Melansir informasi resmi dari pengadilan California, hukuman tersebut diberikan atas perannya dalam memasok dan berulang kali menyuntikkan ketamin kepada Matthew Perry. Tindakan ini termasuk pemberian dosis fatal yang merenggut nyawa sang aktor pada Oktober 2023.
Tak hanya hukuman penjara, pria bernama Kenneth Iwamasa (61) itu juga divonis membayar denda sebesar $10.000 atau sekitar Rp178 juta.
Diketahui bahwa Kenneth Iwamasa mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi pengedaran ketamin yang mengakibatkan kematian dan cedera fisik parah pada Agustus 2024. Ia merupakan terdakwa kelima sekaligus terakhir yang dijatuhi hukuman terkait kasus kematian Matthew Perry.
Baca Juga :
Ayah Virzha Meninggal Dunia
Peran dan Tanggung Jawab Asisten
Berdasarkan dokumen pengadilan, Kenneth Iwamasa telah mengenal bintang film 17 Again itu sejak tahun 1992 dan mulai bekerja sebagai asisten pribadi yang tinggal serumah dengannya pada 2022.Dalam menjalankan peran tersebut, ia digaji sebesar $150.000 (Rp2,6 miliar) per tahun dengan berbagai tanggung jawab, termasuk mengoordinasikan perawatan medis Matthew Perry dan memastikan sang aktor meminum obat yang diresepkan secara resmi oleh dokter yang merawatnya.
Dalam berkas tuntutannya, jaksa menyatakan bahwa "alih-alih membantu Tuan Perry mempertahankan kelakuannya untuk bersih dari narkoba, (Iwamasa) justru menjadi fasilitator dan pemasok obat-obatan bagi Perry," yang pada akhirnya berujung pada kematian sang aktor.
Kronologi Konspirasi Pasokan Ketamin
Sejak September 2023 hingga kematian Matthew Perry pada 28 Oktober 2023, Iwamasa bersekongkol dengan beberapa orang untuk secara sadar dan sengaja mengedarkan ketamin kepada Perry. Di antaranya adalah seorang dokter bernama Salvador Plasencia (44) alias "Dr. P" dari Santa Monica, dan seorang konselor kecanduan narkoba, Erik Fleming (56).Salvador Plasencia diketahui memasok 20 vial (botol kecil) beserta beberapa tablet ketamin dan jarum suntik kepada Iwamasa dan Perry. Ia juga mengajari Kenneth Iwamasa cara menyuntikkan ketamin tersebut kepada Matthew Perry.
Salvador Plasencia mematok tarif total $57.000 (Rp1 miIiar) untuk jasanya, padahal harga pasaran ketamin saat itu hanya sekitar $15 (Rp267 ribu) per vial. Kendati demikian, bukan ketamin dari Plasencia yang menyebabkan kematian Matthew Perry.
Iwamasa sempat menyaksikan sendiri saat Plasencia menyuntik Perry dengan ketamin dosis tinggi yang membuat aktor tersebut mendadak kaku serta tidak mampu bergerak maupun berbicara.
Pada Oktober 2023, Iwamasa membeli 51 vial ketamin dari Fleming dalam kurun waktu 11 hari. Fleming mendapatkan ketamin tersebut dari pemasoknya, Jasveen Sangha alias "Ketamine Queen" dari North Hollywood.
Ketergantungan Akut dan Dosis Fatal
Menjelang kematian Matthew Perry, Iwamasa berulang kali menyuntikkan ketamin pasokan Sangha yang ia dapat dari Fleming kepada Perry. Selama periode ini, Iwamasa menyaksikan ketergantungan Perry terhadap ketamin yang kian parah.Ia mendapati Perry tidak sadarkan diri di kediamannya setidaknya dalam dua kesempatan, dan melihat reaksi fatal yang terjadi langsung setelah suntikan ketamin, di mana Perry menjadi kaku serta tidak bisa bicara atau bergerak.
Pada 28 Oktober 2023, Iwamasa menyuntik Perry dengan sedikitnya tiga dosis ketamin milik Sangha, yang akhirnya menyebabkan kematian sang aktor.
Upaya Menutupi Kebohongan dan Memusnahkan Bukti
Pada hari kematian Matthew Perry, setelah Iwamasa menghubungi layanan darurat 911 ke kediaman Perry, petugas Kepolisian Los Angeles menginterogasinya.Saat ditanya mengenai obat-obatan yang sedang dikonsumsi Perry, Iwamasa memberikan daftar lengkap berisi nama-nama dokter yang merawat beserta obat-obatan resmi yang diresepkan untuk Perry. Namun, Iwamasa sengaja menghapus ketamin dari daftar tersebut.
Ketika menjabarkan kronologi kejadian menjelang kematian Perry, ia memberikan urutan waktu yang menyembunyikan fakta tentang suntikan ketamin yang telah ia berikan kepada Perry, termasuk suntikan ketiga yang ia berikan hanya beberapa jam sebelum Perry dinyatakan meninggal dunia.
Iwamasa juga mengambil tindakan untuk menghilangkan dan memusnahkan barang bukti terkait penggunaan ketamin oleh Perry pada hari-hari menjelang kematian sang aktor. Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa setelah membersihkan tempat kejadian—termasuk membuang botol-botol ketamin dan jarum suntik—Iwamasa menghubungi Fleming melalui telepon dan memberi tahu bahwa ia telah "menghapus dan membersihkan semuanya."
Vonis Para Terdakwa Lain
Sangha, Plasencia, dan Fleming saat ini tengah menjalani hukuman penjara federal, masing-masing selama 15 tahun, 2,5 tahun, dan dua tahun, setelah menyatakan bersalah atas dakwaan narkotika tingkat federal.Sementara itu, Mark Chavez, seorang mantan dokter asal San Diego, dijatuhi hukuman delapan bulan tahanan rumah, 300 jam kerja sosial, dan tiga tahun masa percobaan. Ia mengaku bersalah pada Oktober 2024 atas satu dakwaan konspirasi pengedaran ketamin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News