Ketika Neida memutuskan pamit setelah delapan tahun mewarnai warna musik HIVI!, grup ini tidak terburu-buru mencari pengganti. Mereka memilih jalur yang tenang, tertutup, namun disiapkan dengan baik. Proses seleksi yang dijalani Kei, vokalis baru mereka, sama sekali jauh dari kesan konvensional. Manajemen HIVI! tidak hanya menguji jangkauan nada atau warna vokal, melainkan melibatkan tim lintas disiplin untuk membedah karakter calon personel secara utuh.
Secara mengejutkan, proses seleksi tersebut turut melibatkan psikolog hingga fashion stylist. Keterlibatan tim ahli ini bertujuan untuk membaca kesiapan mental serta penyelarasan estetika persona calon vokalis ketika harus memasuki ekosistem HIVI!. Hal itu diungkapkan HIVI! dalam wawancara eksklusif mereka dengan program pengarsipan musik Shindu's Scoop.
Keisha "Kei" Cinantya (Foto: Instagram @sayhivi)
"Waktu seleksi pemilihan untuk penggantian vokalis tuh penentuannya sebenarnya panjang banget. Dan yang milih juga saat itu gak kita doang, tapi dari manajemen ada, dari teman-teman musisi ada, dari psikolog ada... Dia sempat ngobrol juga sama psikolog, terus ngobrol juga sama teman-teman fashion stylist kita juga," ungkap Febrian Nindyo menggambarkan ketatnya penyaringan tersebut.
Tak hanya itu, ujian kejujuran berkesenian juga diuji lewat pendekatan spontan tanpa persiapan. Kejutan kecil disiapkan agar sang calon vokalis tampil polos tanpa kepura-puraan.
"Terus kita juga sempat nyanyi juga dulu tanpa dia ketahui bahwa kita akan nyanyi. Dan saat itu juga dia gak tahu bahwa ada kita berdua gitu... Ada prank-prank-nya dikit," kenang Febrian sembari tertawa.
Faktor kenyamanan dan keintiman emosional saat bermusik menjadi kunci utama mengapa pilihan akhirnya jatuh kepada Kei. Kejujuran sikap di atas panggung mengalahkan aspek teknis semata.
Simak keseruan wawancara eksklusif HIVI! dalam episode terbaru Shindu's Scoop di bawah ini: