Salah satu anggota PORIS, toxicdev!, mengeluarkan surat terbuka setelah mendapat tekanan dari publik. Pernyataan ini muncul sebagai buntut kerja sama mereka dengan Spotify. Kaitannya adalah, CEO Spotify Daniel Ek baru-baru ini menuai kritik setelah memutuskan berinvestasi secara pribadi ke Helsing, perusahaan rintisan AI pertahanan Jerman. Posisi moral Daniel Ek menjadi pertanyaan publik, termasuk dugaan perusahaan Helsing yang terlibat dalam teknologi yang digunakan untuk perang.
Melalui akun X pribadinya @toxicdev1ls pada Sabtu (18/4), ia menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pihak yang merasa dikecewakan bahkan dirugikan oleh tindakannya.
“Hi Teman Teman Aku Pribadi Atas Nama toxicdev! Ingin Meminta Maaf Sebesar"nya Untuk Teman" Yang Kecewa Dan Merasa Dirugikan Sama Aku,” tulisnya.
Ia pun menuliskan alasan permintaan maafnya. Meskipun tidak menyebut merek apapun secara gamblang, hal ini diduga menjadi buntut dari video promosi bersama Spotify beberapa hari lalu.
“Atas KetidakAwarean Aku Dalam Memilah Brand Yang Mendukung Tindakan Zionis,” lanjut musisi itu.
Berjanji akan Lebih Waspada
Anggota kolektif itu pun berterima kasih kepada seluruh pihak yang mengingatkan tentang bagaimana posisi-posisi perusahaan yang bekerja sama dengan mereka, yang bisa saja berlawanan secara visi dan keyakinan yang dipegang.Ia juga berjanji akan lebih menyortir tawaran kerja sama dengan berbagai merek di masa depan sambil melihat afiliasi mereka.
“Makasih Buat Temen" Yang Masih Mau Ngingetin, Mudah"an Kedepannya Menjadi Pelajaran Buat Aku Kedepannya Bisa Lebih Baik Lagi Dalam Memilah Deal/Brand Dalam Bentuk Apapun Itu,” ungkap toxicdev!.
“Salam Hangat, toxicdev! #FREEPALESTINE,” tutupnya.
Tak hanya toxicdev!, anggota lainnya, Obyrins, ikut menanggapi kecaman warganet lewat cuitan singkat di X. Ia mengaku bahwa wawasannya masih terbatas dalam isu ini.
“ga bermaksud dukung zionist atau pro israel, jujur blunder karena kurangnya wawasan,” tulisnya dalam akun @obyrinsss.
Kerja Sama dengan Spotify
Sehari sebelumnya, toxicdev! bersama PORIS merilis lagu “AKU GAS!” lewat Spotify. Musisi hyperpop itu pun melakukan promosi terhadap single tersebut melalui berbagai media sosial miliknya.Tak hanya soal rilisan terbaru, PORIS dan beberapa musisi muda Indonesia lainnya ditunjuk sebagai perwakilan dalam program RADAR Indonesia 2026. Program global ini dikenal sebagai inisiatif unggulan Spotify dalam menemukan, mendukung, sekaligus mengangkat musisi baru lintas genre sebelum menembus pasar internasional.
Mereka pun sempat merilis sebuah video promosi bersama Spotify di platform TikTok. Meski video unggahan ulang di Instagram @porisvault sudah dihapus, akun TikTok resmi Spotify Indonesia masih menayangkan video tersebut.
Penikmat skena musik Indonesia mulai mengecam sikap PORIS yang dinilai munafik. Alasannya, salah satu anggota membawa-bawa nama hardcore punk serta menyebut bahwa genre itu adalah “hidup”.
Seorang pengguna X dengan akun @TerapiMinor mengomentari pernyataan PORIS itu. Secara sarkas, ia mengingatkan kolektif asal Tangerang tersebut untuk tidak melabeli sesuatu sebagai “hardcore punk” jika mereka tidak paham dengan hal-hal yang ditentang oleh penganutnya.
“ini Poris bawa-bawa hatkor pang jangan sampe kedengeran sama bang Berry (Antiseptic), kena omel sang penemu hace pang nanti masuk curhatan berry,” tulisnya.
Daniel Ek menanamkan investasi senilai 600 juta euro (Rp12,1 triliun) kepada perusahaan teknologi Eropa, Helsing. Perusahaan ini bergerak di bidang pertahanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang disebut-sebut terkait drone - sebuah perangkat yang kini masif digunakan dalam berbagai perang.
"Helsing, perusahaan teknologi pertahanan terkemuka di Eropa, hari ini mengumumkan bahwa mereka sedang memproduksi 6.000 drone serang HX-2 untuk dikirim ke Ukraina. Hal ini menyusul pesanan sebelumnya sebanyak 4.000 drone serang HF-1 yang saat ini sedang dalam proses pengiriman ke Ukraina, bekerja sama dengan industri lokal Ukraina. Batch drone terbaru ini menjadikan Helsing sebagai salah satu produsen drone serang terbesar di dunia," tulis Helsing dalam keterangan resminya.
Hal tersebut mendorong sejumlah grup musik punk Indonesia untuk menarik rilisan-rilisan mereka dari layanan tersebut, salah satunya Seringai. Ini merupakan bentuk pemboikotan serta protes mereka terhadap afiliasi CEO Spotify dalam isu kemanusiaan.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News