Band Demon Hunter - Film KPop Demon Hunters (Foto: Instagram.com/demonhunter, Netflix)
Band Demon Hunter - Film KPop Demon Hunters (Foto: Instagram.com/demonhunter, Netflix)

Band Metal Kristen Ini Gugat Film KPop Demon Hunters

Agustinus Shindu Alpito • 20 Agustus 2026 10:34
Ringkasnya gini..
  • Band metal Demon Hunter menggugat Netflix karena nama KPop Demon Hunters dinilai menimbulkan kebingungan dengan merek mereka.
  • Demon Hunter menyoroti tur KPop Demon Hunters dan meminta Netflix berhenti menggunakan nama yang dianggap melanggar hak merek mereka.
  • Gugatan Demon Hunter juga menuntut ganti rugi setelah KPop Demon Hunters menjadi fenomena global dan film terpopuler Netflix.You're on the free plan
Jakarta: Band metal Kristen Demon Hunter menggugat Netflix atas dugaan pelanggaran hak merek terkait film animasi populer KPop Demon Hunters. Grup asal Seattle, Amerika Serikat, itu menilai kesuksesan film tersebut telah menimbulkan kebingungan dengan nama dan merek mereka.
 
Demon Hunter dibentuk pada tahun 2000 dan telah merilis sejumlah album. Melalui perusahaan mereka, Hyde Lane, band tersebut mengajukan gugatan merek dagang terhadap Netflix, Netflix Studios, serta promotor konser AEG Presents di Pengadilan Distrik Pusat California pada Selasa (18/8).
 

Persoalkan Tur KPop Demon Hunters

Dilansir Complex, gugatan tersebut secara khusus menyoroti tur langsung KPop Demon Hunters yang baru diumumkan Netflix bersama AEG. Pihak Demon Hunter menilai kegiatan tersebut memiliki banyak kesamaan dengan barang dan jasa yang mereka tawarkan sebagai perusahaan.
 
Mereka khawatir kondisi tersebut dapat menimbulkan kebingungan di pasar. Penggemar berpotensi mengira Demon Hunter memiliki keterkaitan atau hubungan kerja sama dengan KPop Demon Hunters.

Dalam gugatannya, Demon Hunter juga mencantumkan pengalaman seorang penonton yang membeli tiket konser mereka di Albany, New York, seharga USD$500 atau sekitar Rp8,9 juta. Penonton tersebut kemudian meminta pengembalian dana karena ingin membeli tiket untuk "KPop Demon Hunters yang sebenarnya".
   

Tuntut Netflix Berhenti Gunakan Nama KPop Demon Hunters

Hyde Lane menuding Netflix dan pihak terkait sebagai perusahaan besar yang selama ini dengan ketat melindungi hak kekayaan intelektual mereka sendiri, tetapi dianggap mengabaikan hak pihak lain demi meraih keuntungan.
 
Atas gugatan tersebut, Hyde Lane meminta agar perkara disidangkan di hadapan juri. Mereka juga menuntut pengakuan kembali atas hak mereka terhadap merek dagang Demon Hunter serta meminta Netflix dilarang menggunakan nama KPop Demon Hunters.
 
Selain itu, mereka meminta ganti rugi, termasuk pengembalian keuntungan yang dianggap diperoleh secara tidak semestinya serta ganti rugi tiga kali lipat. Hingga kini, Netflix maupun AEG Presents belum memberikan komentar resmi terkait gugatan tersebut.
 

Reaksi Netizen Terhadap Gugatan Ini

Kabar gugatan Demon Hunter terhadap KPop Demon Hunters turut memancing beragam reaksi dari netizen. Sejumlah warganet bahkan menyampaikan sindiran hingga kritik melalui kolom komentar unggahan terbaru band tersebut.
 
“Penjualan merchandise kayaknya nggak cukup lagi buat bayar tagihan,” tulis akun @/_hxunter.
 
“Hai. Sebagai seorang ibu dan pengacara—tolong jangan ganggu film dan tokoh-tokoh film favorit anak-anakku,” tambah akun @/peeenalope.
 
“Lebih lunak daripada kartun-kartun yang ingin kalian gugat,” sindir akun @/romeo2814.
 

KPop Demon Hunters Jadi Fenomena Global

Sejak dirilis tahun lalu, KPop Demon Hunters telah menjadi fenomena global dan tercatat sebagai film yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah Netflix.
 
Film ini menceritakan tentang grup perempuan K-Pop fiksi bernama Huntrix yang diam-diam bertugas membasmi iblis untuk melindungi dunia manusia. Salah satu faktor utama popularitas film ini adalah deretan lagu yang dihadirkan di dalamnya.
 
Lagu utama "Golden" pun mampu menyapu bersih penghargaan kategori lagu terbaik di berbagai ajang bergengsi tahun ini, mulai dari Piala Oscar, Grammy Awards, hingga Golden Globes.
 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA