Kepastian Jadwal Penerbangan
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Katon Bagaskara mengatakan bahwa dirinya sudah mendapatkan jadwal penerbangan terbaru ke Indonesia. Jadwal ini pun telah dikonfirmasi oleh pihak maskapai.“Gue cuma mau update setelah akhirnya terombang-ambing 6 jam, baru Etihad memberi kabar bahwa pesawat gue confirm, kompak sama check-in desk,” kata Katon Bagaskara dalam video terbarunya pada Selasa, 8 September 2026.
Menurutnya, pesawat yang akan ditumpanginya akan menuju Indonesia, tepatnya Bali, dengan transit di Abu Dhabi dari Geneva, Swiss. Melansir laman resmi Etihad, waktu perjalanan Katon Bagaskara untuk kembali ke Indonesia diperkirakan memakan waktu sekitar 19 jam 45 menit.
“Bahwa besok gue pulang ke Denpasar lewat Abu Dhabi dari Geneva,” ucap Katon Bagaskara.
Kritik Sistem Check-in Maskapai
Selain mengucapkan terima kasih kepada pihak maskapai, sang musisi juga memberikan kritik dan saran mengenai sistem check-in. Apalagi hal ini sempat membuatnya panik lantaran takut tertinggal pesawat.“Thank you Etihad udah mendengarkan omongan gue, tapi lain kali dibuat aja dong yang kompak gitu lho, antara check-in desk dan web-nya gitu lho. Sehingga kita nggak panik gitu lho, sebenarnya status kita apa nih,” jelas Katon.
“Jangan-jangan flight kita udah ke-cancel, karena di web kok tulisannya pesawat udah take off gitu, dan sesuai hari ini dengan nama saya, dan tidak ada pemberitahuan apa-apa juga di email juga nggak ada,” lanjutnya.
Penyebab Keterlambatan di Swiss
Sebelumnya, Katon Bagaskara telah berada di Swiss sejak akhir Agustus 2026 untuk berpartisipasi dalam sebuah pertunjukan di Musikschule Konservatorium, yang berlokasi di kawasan Kota Tua Bern pada 30 Agustus 2026. Namun, ia sempat mengalami kendala saat hendak pulang ke Indonesia.Katon mengungkapkan bahwa dirinya terdampar di Bandara Internasional Cointrin, Jenewa, setelah pihak maskapai Etihad Airways menolak proses check-in.
Penolakan tersebut terjadi karena maskapai menilai Katon tidak memiliki visa untuk memasuki Abu Dhabi sebagai lokasi transit. Situasi ini diperparah oleh penutupan Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.