Lagu Feather Lungs - Laura Gibson (Foto: YouTube)
Lagu Feather Lungs - Laura Gibson (Foto: YouTube)

Lirik Lagu Feather Lungs - Laura Gibson dan Terjemahannya

Rafi Alvirtyantoro • 27 Agustus 2026 07:00
Ringkasnya gini..
  • Lagu Feather Lungs diciptakan oleh Laura Gibson dan dirilis pada 24 Januari 2012
  • Lagu Feather Lungs menggambarkan perjalanan batin manusia dalam menghadapi kefanaan
  • Lagu ini juga menggambarkan perpisahan yang tenang
Jakarta: Laura Gibson merilis lagu “Feather Lungs” pada 24 Januari 2012. Lagu ini masuk ke dalam album keempat miliknya yang bertajuk La Grande.
 
Lagu “Feather Lungs” diciptakan oleh Laura Gibson sendiri, yang menulis lirik sekaligus menyusun komposisi musiknya.

Makna ​Lagu “Feather Lungs”

Lagu “Feather Lungs” menggambarkan perjalanan batin manusia dalam menghadapi kefanaan serta keindahan hidup yang sementara. Lagu ini menyoroti bagaimana setiap napas, tawa, dan sentuhan menjadi pelajaran tentang cara menerima kematian dan kehilangan dengan lembut.
 
Selain itu, lagu ini mencerminkan pencarian makna di tengah waktu yang terus berjalan. Pada bagian akhir, lagu ini menggambarkan perpisahan yang tenang, seolah manusia sedang mengibarkan bendera terakhirnya sebelum lenyap dalam cahaya yang memudar.

Lirik Lagu “Feather Lungs” - Laura Gibson

Late when the night has swollen
And the edge of the sky is bruised
I'll wonder if the scene is cast
By accident or by design

We will leave our feather lungs as nameless as when we arrived
Every breath and belly laugh will teach us how to die again
Each calloused hand and fingertip is a kite-string to a morning hour
Where light will fancy you a friend and greet you with a wink and nod
Every breath and belly laugh will teach us how to die alone
For light will pull her curtains closed and whisper every parting word
 
Late when the night has swollen
And the edge of the sky is bruised
Marching with a flag in hand
We'll be sending up our final flares
 

 
 

Terjemahan Lirik Lagu “Feather Lungs” - Laura Gibson

Larut, ketika malam mengembang  
Dan tepi langit tampak lebam,
Aku akan bertanya dalam hati—
Apakah semua ini terjadi karena kebetulan, atau memang sudah digariskan.
 
Kita akan meninggalkan paru-paru ringan kita, tanpa nama seperti saat pertama tiba.
Setiap helaan napas dan tawa lepas akan mengajarkan kita cara mati sekali lagi.
Setiap telapak dan ujung jari yang mengeras adalah benang layang-layang menuju pagi,
Di mana cahaya akan menganggapmu sahabat, menyapamu dengan kedipan dan senyum kecil.
Setiap helaan napas dan tawa lepas akan mengajarkan kita cara mati sendirian,
Sebab cahaya akan menutup tirainya dan membisikkan setiap kata perpisahan.
 
Larut, ketika malam mengembang,
Dan tepi langit tampak lebam,
Berbaris dengan bendera di tangan,
Kita akan menyalakan suar terakhir kita ke langit.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA