Candramawa sendiri merupakan repertoar album berisikan 8 trek dari Danilla yang mengisahkan tentang bagaimana seorang manusia yang menyambangi luka-luka dan ketakutannya di masa lampau, lalu bersahabat dengannya.
Sebagai pemanasan, Danilla telah merilis dua nomor pembuka, yakni "Lembar Biru" pada 31 Desember 2025 dan "Pertunjukan Terakhir" pada 13 April 2026 lalu, sebelum album penuhnya resmi mengudara pada 5 Juni 2026 mendatang.
Baca Juga :
Kejutan! Drake Rilis Tiga Album Baru Sekaligus
Sesi Dengar Imersif Berkonsep Multisensori
Medcom.id sendiri pun mendapatkan kesempatan secara langsung untuk hadir di acara sesi dengar (listening session) bertajuk Sebuah Pengantar Candramawa yang digelar di Warung Fotkop, Jakarta Selatan, pada Minggu, 17 Mei 2026.Lain dari sesi-sesi dengar musisi atau band yang pernah Medcom.id kunjungi, Danilla bersama tim menyuguhkan pengalaman baru yang sinematik dan imersif. Para tamu undangan disuguhkan visualisasi lewat video-mapping, sementara audio dialirkan secara jernih melalui wireless headphone yang telah disediakan.
Pengalaman multisensori ini kian lengkap dengan adanya elemen interaktif dari goodie bag yang dibagikan saat registrasi. Pengunjung diajak duduk santai di atas bean bag berselimut hangat, menikmati aroma parfum khusus yang disediakan untuk membangun atmosfer lagu, serta membaca buklet berisi lirik sembari menikmati minuman yang disediakan.
Alasan Album Candramawa Digarap di Yogyakarta
Dalam sesi konferensi pers usai mendengarkan album, Danilla mengungkapkan bahwa proses produksi dan rekaman Candramawa berlangsung sepanjang tahun 2024 hingga 2025 di dua kota, yakni Jakarta dan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.Ia pun membeberkan alasan menarik di balik keputusannya memboyong proses kreatif ini ke daerah yang dijuluki sebagai "Kota Pelajar" tersebut.
"Hidupnya lebih murah untuk kita bawa teman-teman kita. Terus yang kedua, kebetulan kakekku juga lahir di sana," ungkap Danilla.
"Ini pertama kali sebetulnya kita tuh workshop di luar kota, tapi yang namanya band indie ya jangan yang mahal-mahal dong. Gitu, kalau bisa di bawah Jakarta nih budget-nya," lanjutnya.
Ia juga menerangkan bahwa tim yang berangkat ke Yogyakarta untuk proses penggarapan album berjumlah 5 orang, termasuk bersama Danilla.
"Akhirnya kita bertiga, bawa Nawan untuk dokumentasi, sama Andifa untuk senang-senang. Jadi kita mau mengambil suasana slow living-nya juga sih, lebih tepatnya ke sana gitu," tutur Danilla.
Sambil berseloroh, Otta Tarrega menambahkan bahwa mereka sempat bermimpi untuk melakukan workshop di luar negeri sebelum akhirnya realistis dengan anggaran yang ada.
"Tadinya pengennya ke Iceland cuma budget-nya nggak ada, jadi Jogja aja deh gitu," timpal Otta yang disambut dengan gelak tawa.
Perjalanan satu minggu menggunakan kereta menuju Yogyakarta tersebut berbuah manis. Dengan target awal satu hari satu lagu, tim kreatif yang terdiri dari Danilla, Otta Tarrega, dan Lafa Pratomo berhasil merampungkan enam lagu hanya dalam waktu enam hari.
"Kita di sana tujuh hari, akhirnya dari tujuh hari kita jadi enam lagu, karena di hari ketujuhnya ya sudah senang-senang saja. Kayak sudah overachieved gitulah rasanya waktu itu," ungkap Lafa Pratomo.
Baca Juga :
Hans Zimmer Ternyata Nge-Fans Sama Raye
Gandeng Sejumlah Kolaborator
Dalam menggarap fondasi musik Candramawa, Danilla kembali mempercayakan kursi produser, penulisan lirik, hingga aransemen kepada dua sahabat setianya, Lafa Pratomo dan Otta Tarrega.Tak berjuang sendiri, album ini juga diramaikan oleh deretan kolaborator sangar di lini vokal, mulai dari Bilal Indrajaya, hara (proyek solo Rara Sekar), hingga Sandrayati. Sementara pada sektor instrumen, Danilla dibantu oleh Enrico Octaviano (Lomba Sihir), Bembi Gusti, dan Edward Manurung pada drum, Billy Saleh pada gitar, serta Iskandar pada lini bass.
Salah satu momen paling emosional dalam album ini terletak pada trek ketujuh yang bertajuk "Dasawarsa". Lagu tersebut mengikutsertakan sumbangsih dari almarhum musisi Gusti Irwan Wibowo yang bertindak sebagai co-producer.
Sebelum berpulang, mendiang Gusti sempat mengisi departemen suara ukulele, synthesizer, serta mengisi vokal latar.
"Dan memang karena albumnya juga delapan track, jadi tujuh lagu kita kerjain di sana (Yogyakarta), satu lagu lagi kita aransemennya sama Almarhum Gusti gitu, barengan sama anak-anak juga, dia co-producer," tutup Danilla.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News