Para anggota Wu-Tang Clan. (Foto: instagram/wutangclan)
Para anggota Wu-Tang Clan. (Foto: instagram/wutangclan)

Netflix Beli Dokumenter Wu-Tang Clan: Bahas Album Musik Termahal

Agustinus Shindu Alpito • 20 Agustus 2026 16:55
Ringkasnya gini..
  • Netflix mengakuisisi dokumenter The Disciple karya Joanna Natasegara yang mengulas perjalanan Cilvaringz di lingkaran Wu-Tang Clan.
  • Film ini mengungkap proses balik layar album Once Upon a Time in Shaolin yang dibuat sebagai bentuk protes terhadap era digital.
  • Hanya dibuat satu salinan, album fisik ini laku USD 2 juta, sempat disita pemerintah AS, lalu dibeli kolektif kripto seharga USD 4 juta.
Jakarta: Netflix secara resmi mengakuisisi hak tayang global untuk film dokumenter "The Disciple: A Wu-Tang Fable". Film yang disutradarai oleh pemenang Academy Award, Joanna Natasegara, dijadwalkan tayang perdana di Netflix pada 16 Oktober 2026 mendatang, setelah sebelumnya melangsungkan pemutaran perdana di Sundance Film Festival 2026. 
 
Dokumenter ini menelusuri kisah nyata Tarik Azzougarh, rapper dan produser asal Tilburg, Belanda, yang keturunan Maroko-Belanda. Dikenal dengan nama panggung Cilvaringz, ia mengawali perjalanannya murni sebagai seorang penggemar berat Wu-Tang Clan pada era 1990-an.
 

Lewat kegigihan dan dedikasi tinggi, Cilvaringz berhasil menarik perhatian RZA, salah satu pendiri utama Wu-Tang Clan, hingga akhirnya direkrut ke dalam label Razor Sharp Records. Kehadirannya tidak hanya sebagai kolaborator tur, melainkan juga sosok kunci yang memprakarsai lahirnya salah satu mahakarya paling kontroversial di abad ke-21. 
 

Sutradara Joanna Natasegara yang dikenal lewat film dokumenter pemenang Oscar "The White Helmets" mengaku terinspirasi menggarap proyek ini setelah bertemu Cilvaringz secara tidak sengaja di Maroko. Melalui proyek ini, Natasegara mengeksplorasi ambisi Cilvaringz. RZA sendiri turut terlibat aktif dalam dokumenter ini sebagai narasumber utama sekaligus produser eksekutif. 

Album Fisik Termahal dan Perlawanan terhadap Era Digital

Fokus lainnya dari "The Disciple: A Wu-Tang Fable" mengakar pada pembuatan album ketujuh Wu-Tang Clan berjudul Once Upon a Time in Shaolin. Proyek musik ini dikonsepkan sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap sistem ekonomi layanan streaming digital, yang dinilai menurunkan nilai finansial dan estetika karya musik menjadi sekadar komoditas konsumsi cepat.


Sebagai bentuk perlawanan, album tersebut dibungkus dalam wadah perak berukir rumit buatan tangan dan dirilis hanya sebanyak satu salinan fisik di seluruh dunia.  Pada lelang tahun 2015, salinan tunggal tersebut terjual seharga dua juat dollar (sekitar Rp31 miliar) kepada pengusaha farmasi kontroversial Martin Shkreli. Penjualan ini secara resmi mencatatkan "Once Upon a Time in Shaolin" sebagai karya musik fisik termahal yang pernah dijual dalam sejarah.
 

Keputusan Penjualan kepada Shkreli sempat memicu kekecewaan besar di kalangan personel Wu-Tang Clan maupun penggemar. Rekam jejak album ini kian berwarna setelah Shkreli terjerat kasus penipuan sekuritas federal yang berujung pada penyitaan aset album oleh pemerintah Amerika Serikat. Pada tahun 2021, album tersebut akhirnya berpindah tangan ke kolektif kripto PleasrDAO senilai empat juta dollar. 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA