PORIS (Foto: Instagram/porisvault)
PORIS (Foto: Instagram/porisvault)

Netizen Kritik Kolaborasi Kolektif Hip Hop PORIS dan Spotify

Elang Riki Yanuar • 18 April 2026 23:38
Ringkasnya gini..
  • PORIS jadi sorotan usai video promosi dengan Spotify viral. Publik menilai mereka munafik karena membawa ideologi hardcore punk namun bekerja sama dengan Spotify.
  • Anggota PORIS, toxicdev!, menulis surat terbuka meminta maaf dan mengaku kurang aware memilih brand yang mendukung Zionis, serta berjanji lebih selektif.
  • Kontroversi makin panas setelah PORIS masuk program RADAR Indonesia 2026. Warganet menyinggung boikot Spotify karena investasinya ke perusahaan AI pertahanan.
Jakarta: Kolektif asal Tangerang, PORIS, tersandung kontroversi setelah video promosinya bersama Spotify viral. Lantaran mereka dinilai munafik karena menggaungkan ideologi hardcore punk tapi masih bekerja sama dengan layanan musik Spotify yang dianggap pro-Israel. 
 
Salah satu anggota PORIS, toxicdev!, mengeluarkan surat terbuka setelah mendapat tekanan dari publik. Pernyataan ini muncul sebagai buntut kerja sama mereka dengan Spotify, layanan musik digital terbesar sekaligus penyumbang dana untuk operasi militer Israel. 
 
Melalui akun X pribadinya @toxicdev1ls pada Sabtu (18/4), ia menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pihak yang merasa dikecewakan bahkan dirugikan oleh tindakannya.

“Hi Teman Teman Aku Pribadi Atas Nama toxicdev! Ingin Meminta Maaf Sebesar"nya Untuk Teman" Yang Kecewa Dan Merasa Dirugikan Sama Aku,” tulisnya. 
 
Ia pun menuliskan alasan permintaan maafnya. Meskipun tidak menyebut merek apapun secara gamblang, hal ini diduga menjadi buntut dari video promosi bersama Spotify beberapa hari lalu.
 
“Atas KetidakAwarean Aku Dalam Memilah Brand Yang Mendukung Tindakan Zionis,” lanjut musisi itu.
   

Berjanji akan Lebih Waspada

Anggota grup itu pun berterima kasih kepada seluruh pihak yang mengingatkan tentang keterlibatan Spotify dengan genosida yang masih berlangsung di Palestina.
 
Ia juga berjanji akan lebih menyortir tawaran kerja sama dengan berbagai merek di masa depan sambil melihat afiliasi mereka.
 
“Makasih Buat Temen" Yang Masih Mau Ngingetin, Mudah"an Kedepannya Menjadi Pelajaran Buat Aku Kedepannya Bisa Lebih Baik Lagi Dalam Memilah Deal/Brand Dalam Bentuk Apapun Itu,” ungkap toxicdev!.
 
“Salam Hangat, toxicdev! #FREEPALESTINE,” tutupnya.
 
Tak hanya toxicdev!, anggota lainnya, Obyrins, ikut menanggapi kecaman warganet lewat cuitan singkat di X. Ia mengaku bahwa wawasannya masih terbatas dalam isu ini.
 
“ga bermaksud dukung zionist atau pro israel, jujur blunder karena kurangnya wawasan,” tulisnya dalam akun @obyrinsss.

Kerja Sama dengan Spotify

Sehari sebelumnya, toxicdev! bersama PORIS merilis lagu “AKU GAS!” lewat Spotify. Musisi hyperpop itu pun melakukan promosi terhadap single tersebut melalui berbagai media sosial miliknya.
 
Tak hanya soal rilisan terbaru, PORIS dan beberapa musisi muda Indonesia lainnya ditunjuk sebagai perwakilan dalam program RADAR Indonesia 2026. Program global ini dikenal sebagai inisiatif unggulan Spotify dalam menemukan, mendukung, sekaligus mengangkat musisi baru lintas genre sebelum menembus pasar internasional. 
 
 
Mereka pun sempat merilis sebuah video promosi bersama Spotify di platform TikTok. Meski video unggahan ulang di Instagram @porisvault sudah dihapus, akun TikTok resmi Spotify Indonesia masih menayangkan video tersebut.
 
Penikmat skena musik Indonesia mulai mengecam sikap PORIS yang dinilai munafik. Alasannya, salah satu anggota membawa-bawa nama hardcore punk serta menyebut bahwa genre itu adalah “hidup”. Namun, di saat yang sama, PORIS bekerja sama dengan sebuah layanan musik pro-Israel. 
 
Seorang pengguna X dengan akun @TerapiMinor mengomentari pernyataan PORIS itu. Secara sarkas, ia mengingatkan kolektif asal Tangerang tersebut untuk tidak melabeli sesuatu sebagai “hardcore punk” jika mereka tidak paham dengan hal-hal yang ditentang oleh penganutnya.
 
“ini Poris bawa-bawa hatkor pang jangan sampe kedengeran sama bang Berry (Antiseptic), kena omel sang penemu hace pang nanti masuk curhatan berry,” tulisnya.
 
Sebagai informasi, Spotify menanamkan investasi senilai 600 juta euro (Rp12,1 triliun) kepada perusahaan teknologi Eropa, Helsing. Perusahaan ini bergerak di bidang pertahanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mendanai pembuatan drone operasi militer Israel. 
 
Hal tersebut mendorong sejumlah grup musik punk Indonesia untuk menarik rilisan-rilisan mereka dari layanan tersebut, salah satunya Seringai. Ini merupakan bentuk pemboikotan serta protes mereka terhadap afiliasi Spotify dalam isu genosida Palestina oleh Israel.
 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 

 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA