Jumpa pers film Gelora Magnumentary: Saparua (Foto: DistorsiKERAS)
Jumpa pers film Gelora Magnumentary: Saparua (Foto: DistorsiKERAS)

Film Dokumenter GOR Saparua Diproduksi, Arsipkan Perjalanan Panjang Kancah Musik Independen di Bandung

Agustinus Shindu Alpito • 31 Maret 2021 10:53
Jakarta: Gedung Olah Raga (GOR) Saparua, Bandung, jadi saksi bisu bagaimana berbagai aliran musik - khususnya bawah tanah - berkembang. Sejak era 1970-an hingga 1990-an, GOR Saparua menjadi tempat favorit berbagai acara musik digelar. Pengaruh besar GOR Saparua dalam kancah musik independen akan diarsipkan dalam bentuk film dokumenter bertajuk Gelora Magnumentary: Saparua.
 
"Kami punya kesadaran terhadap dokmentasi skena musik, terutama independen, itu kurang banget dulu. Kami bahas kenapa gak puya alat dokumentasi, jangankan dokumentasi, stick drum aja cuma satu."
 
"Padahal banyak hal menarik dan pelajaran yang bisa diambil. Kenapa milih fokus di bangunan Saparua, karena di Bandung unik ada space space seperti itu. Bandung unik ada public space yang bisa dikuasi anak-anak punk rock," kata Eddy Khemod, Creative Director Cerahati, yang turut membesut proyek film dokumenter ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, film masih dalam proses pengerjaan. Rencananya film ini akan dirilis pada awal Juni. Tetapi, belum dapat dipastikan apakah akan tayang di bioskop atau melalui berbagai platform streaming film.
 
Gelora Magnumentary: Saparua disutradarai oleh gitaris Teenage Death Star sekaligus aktivis pengarsipan musik, Alvin Yunata. Film ini akan menghadirkan berbagai narasumber yang terlibat pada masa kejayaan GOR Saparua, antara lain Sam "Bimbo", Arian 13, Eben "Burgerkill", hingga Suar (mantan vokalis Pure Saturday. 
 
“Film ini adalah sebuah jurnal dari sebuah gedung yang kemudian sejak berdirinya dengan sengaja dialihfungsikan juga sebagai sarana panggung seni dan hiburan dari generasi ke generasi. Namun ada fenomena menarik di decade terakhir sebelum gedung ini dinon-aktifkan, yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektivitas di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekedar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu, di mana sebuah titik melting pot ini melahirkan ideologi baru di kalangan budaya pop, ruang pertukaran informasi dan sebuah pergerakan yang mampu membawa gedung ini sebagai salah satu kuil rock n roll dalam sejarah scene musik underground di Indonesia," kata Alvin.
 
Film ini merupakan proyek Rich Music yang menjadi penggagas rangkaian program DistorsiKERAS.
 


 
(ASA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif