Sharaf Darzaid (Foto: Medcom.id/Ratu)
Sharaf Darzaid (Foto: Medcom.id/Ratu)

Eksklusif: Tantangan Menjaga Identitas Palestina lewat Tarian Tradisional Dabke

Elang Riki Yanuar • 25 Mei 2026 07:00
Ringkasnya gini..
  • Seniman Palestina El-Funoun bawa Tari Dabke ke Indonesia demi menjaga identitas budaya di tengah okupasi Israel.
  • Kelompok tari Palestina El-Funoun ungkap sulitnya berkarya di bawah okupasi dan krisis dana saat sebarkan budaya Dabke.
  • Tari Dabke jadi simbol perlawanan dan harapan rakyat Palestina lewat lokakarya budaya yang digelar di Jakarta.
Jakarta: Di tengah upaya Israel menghapus identitas Palestina dari panggung dunia, sebuah organisasi terus berupaya untuk menyebarkan budaya mereka agar tidak lenyap, salah satunya lewat kesenian. 
 
Kelompok seniman asal Palestina, El-Funoun, membawa dan mengajarkan Tarian Tradisional Dabke ke Indonesia lewat rangkaian kegiatan lokakarya dan diskusi selama empat hari.
 
Medcom.id mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Penari sekaligus Koreografer El-Funoun Sharaf Darzaid dalam acara Dabke Dialogue bersama Sacred Bridge Foundation di kawasan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan akhir pekan kemarin.

Sulit Bergerak di Bawah Okupasi Israel

Ia mengungkap berbagai tantangan dalam upaya menyebarkan budaya Palestina ke berbagai belahan dunia selama 27 tahun terakhir. Terlebih, mereka harus berkarya di tengah pendudukan Israel di Palestina. 

“Yah, kamu tahu, bekerja di bawah okupasi itu nggak gampang. Dan kami bukan sekadar grup (tari), tapi juga sebuah organisasi, dan tantangan terpenting yang harus kami hadapi adalah penindasan itu sendiri,” ungkapnya.
Sharaf mengaku, pembatasan yang dilakukan Israel membuat kelompok seniman Palestina sulit menyebarkan budaya mereka di negara lain. Bahkan, pergerakan mereka di dalam kota sendiri sudah dibatasi. 
 
Ia dan kelompok tarinya memiliki tujuan untuk menjaga agar identitas Palestina tidak lenyap dari muka bumi. Salah satu caranya adalah dengan bertemu dan mengajarkan Tarian Dabke kepada orang-orang.
 
“Dan kamu tahu, sebagai penari, kami ingin tampil. Kami ingin mengadakan lokakarya, mengikuti lokakarya, bepergian, dan menjalin kerja sama. Dan tentu saja, di bawah pendudukan, hal ini menjadi sangat sulit. Jadi, inilah tantangan utamanya,” jelas Sharaf.

Masalah Finansial

Kemudian, koreografer asal Palestina ini juga mengungkap kalau keuangan menjadi tantangan lainnya. Meski sering kali mereka kekurangan anggaran untuk mendukung kegiatan ini, El-Funoun tetap menolak donasi dari pihak dengan agenda politik terselubung.
 
“Yang kedua adalah masalah keuangan, karena kau tahu kami tidak memiliki cukup dana untuk bidang kebudayaan, dan kami menolak menerima dana apa pun yang disertai syarat-syarat politik,” tambahnya kepada Medcom.id.
 
Sharaf menegaskan bahwa organisasi mereka tidak menerima sumbangan dana dari negara-negara yang terafiliasi dengan Israel, seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Hanya mengandalkan uang dari rakyat Palestina sendiri membuat mereka menghadapi krisis ekonomi.
 
“Dan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, serta semua penyandang dana semacam itu, kami menolak menerimanya. Jadi, kami mengandalkan masyarakat Palestina sendiri, dan tentu saja, kami menghadapi situasi ekonomi yang sangat rumit,” tegas pria itu.
“Jadi, ya, ini bisa dibilang dua tantangan utama yang kami hadapi. Ada tantangan lain, tetapi ini adalah dua tantangan utama,” katanya. 

Dabke Sebagai Ruang Berekspresi

Kemudian, Sharaf Darzaid juga menjelaskan makna di balik Tari Dabke. Secara harfiah, “Dabke” berarti menghentakkan kaki ke tanah. Kesenian ini awalnya terkenal sebagai tari rakyat yang membentang di seluruh kawasan Arab.
 
Sebelum Perjanjian Sykes-Picot yang memecah negara-negara Timur Tengah di tahun 1916, Dabke menjadi tradisi seni yang sama di beberapa tempat, baik Palestina, Lebanon, Yordania, Suriah, sebagian wilayah Arab Saudi, maupun Iran. 
 
Namun, bagi rakyat Palestina, Dabke kemudian berkembang menjadi simbol identitas dan perlawanan budaya. Sharaf menilai bahwa tarian ini menjadi cara mereka berekspresi serta menjaga nama Palestina di tengah konflik. 
 
“Bagi kami, hal itu menjadi bentuk ungkapan perasaan sekaligus terkait erat dengan identitas kami. Kami mengalami krisis identitas, di mana pihak Israel juga berusaha memisahkan kami dari sejarah kami, serta memisahkan kami dari dunia, dan menduduki tanah kami,” ungkapnya.

Bangun Koneksi dan Harapan Lewat Dabke

Di akhir wawancara, Sharaf menjelaskan bahwa Dabke sebenarnya memiliki makna tersembunyi. Tarian tersebut menjadi ruang untuk mengekspresikan diri serta membangun koneksi dengan budaya lain.
 
Tari Dabke menjadi wadah berekspresi dan berbagi cerita kepada anak-anak serta masyarakat yang tinggal di kawasan terpinggirkan dan kamp pengungsian.
 
“(Tarian Dabke) untuk mengekspresikan perasaan mereka dan berbagi cerita. Bagi kami, Dabke dan menari bukan sekadar teknik, melainkan juga cara hidup dan sumber harapan,” pungkasnya.
 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA