Danilla (Foto: Medcom)
Danilla (Foto: Medcom)

Danilla Sempat Ingin Berhenti Bermusik, Album Candramawa Nyaris Jadi Karya Terakhir

Basuki Rachmat • 06 Juni 2026 13:13
Ringkasnya gini..
  • Danilla Riyadi mengaku sempat ingin berhenti bermusik saat menggarap album Candramawa, namun dukungan penggemar membuatnya bertahan.
  • Album Candramawa menjadi karya paling personal Danilla, berisi refleksi tentang luka, ketakutan, dan perjalanan berdamai dengan masa lalu.
  • Candramawa hadir dengan kolaborasi musisi ternama serta tribute emosional untuk mendiang Gusti Irwan Wibowo di lagu Dasawarsa.
Jakarta: Penyanyi sekaligus penulis lagu, Danilla Riyadi, kembali menyapa telinga para pencinta musik Tanah Air. Kali ini, ia meluncurkan karya teranyarnya berupa album studio penuh keempat bertajuk Candramawa, yang resmi mengudara di seluruh platform musik digital pada Jumat, 5 Juni 2026.
 
Candramawa sendiri merupakan repertoar album berisikan 8 trek dari Danilla yang mengisahkan tentang bagaimana seorang manusia yang menyambangi luka-luka dan ketakutannya di masa lampau, lalu bersahabat   dengannya.
 
Namun di balik lahirnya Candramawa, tersimpan cerita yang cukup personal bagi Danilla. Musisi berusia 35 tahun itu mengaku sempat berada di titik jenuh hingga mempertimbangkan untuk mengakhiri perjalanan kariernya di industri musik.

Pengakuan tersebut disampaikannya saat menjadi bintang tamu dalam episode terbaru siniar Shindu's Scoop. Danilla mengungkapkan bahwa selama proses pengerjaan album, ia berkali-kali dihantui keinginan untuk berhenti bermusik.
 
"Gue kalau boleh jujur ya, di dunia musik yang bisnis lah ibaratnya, sebenarnya ada sih rasa gue kayak, 'Aduh, gue capek deh pengen berhenti," ujar Danilla.
Meski demikian, pelantun hit "Berdistraksi" itu mengaku masih ingin menyelesaikan satu karya yang benar-benar dibuat tanpa beban sebelum mengambil keputusan besar tersebut.
 
"'Tapi sebelum berhenti, gue mau bikin dulu deh terakhir nih gitu, buat senang-senang aja'. Next-nya mungkin gue kalau bikin lagu, gue pengin bikin lebih senang-senang lagi yang emang, 'Ah, bodo amat.' Mungkin gue tiba-tiba rilis aja, terus kayak cuma jadi archiving gue doang gitu lho. Karena emang gue suka bikin musik dan nyanyi aja, tapi bukan berarti kayak, 'Oh ini bisa gue panggungin nih,'" lanjutnya.
 
Danilla mengaku rasa lelah itu datang tanpa alasan yang benar-benar bisa ia jelaskan. Bahkan, perasaan tersebut sempat membuatnya berbicara serius dengan sahabat sekaligus produser yang telah lama mendampinginya, Lafa Pratomo dan Otta Tarrega.
 
​"Awalnya ada mikir kayak gitu. Enggak tahu kenapa tiba-tiba ada titik yang kok gue capek banget ya. Bahkan gue juga udah bilang ke Lafa, 'Fa, gue kayaknya pengin berhenti deh'. Terus Otta juga kayak, 'Ci, jangan Ci'," tuturnya dengan nada getir.
 
Bertekad Bulat Ingin Berhenti, Namun Terselamatkan oleh Sapaan Penggemar
Menurut Danilla, proses pengerjaan Candramawa memakan waktu yang tidak singkat. Secara teknis album tersebut digarap selama dua tahun, sementara proses kreatifnya telah berlangsung hampir tiga tahun.
 
Selama periode tersebut, pikiran untuk meninggalkan dunia musik terus muncul berulang kali di benak kepala Danilla. 
 
"Selama tiga tahun ini, gue tuh udah selalu berpikir kayak, 'Gue berhenti ah, gue berhenti ah, gue malas ah, gue berhenti.' Nggak tahu kenapa," ungkapnya.
 
Namun, setiap kali niat tersebut semakin menguat, selalu ada momen sederhana yang membuat Danilla kembali mengurungkan keputusan tersebut. Salah satunya ketika Danilla bertemu dengan para Penelisik (sebutan fans) yang secara spontan menyampaikan apresiasi terhadap karya-karyanya.
 
"Tapi tiap kali ada pemikiran kayak gitu, lagi jalan gitu tiba-tiba ada aja orang kayak, 'Cici! Aku senang dengerin lagu Cici'. Gue nggak tahu sih kalau gue bikin lagu baru mereka dengar atau nggak, tapi gue mau mikirin mereka loh gitu. Akhirnya nggak jadi," ujar Danilla.
 
Bagi Danilla, dukungan yang datang dari para Penelisik menjadi alasan terbesar yang membuatnya tetap bertahan hingga hari ini.
 
"Ada aja yang giliran gue udah bulat nih, kayak udah mau bulat sempurna untuk berhenti, selalu ada aja orang yang datang ke gue. Mungkin salah satu alasan gue nggak berhenti bermusik adalah orang-orang itu sih," pungkasnya.

Gandeng Bilal Indrajaya Hingga Selipkan Tribute untuk Gusti Irwan Wibowo 

Dalam menggarap fondasi musik Candramawa, Danilla kembali mempercayakan kursi produser, penulisan lirik, hingga aransemen kepada dua sahabat setianya, Lafa Pratomo dan Otta Tarrega.
 
Tak berjuang sendiri, album ini juga diramaikan oleh deretan kolaborator sangar di lini vokal, mulai dari Bilal Indrajaya, hara (proyek solo Rara Sekar), hingga Sandrayati. Sementara pada sektor instrumen, Danilla dibantu oleh Enrico Octaviano (Lomba Sihir), Bembi Gusti, dan Edward Manurung pada drum, Billy Saleh pada gitar, serta Iskandar pada lini bass.
 
Salah satu momen paling emosional dalam album ini terletak pada trek ketujuh yang bertajuk "Dasawarsa". Lagu tersebut mengikutsertakan sumbangsih dari almarhum musisi Gusti Irwan Wibowo yang bertindak sebagai co-producer. 
 
Sebelum berpulang, mendiang Gusti sempat mengisi departemen suara ukulele, synthesizer, serta mengisi vokal latar.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA