Fontaines DC (Foto: Elizaveta-Porodina)
Fontaines DC (Foto: Elizaveta-Porodina)

Fontaines D.C. Umumkan Album Kelima Dopamine Chamber

Agustinus Shindu Alpito • 18 Agustus 2026 16:52
Ringkasnya gini..
  • Fontaines D.C. mengumumkan album kelima, Dopamine Chamber, yang lebih gelap dan eksperimental serta dirilis pada 16 Oktober 2026.
  • Fontaines D.C. memperkenalkan Dopamine Chamber lewat single Marianne yang mengangkat tema eskapisme, hedonisme, dan kehancuran.
  • Dopamine Chamber menjadi perubahan paling radikal Fontaines D.C. dengan eksplorasi synthesizer, sampel, string, dan sejumlah lagu tanpa gitar.
Jakarta; Fontaines D.C. memasuki babak baru dalam perjalanan musik mereka dengan mengumumkan album studio kelima, Dopamine Chamber. Album tersebut dijadwalkan dirilis pada 16 Oktober 2026 melalui XL Recordings dan diproduseri oleh James Ford.
 
Pengumuman ini sekaligus disertai perilisan single utama berjudul “Marianne”. Album tersebut menjadi kelanjutan dari Romance (2024), yang telah meraih sertifikasi platinum di Inggris.
 
Berbeda dari karya-karya awal mereka yang banyak bertumpu pada gitar, Dopamine Chamber memperlihatkan keberanian Fontaines D.C. untuk bergerak menuju wilayah musik yang lebih dingin, eksperimental, dan sintetis. Grian Chatten, Carlos O’Connell, Conor Curley, Conor Deegan, dan Tom Coll mengeksplorasi synthesizer, drum bergaya marching, sampel, trigger, hingga aransemen string yang terinspirasi pop Italia era 1960-an. Bahkan, sejumlah lagu di album ini dibuat tanpa gitar sama sekali.

“Marianne” menjadi pengantar menuju atmosfer tersebut. Lagu ini dibangun dengan nuansa megah dan teatrikal, seolah membawa pendengar ke sebuah teater Italia yang telah mengalami kerusakan namun masih menyisakan kemewahan. Inspirasi lagu tersebut antara lain berasal dari serial thriller Ripley yang dirilis pada 2024.
 
Secara tematik, “Marianne” membahas eskapisme dan hedonisme. Lagu tersebut menggambarkan godaan untuk melarikan diri dari kenyataan, sekaligus mempertanyakan seberapa jauh seseorang bersedia menyerahkan imajinasinya ketika pilihan lainnya adalah menghadapi berbagai bentuk kehancuran secara sadar.
 
Album Dopamine Chamber kemudian memperluas gagasan tersebut ke dalam tema yang lebih besar. Fontaines D.C. menggambarkan dunia yang berada di ambang kehancuran, ketika kenikmatan, kecemasan, kecerdasan buatan, kerusakan lingkungan, kekerasan politik, meme, lelucon, dan budaya selebritas bercampur dalam arus informasi yang sama.
 
“Album itu sendiri adalah sebuah bilik dopamin,” kata Chatten. “Anda melangkah ke dalamnya dan kami menguji berbagai karya musik yang dapat mengubah pikiran atau suasana hati ini kepada Anda.”
 
Menurut Chatten, album ini juga memiliki karakter yang lebih gelap dibandingkan Romance. Jika album sebelumnya masih mempertahankan keseimbangan antara sisi manusia dan dampak otomatisasi, Dopamine Chamber bergerak lebih jauh ke arah keterasingan tersebut.
 
Chatten juga memilih untuk tidak memberikan optimisme yang mudah dalam album terbarunya. Menurutnya, pendekatan yang lebih kuat justru adalah menghadirkan sisi buruk dunia secara apa adanya.
 
“Saya merasa akan lebih kuat untuk menanggalkan harapan dan mencerminkan keburukan itu secara jujur. Album ini harus terasa lebih seperti sebuah peringatan bencana,” katanya.
 
Bassis Conor Deegan melihat tema album ini sebagai kelanjutan dari pertanyaan yang selama ini muncul dalam karya-karya Fontaines D.C. mengenai hubungan manusia dengan tempat yang mereka tinggali.
 
“Album-album kami selalu mempertanyakan rasa keterikatan pada suatu tempat,” kata Deegan. “Pertama Dublin, lalu berada jauh dari Dublin, dan kemudian mencoba menemukan romansa di tempat lain. Di album ini, pertanyaannya menjadi: ke mana Anda melarikan diri?”
 
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab melalui berbagai bentuk pelarian, mulai dari menarik diri ke dalam diri sendiri, mengejar hedonisme dan fantasi, mencari kesempurnaan kosmetik serta keabadian masa muda, hingga terus-menerus menyegarkan layar perangkat.
 
Dopamine Chamber juga menjadi kelanjutan dari kecenderungan Fontaines D.C. untuk tidak mengulang formula dari album sebelumnya. Setelah Dogrel (2019), A Hero’s Death (2020), Skinty Fia (2022) yang mencapai posisi No. 1, serta Romance (2024), album kelima ini disebut sebagai perubahan paling radikal yang pernah mereka lakukan.
 
Gitaris Conor Curley mengatakan bahwa dirinya secara khusus berusaha menjauh dari referensi musikal yang selama ini melekat dengan Fontaines D.C. dan mencari suara yang mengarah ke masa depan.
 
“Saya mencoba menemukan hal-hal yang mengarah ke masa depan,” ujarnya.
 
Proses pengerjaan album berlangsung bersama James Ford di sejumlah lokasi, mulai dari London dan kawasan pedesaan Inggris hingga Palermo, Italia. Untuk merekam vokalnya di Palermo, Chatten bahkan menggunakan ruang rekaman sementara yang dibuat dari kasur dan bantal.
 
“Ada rasa kepedihan yang mendalam bahwa kita berada di ambang bentuk kemanusiaan jenis lain, atau ketidakmanusiaan,” kata Chatten.
 
Dengan Dopamine Chamber, Fontaines D.C. seolah membangun sebuah ruang eksperimental tempat pendengar menjadi bagian dari percobaan tersebut.
 
Fontaines D.C. sendiri telah menjalani rangkaian pertunjukan di Eropa pada Agustus ini. Mereka juga dijadwalkan menjadi penampil utama di festival Reading & Leeds serta Electric Picnic pada akhir pekan libur bank holiday Agustus di Inggris dan Irlandia.
 
Single “Marianne” telah tersedia di berbagai platform musik digital, sementara Dopamine Chamber akan dirilis pada 16 Oktober 2026 melalui XL Recordings dalam format LP, deluxe LP, CD, kaset, dan digital.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA