Tantowi Yahya dan band bersama Menbud Fadli Zon (Foto: instagram)
Tantowi Yahya dan band bersama Menbud Fadli Zon (Foto: instagram)

Tantowi Yahya Bakal Kenalkan Kekayaan Musik Indonesia ke Eropa

Elang Riki Yanuar • 20 Agustus 2026 10:00
Ringkasnya gini..
  • Tantowi Yahya membawa musik daerah Indonesia ke Norwegia, Spanyol, dan Belanda lewat tur yang mengusung misi diplomasi budaya.
  • Tantowi Yahya dan Thomshell Band menyasar diplomat, pebisnis, serta komunitas asing untuk memperkenalkan kekayaan musik Nusantara di Eropa.
  • Lewat Strings of Equator, Tantowi Yahya tak hanya mengenalkan musik Indonesia, tetapi juga mempromosikan pariwisata dan peluang investasi.
Jakarta: Musisi senior Tantowi Yahya bersama Thomshell Band akan membawa musik Indonesia ke sejumlah negara Eropa melalui program Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia. Rangkaian pertunjukan tersebut akan berlangsung pada 24 Agustus hingga 7 September 2026.
 
Tur ini tidak hanya dirancang sebagai pertunjukan musik. Tantowi dan Thomshell Band juga membawa misi diplomasi budaya dengan memperkenalkan potensi pariwisata serta peluang investasi Indonesia kepada masyarakat internasional.
 
Norwegia, Spanyol, dan Belanda menjadi tiga negara yang akan menjadi tujuan rangkaian Strings of Equator. Pertunjukan tersebut secara khusus menyasar audiens warga negara asing, terutama kalangan diplomatik, pebisnis, dan komunitas internasional.

Mantan Duta Besar itu mengatakan bahwa pemilihan penonton menjadi salah satu perhatian utama dalam program yang difasilitasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana. Menurutnya, pertunjukan budaya akan lebih efektif jika dapat menjangkau masyarakat internasional secara langsung.
 
"Menteri Kebudayaan Pak Fadli Zon berpesan bahwa promosi budaya tidak akan efektif jika disajikan di hadapan masyarakat Indonesia sendiri. Oleh karena itu, penonton yang hadir di Oslo dan Den Haag disaring sangat ketat,” kata Tantowi di Jakarta.
 
“Kami memastikan seluruh audiens berasal dari korps diplomatik, kalangan pebisnis internasional, dan komunitas asing," sambungnya.
 
Perjalanan Strings of Equator akan dimulai dari Oslo, Norwegia, pada 24 Agustus 2026. Tantowi dan Thomshell Band dijadwalkan tampil di Victoria National Jazz Scene dalam acara yang digelar oleh KBRI Oslo dengan sekitar 200 tamu undangan terpilih dari kalangan diplomatik.
 
Setelah Norwegia, rombongan akan melanjutkan perjalanan ke Spanyol. Pertunjukan akan berlangsung di Hotel Indalo Park Santa Susanna pada 28 Agustus, 31 Agustus, dan 1 September 2026.
 
Berbeda dengan agenda di Oslo, rangkaian pertunjukan di Spanyol akan dikemas dengan konsep komersial. Acara tersebut diperkirakan mampu menarik sekitar 1.500 hingga 2.000 penonton.
 
Belanda kemudian menjadi tujuan terakhir dalam rangkaian tersebut. Puncak acara akan digelar melalui resepsi diplomatik di Wisma Duta RI Den Haag pada 4 September dengan target sekitar 2.000 undangan.
 
Selama sekitar satu jam di atas panggung, Tantowi dan Thomshell Band akan menyuguhkan aransemen lagu-lagu daerah dari berbagai wilayah Indonesia. Repertoar tersebut disusun untuk memperlihatkan luasnya keragaman musik Nusantara.
 
Pilihan lagu dalam pertunjukan dibagi berdasarkan tiga zona waktu yang juga menggambarkan perjalanan akulturasi budaya di Indonesia. Musik Indonesia Barat akan mendapatkan sentuhan Melayu dan Arab, sedangkan Indonesia Tengah menghadirkan karakter pentatonik Jawa serta pengaruh keroncong Portugis.
Sementara itu, kekayaan musik Indonesia Timur akan ditampilkan melalui irama yang memiliki karakter khas kawasan Pasifik, termasuk pengaruh Melanesia dan Polinesia. Konsep tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai keberagaman budaya Indonesia kepada penonton Eropa.
 
Tantowi juga tidak hanya mengandalkan musik sebagai alat diplomasi. Di sela-sela pertunjukan, ia akan menyampaikan sejumlah informasi mengenai destinasi wisata unggulan Indonesia sekaligus peluang investasi yang dapat menarik perhatian audiens internasional.
 
"Melalui 'Strings of Equator', kami ingin menyampaikan bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa, tetapi juga mitra strategis yang siap berdialog dengan dunia. Kami menjual aransemen musik daerah dan storytelling agar stigma negatif tentang Indonesia tereliminasi," ujar Tantowi.
 
Menurut Tantowi, kombinasi pertunjukan musik dan storytelling dapat menjadi pendekatan untuk membangun persepsi yang lebih positif mengenai Indonesia. Musik digunakan sebagai pintu masuk sebelum audiens diperkenalkan dengan berbagai potensi Indonesia lainnya.
 
Penampilan di Santa Susanna juga memiliki arti tersendiri bagi Tantowi. Tahun ini menjadi tahun ketiga secara berturut-turut dirinya tampil di wilayah tersebut, yang menunjukkan adanya apresiasi dan kepercayaan dari audiens internasional terhadap program diplomasi budaya Indonesia.
 
Selain memperkenalkan kekayaan seni dan budaya, rangkaian Strings of Equator diharapkan dapat mendorong minat wisatawan Eropa untuk berkunjung ke Indonesia. Promosi juga diarahkan untuk memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang terbuka terhadap kerja sama dan memiliki peluang investasi.
"Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana, BRI, Pertamina, dan Yayasan Kesetiakawanan dan Keadilan Sosial menjadi penanda penting bahwa diplomasi budaya Indonesia kini dijalankan dengan dukungan ekosistem yang utuh dari pemerintah, sektor korporasi, sektor sosial, dan pelaku seni profesional. Inilah model diplomasi yang berkelanjutan dan dapat direplikasi," tutupnya.
 

 

 

 

 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA