih sangat amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu
Kehilanganmu
Makna Dibalik Lirik yang Mengiris Hati
Dinyanyikan oleh kakak beradik enau (Putra Lesmana) dan Ari Lesmana, lagu yang bernuansa sendu dan sedih ini meroket cepat terutama pada platform TikTok. Melalui rilisan sebelumnya, enau memang terkenal dengan lagu yang memiliki makna realistis dan jujur.
Dalam Sesi Potret, enau mengisahkan perjalanan seorang perantau yang pulang membawa hasil, namun bukannya hangat yang didapat, melainkan kepergian orang tercinta yang sudah berpulang ke “rumah baru” yang hanya memiliki “papan nama.”
Sesi Potret menjadi wadah ungkapan kejujuran, penerimaan, proses berdamai dengan perasaan duka atas kepergian sosok yang dicintai. Terlebih dalam lagu ini disiratkan pula bahwa sang tokoh merasakan sedikit penyesalan karena memiliki gengsi yang terlalu tinggi untuk mengungkap rasa cinta dan kasih sayangnya kepada orang yang kini telah berpulang.
Tak heran jika banyak pendengar yang merasa terwakili dengan hadirnya lagu ini. Interpretasi yang diciptakan dipadu dengan aransemen mewah semakin menggugah hati dan mustahil tidak mengeluarkan air mata saat mendengar lagu ini.
Dalam wawancaranya bersama Pilaradio, enau mengungkapkan bahwa lagu ini hadir karena perasaan rindunya karena jauh dari kedua orang tuanya yang saat ini menetap di Pekanbaru, Riau. Lagu ini sekaligus menjadi pengingat bagi para khalayak pendengar untuk selalu mengungkapkan rasa sayangnya kepada semua orang yang dicintainya sebelum akhirnya hanya nisan di gundukan tanah yang ia ajak bicara.
(Vira Farhatul Maula)