Album ke-tiga ini melibatkan sejumlah musisi tamu dalam proses pengerjaan, antara lain Fajri Navarry pada harmonika, Amrus Ramadhan pada pedal steel, Bonny Sidharta pada bass, dan Samantha Lee Martin pada banjo dan vokal latar. Para kolaborator ini tersebar dalam berbagai track yang ada dalam album ini.
"Secara musik, album ini adalah peron alternatif untuk bereksplorasi, pergi merantau dari ranah delta-blues tradisional."
"Secara tema, ia merupakan sebuah dramatisasi esai-visual-impresi fatal dari masalah kuno cinta dan kehidupan," jelas Adrian dalam keterangan pers.
Album ini berisi 14 lagu. Secara garis besar, Adrian mengambarkan album ini memiliki nuansa pengelana asing, penyendiri, yang mencari jalan menuju cakrawala tanpa batas.
Pekan lalu, Adrian merilis single perdana dari album ini, "Burning Blood, Cold Cold Ground". Lagu yang berbicara tentang bagaimana sisi gelap amarah dapat mengisap diri sendiri dan berujung pada penderitaan.
"Sebuah dramatisasi, enggak membicarakan sebuah kejadian, tetapi membicarakan kayak apa kecemburuan itu," kata Adrian dalam jumpa pers virtual, pada Rabu, 24 Februari 2021.
Adrian sendiri dikenal sebagai salah satu musisi yang konsisten pada sirkuit blues. Bahkan, salah satu yang memelopori gaya permainan delta-blues di Indonesia.
Perjalanan musik Adrian Adioetomo dapat dibaca dalam artikel Adrian Adioetomo, Hidup dan Menghidupi Blues
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News