Lagu-lagu tersebut diketahui menggunakan teknologi deepfake untuk meniru suara musisi papan atas dunia, mulai dari Beyoncé, Queen, Bad Bunny, Miley Cyrus, hingga Harry Styles.
Ironisnya, lagu-lagu deepfake ini seringkali menyamar sebagai karya asli dan mengecoh kita sebagai para pendengar di layanan streaming.
Sony Music menegaskan bahwa menjamurnya karya tiruan ini memberikan dampak kerugian komersial secara langsung bagi para musisi. Hal ini sangat terasa bagi mereka yang tengah melakukan promosi album atau single terbaru.
Dennis Kooker, Presiden Bisnis Digital Global Sony, mengungkapkan bahwa dalam skenario terburuk, konten deepfake ini berpotensi merusak kampanye rilis lagu hingga mencoreng reputasi sang artis.
"Masalah utama dari deepfake adalah mereka memanfaatkan momentum. Mereka mengambil keuntungan saat seorang artis sedang gencar mempromosikan musiknya," ujar Kooker, dikutip dari BBC pada Kamis, 19 Maret 2026.
Menurutnya, konten palsu ini sengaja diciptakan untuk menyerap "permintaan" pasar yang sudah dibangun oleh artis asli, sehingga hasil akhirnya justru mengurangi pencapaian yang seharusnya didapatkan oleh musisi.
"Di situlah deepfake berada pada titik terburuknya, membangun dan mengambil keuntungan dari permintaan yang diciptakan artis, dan akhirnya mengurangi apa yang ingin dicapai oleh artis tersebut," lanjut Kooker.
Fenomena ini memicu desakan dari industri musik dunia agar platform streaming raksasa seperti Spotify, YouTube, dan Apple Music menerapkan regulasi yang lebih ketat.
Data dari IFPI (Federasi Internasional Industri Fonograf) memperkirakan sekitar 10% konten di platform streaming saat ini merupakan konten ilegal atau hasil manipulasi.
CEO IFPI, Victoria Oakley, menekankan pentingnya penggunaan alat identifikasi otomatis untuk melabeli musik buatan AI sejak proses unggah (upload).
Ia juga memberikan apresiasi kepada platform asal Prancis, Deezer, yang dinilai selangkah lebih maju karena sudah memiliki perangkat lunak pendeteksi AI.
"Tantangan untuk mengidentifikasi dan melabeli materi AI adalah tantangan kritis berikutnya bagi industri ini," ungkap Oakley.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News