Inara-Insanul Famhi-Wardatina Mawa (Foto: instagram)
Inara-Insanul Famhi-Wardatina Mawa (Foto: instagram)

Inara Rusli Minta Wardatina Mawa Temui Psikolog Usai Insanul Fahmi Mau Poligami

Elang Riki Yanuar • 21 Oktober 2026 10:00
Ringkasnya gini..
  • Inara Rusli mengungkap chat dengan Wardatina Mawa sebelum konflik dugaan perzinaan mencuat dan mengaku sempat mempertimbangkan poligami Insanul Fahmi.
  • Inara Rusli menjelaskan alasan meminta Wardatina Mawa menemui psikolog karena khawatir dengan kondisi mentalnya di tengah persoalan rumah tangga.
  • Inara Rusli mengakui keliru memahami izin poligami dan mengklaim ketiga pihak sudah mengetahui komitmen tersebut sebelum konflik dengan Mawa mencuat.
Jakarta: Inara Rusli mengungkap isi percakapannya dengan Wardatina Mawa sebelum konflik dugaan perzinaan dengan Insanul Fahmi mencuat. Dalam pesan yang dibacakan, Inara mengaku sempat mempertimbangkan untuk menerima poligami, tetapi meminta Mawa menemui psikolog karena mengkhawatirkan kondisi kesehatan mentalnya.

Inara membuka kembali percakapan tersebut untuk menjelaskan kronologi rencana poligami yang melibatkan dirinya, Mawa, dan Insanul Fahmi. Dia menilai ada sejumlah kesalahpahaman yang perlu diluruskan, terutama mengenai komunikasi di antara mereka sebelum polemik berkembang.

Dalam penjelasannya, Inara mengakui dirinya keliru karena menganggap kesepakatan di antara ketiga pihak sudah cukup untuk menjalankan poligami. Dia memahami adanya komitmen bersama sebagai bentuk izin, meskipun masih ada persyaratan administrasi yang seharusnya dipenuhi.

"Karena menurut pemahaman saya sebagai manhaj salaf, ketika sudah ada komitmen dalam rumah tangga untuk melaksanakan syariat poligami, itu sudah termasuk izin," ujar Inara.

Untuk menjelaskan dasar pemahamannya saat itu, Inara membacakan pesan yang menurutnya dikirimkan oleh Wardatina Mawa. Pesan tersebut membahas kemungkinan Inara menjadi istri kedua Insanul Fahmi sekaligus konsekuensi yang harus dihadapi apabila rencana tersebut benar-benar terlaksana.

"Kak maaf mau nanya satu hal lagi, sebelum memutuskan untuk kebaikan rumah tangga kami. Pertanyaannya, kalau kami wallahualam bakalan pisah, Kakak bakalan masuk di kehidupan kami dan siap menerima kekurangannya Saudara Fahmi? Atau kalau memang siap untuk jadi istri kedua, apakah Kakak siap untuk segala konsekuensinya bukan hanya berbagi cinta, tapi juga berbagi waktu, perhatian dan bahkan mungkin duka?" demikian bunyi pesan yang dibacakan Inara.
Menurut Inara, percakapan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai poligami bukan sesuatu yang hanya diketahui oleh dirinya dan Insanul Fahmi. Dia mengklaim ketiga pihak sudah mengetahui adanya komitmen untuk menjalankan poligami sebelum konflik muncul.

"Di sini posisinya saya sudah tahu bahwa kami bertiga sama-sama mengetahui bahwa sudah komitmen untuk melakukan syariat poligami," tuturnya.

Selain membahas rencana poligami, Inara juga mengungkap percakapan yang berkaitan dengan kondisi psikologis Mawa. Dia menegaskan sarannya agar Mawa menemui psikolog bukan dimaksudkan untuk menuduh istri Insanul Fahmi tersebut mengalami gangguan mental.

Inara mengatakan dirinya justru mengkhawatirkan kondisi Mawa ketika menghadapi persoalan rumah tangga yang berlarut-larut. Kekhawatiran itu, menurut dia, menjadi alasan dirinya menyarankan Mawa berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Dalam salah satu pesan yang dibacakan, Inara mengaku sempat mempertimbangkan untuk menerima tawaran poligami dari Insanul Fahmi. Namun, dia merasa keputusan tersebut perlu dipikirkan secara matang, termasuk dengan mempertimbangkan kondisi mental Mawa.

"Jujur aku juga kepikiran untuk iyain dia poligami, tapi benar-benar harus mantepin hati. Aku bilang, 'Kamu benar-benar perlu ke psikolog. Satu yang aku khawatirin kesehatan mental kamu'. 'Aku mentalnya juga udah hancur, Kak, bertahun-tahun, terus dapat kabar isu itu datang lagi. Sering banget aku ketawa sendiri'," demikian isi chat yang dibacakan Inara.

Inara menjelaskan, sarannya agar Mawa menemui psikolog muncul karena dirinya merasa tidak memiliki keahlian untuk memberikan penilaian atau nasihat profesional mengenai kesehatan mental seseorang. Dia menilai persoalan yang dihadapi Mawa membutuhkan penanganan dari pihak yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.

"Itu sebabnya kenapa saya concern dan meminta beliau untuk counseling ke tenaga ahli. Mengingat saya bukan tenaga ahli, saya tidak punya kompetensi untuk bisa memberikan saran dan nasihat untuk rumah tangganya," bebernya.

Inara juga menyadari bahwa komunikasi melalui pesan tertulis bisa menimbulkan penafsiran berbeda dari maksud sebenarnya. Dia mengakui memiliki kelemahan dalam menyampaikan sesuatu lewat tulisan, tetapi membantah sengaja menggunakan perkataannya untuk menyakiti atau merendahkan Mawa.

"Untuk meluruskan beberapa kesalahpahaman yang mungkin pernah dirasakan sama pihak terkait, saya akui memang saya punya kelemahan dalam menyampaikan perkataan secara tertulis. Namun begitu, saya tidak ada niat sama sekali untuk menyakiti atau melukai harga diri maupun perasaan pihak-pihak yang terkait," kata Inara.
Inara mengaku telah beberapa kali berusaha menghubungi Mawa secara langsung melalui direct message (DM). Upaya tersebut, menurut dia, dilakukan untuk mengajak Mawa bertemu dan membicarakan persoalan yang terjadi agar tidak terus menimbulkan kesalahpahaman.

"Kemudian saya beberapa kali sudah chat secara langsung via DM untuk mengajak bertemu, bahkan dari sebelum konflik, untuk meluruskan keadaan yang sebenarnya tentang kami semua," ujar Inara.

Inara sendiri sudah sempat menikah dengan Insanul Fahmi. Sementara Mawa kemudian menggugat cerai dan sudah resmi bercerai dengan Insanul Fahmi. 









 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA