Massive Attack (Foto: Instagram @massiveattackofficial)
Massive Attack (Foto: Instagram @massiveattackofficial)

Sindir Ed Sheeran Soal Palestina, Massive Attack: Netral di Tengah Pembantaian Bikin Malu

Basuki Rachmat • 17 September 2026 12:31
Ringkasnya gini..
  • Massive Attack mengkritik keras sikap netral Ed Sheeran terkait isu Palestina.
  • Grup trip-hop Inggris ini menilai tidak ada posisi netral di tengah krisis kemanusiaan.
  • Massive Attack menegaskan dukungan penuh bagi seniman yang berani bersuara membela Palestina.
Jakarta: Band trip-hop asal Inggris, Massive Attack, turut angkat suara mengenai polemik rapper Macklemore yang dicoret dari rangkaian tur konser dunia Ed Sheeran. Massive Attack yang selama ini dikenal vokal menyuarakan dukungan terhadap Palestina menyoroti sikap Ed Sheeran yang menyebut dirinya berada di posisi netral dalam isu politik.

Sebelumnya, Macklemore dijadwalkan menjadi salah satu penampil pembuka dalam Loop Tour milik Ed Sheeran. Namun, rapper tersebut kemudian tidak lagi masuk dalam daftar penampil untuk delapan konser berikutnya.

Keputusan itu menjadi sorotan setelah Macklemore beberapa kali menyuarakan dukungannya terhadap Palestina. Ia bahkan sempat menyerukan "Free Palestine" dan membawakan lagu protes "Hind's Hall" ketika tampil dalam dua konser Ed Sheeran di MetLife Stadium, New Jersey.

Polemik tersebut kemudian semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Ed Sheeran akhirnya memberikan penjelasan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia menegaskan bahwa dirinya memilih bersikap netral dan tidak ingin panggung konser digunakan sebagai ruang untuk menyampaikan pandangan politik.
 
Pernyataan tersebut kembali menjadi sorotan setelah sejumlah musisi lain yang terlibat dalam rangkaian konsernya, seperti Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, serta band pengiring Beoga, juga disebut tidak lagi melanjutkan keterlibatan mereka.

"Ada alasan kenapa saya tidak menggunakan platform profesional saya untuk membicarakan politik. Penonton saya berasal dari berbagai latar belakang, termasuk banyak anak muda dan bahkan anak-anak. Orang-orang yang datang ke pertunjukan saya tidak mengharapkan tempat tersebut menjadi forum politik," tulis Ed Sheeran.

Ia kemudian menjelaskan bahwa dirinya ingin menjadikan konser sebagai ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh penonton, tanpa menjadikannya sebagai tempat untuk menyampaikan pandangan politik tertentu.

"Saya memilih menggunakan ketenaran dan platform yang saya miliki sebagai ruang yang aman dan nyaman, sekaligus menjaga diplomasi dan memastikan percakapan tetap terbuka, bukan justru tertutup. Kalau kita hanya fokus pada siapa yang bisa berteriak paling keras, tidak akan ada yang berubah. Ada banyak cara untuk menjadi bagian dari perjuangan menuju perubahan," tutupnya.
   

Tanggapan Massive Attack

Pernyataan Ed Sheeran tersebut kemudian mendapat respons dari Massive Attack. Melalui unggahan di akun Instagram resmi mereka, grup yang digawangi Robert Del Naja dan kawan-kawan itu mempertanyakan makna sikap netral ketika konflik dan krisis kemanusiaan di Palestina masih berlangsung.

Massive Attack menilai sikap netral dalam situasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari kondisi yang mereka sebut sebagai pembantaian terhadap warga Palestina. Mereka juga menyoroti persoalan kebebasan seniman dalam menyampaikan sikap dan aspirasi melalui panggung yang mereka miliki.

“'Netral' di tengah pembantaian lebih dari 20 ribu anak tidak akan pernah bisa disebut sebagai sikap netral. Tidak ada seniman yang seharusnya membiarkan seniman lain disensor, berapa pun nilai uang yang dipertaruhkan," tulis Massive Attack di Instagram.

Mereka juga menyinggung peran negara, perusahaan, dan media yang dinilai turut menciptakan situasi ketika sejumlah seniman merasa tertekan untuk tidak bersuara mengenai isu Palestina.

"Rangkaian pembungkaman oleh negara, perusahaan, dan media yang memungkinkan genosida terjadi kini berusaha memaksa para seniman dan aktor ternama untuk ikut bungkam," lanjut mereka.

Massive Attack kemudian menegaskan dukungannya kepada para seniman yang tetap menyuarakan persoalan Palestina meski harus menghadapi konsekuensi terhadap karier mereka.

"Kami berdiri bersama seluruh seniman yang mempertaruhkan karier mereka demi membela hak-hak rakyat Palestina, serta menentang pendudukan ilegal, apartheid, kejahatan perang, dan genosida yang terus dilakukan oleh Negara Israel. Free Palestine!" tutup Massive Attack.
 

Massive Attack Konsisten Suarakan Dukungan untuk Palestina

Sikap Massive Attack tersebut sejalan dengan sejumlah aksi yang sebelumnya mereka lakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina.

Pada 29 Juli 2026, Massive Attack bahkan sempat berurusan dengan kepolisian Singapura setelah mengibarkan bendera Palestina ketika tampil dalam sebuah konser. Aksi tersebut menjadi bagian dari sikap mereka yang selama ini terbuka dalam menyuarakan dukungan terhadap rakyat Palestina.

Vokalis sekaligus pendiri Massive Attack, Robert Del Naja, juga pernah diamankan aparat kepolisian Inggris ketika mengikuti demonstrasi pro-Palestina di Trafalgar Square, London, pada Sabtu, 11 April 2026.

Del Naja disebut menjadi salah satu dari sekitar 500 demonstran yang diamankan dalam aksi tersebut. Ia diduga memberikan dukungan terhadap Palestine Action, organisasi yang telah dinyatakan terlarang oleh otoritas setempat.

Polemik antara Macklemore dan Ed Sheeran ini pun kembali memperlihatkan perdebatan mengenai posisi seniman dalam menyuarakan isu politik dan kemanusiaan melalui panggung musik. Di satu sisi, Ed Sheeran memilih menjadikan konser sebagai ruang yang tidak berfokus pada politik. Sementara itu, Massive Attack dan sejumlah seniman lainnya melihat panggung sebagai salah satu medium untuk menyampaikan sikap terhadap persoalan kemanusiaan.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA