Ryan mengatakan bahwa industri animasi di Indonesia saat ini mengalami krisis talenta di bidang penulisan cerita.
“Banyak program animasi di Indonesia yang jauh lebih fokus pada riset teknis, seperti penggunaan software, komputer. Fondasi bercerita tidak dimasukan ke dalam kurikulumnya," kata Ryan di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Perbedaan Animasi Naratif dan Komersial
Ryan menilai ada perbedaan mendasar antara penggunaan animasi sebagai media bercerita dengan animasi untuk kebutuhan komersial. Namun, diferensiasi ini justru belum diakomodasi ke dalam kurikulum pembelajaran.“Animasi sebagai medium bercerita itu sangat berbeda dengan animasi yang digunakan untuk kebutuhan komersial seperti pembuatan logo, iklan. Itu beda sekali” ucap Ryan.
Berdasarkan pengalaman pribadinya saat menempuh pendidikan animasi, ia sama sekali tidak mendapatkan materi penulisan skenario. Ketiadaan kurikulum tersebut memaksanya untuk mengambil kelas di luar jurusannya demi mengisi kekosongan ilmu tersebut.
“Saya bahkan harus mengambil elektif dari jurusan orang live-action untuk belajar menulis,” tutur Ryan.
Mitos Gaya Kerja Hayao Miyazaki
Ketiadaan materi penulisan skenario dalam kurikulum pendidikan animasi kemudian memicu anggapan keliru di kalangan akademisi dan mahasiswa.Banyak yang mengira bahwa seorang animator otomatis bisa bekerja layaknya maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki, yang mampu menulis cerita secara spontan beriringan dengan proses pembuatan storyboard.
“Ya, oke, tapi saya bukan Hayao Miyazaki. Saya perlu belajar menulis,” tutur Ryan.
Ia menegaskan bahwa pemahaman akan struktur penulisan yang benar dan baku tetap sangat dibutuhkan dalam kurikulum jurusan animasi formal.
“Saya setuju banget bahwa menulis itu penting banget,” pungkasnya.
Penulisan Skenario sebagai Fondasi Industri
Pandangan Ryan ini sejalan dengan pernyataan penulis skenario asal Amerika Serikat, Andrew Guerdat, dalam sesi diskusi di Netflix Family Festival 2026: World of Wonder.Sebelumnya, Andrew Guerdat menegaskan bahwa penulis skenario merupakan fondasi utama dalam membangun industri film yang ideal. Ia menilai sebuah karya visual yang hebat tidak akan pernah tercipta tanpa adanya topangan cerita yang kuat.
Andrew juga meluruskan miskonsepsi umum masyarakat yang kerap mengagungkan aspek akting atau penyutradaraan saja. Ia mengkritik keras sekolah-sekolah film yang sering kali mengabaikan kelas penulisan demi berfokus pada taktik penyutradaraan.
Oleh karena itu, investasi terbaik dan paling efisien untuk memajukan industri kreatif saat ini adalah dengan aktif membangun kelas-kelas penulisan, serta merawat ekosistem komunitas penulis skenario lokal yang mumpuni.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda