Selama pertunjukan berlangsung, penonton dibawa melintas waktu merayakan karya-karya legendaris tahun 80 hingga 90-an. Keberhasilan malam itu berakar pada visi Maera, Produser Eksekutif sekaligus penggagas acara, yang meramu pertunjukan ini sebagai dedikasi dan penghormatan mendalam kepada kedua orang tuanya.
"Apresiasi luar biasa dari seluruh penonton malam ini adalah kehormatan yang tak terlukiskan. Tujuan kami menghidupkan kembali memori keluarga melalui lagu-lagu era 80–90an sebagai pengalaman lintas generasi benar-benar terwujud dengan indah," kata Maera.
Suasana 90-an kental terasa ketika kejutan duo MC klasik Indy Barends dan Indra Bekti mengeluarkan kepiawaian khas memandu acara dengan menghadirkan suasana yang penuh humoris sekaligus menyegarkan.
Malam penuh memori ini dibuka dengan penuh energi melalui komposisi "Alam Maya", hits ikonis 90-an dari The Kids Brother yang langsung memicu sorak-sorai penonton. Suasana auditorium seketika berubah menjadi mesin waktu instan yang membawa penonton kembali ke masa lalu.

Tepat setelah hentakan pembuka tersebut dan sejumlah nomor komposisi, suasana berubah menjadi syahdu dan emosional dalam sebuah segmen spesial untuk mengenang seniman besar Indonesia, Titiek Puspa.
Penyanyi teater Gabriel Harvianto tampil membawakan lagu "Cinta" dengan penghayatan yang sangat dalam. Vokal Gabriel yang penuh rasa berhasil menciptakan momen yang mengharukan, membuat banyak penonton terhanyut saat mengenang kontribusi luar biasa sang legenda bagi industri musik tanah air.
Aransemen berformat Big Band yang diusung Tohpati memberikan napas baru yang segar dan groovy pada repertoar klasik seperti "Selamat Datang Cinta", "Asmaraku Asmaramu", hingga "Cinta dan Damai", tanpa menghilangkan jiwa asli dari lagu-lagu tersebut.
Kolaborasi istimewa dengan legenda rap Indonesia, Iwa K, menjadi salah satu sorotan utama. Iwa K membuktikan janjinya memberikan "energi khusus" yang menyatukan dinamika musik rap dengan kemegahan orkestra, terutama saat tampil enerjik bersama Maera, BimaZeno, dan Taufan Purbo membawakan "Dansa Yuk Dansa".
Aspek visual dan performa panggung pun digarap dengan sangat artistik melalui penampilan Gallaby yang memukau lewat paket lengkap nyanyian dan tarian, serta sentuhan seni pelukis pasir Vina Candrawati yang puitis mengiringi jalannya cerita. Penampilan kelompok pemandu sorak dari A Team Cheerleader menghadirkan atraksi yang luar biasa memukau penonton.
"Melalui Vintage Sounds, ArtSwara tidak hanya menyuguhkan konser musik bertema baru variety show, tetapi sebuah perayaan budaya yang emosional dan penuh warna, energi dan tentu saja format baru bagi pencinta musik Indonesia," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News