Jakarta: Kasus dugaan korupsi anggaran pakan satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) memicu kemarahan publik. Bukan hanya karena kerugian negara yang mencapai miliaran rupiah, tetapi juga karena dugaan penyimpangan tersebut berdampak langsung pada kondisi satwa yang mengalami kekurangan gizi, sakit, hingga dilaporkan mati akibat minimnya perawatan.
Gelombang reaksi juga datang dari sejumlah selebritas Indonesia. Mereka menyuarakan kekecewaan terhadap dugaan korupsi yang disebut telah mengorbankan kesejahteraan satwa demi kepentingan pribadi.
Aktris Ariel Tatum menjadi salah satu figur publik yang ikut bersuara melalui akun Threads miliknya. Dia menanggapi unggahan Adjie Santoso Putro yang menyoroti dugaan pemotongan anggaran pakan hewan di KBS.
"Anggaran uang makan hewan aja sampe dikorupsi. Rakusnya enggak cuma berperikemanusiaan, tapi sampe nggak berperikehewanan," tulis Adjie.
Unggahan tersebut kemudian dibalas Ariel Tatum dengan komentar yang tak kalah tajam. Menurutnya, tindakan pelaku bahkan tidak layak disamakan dengan binatang.
"Bilang manusia seperti binatang aja udah jadi sebuah penghinaan untuk binatangnya," tulis Ariel Tatum.
Penyanyi Kunto Aji juga mengaku terkejut dengan kasus tersebut. Dia menilai dugaan korupsi yang berimbas pada kondisi satwa merupakan tindakan yang sulit diterima akal sehat.
"Korupsi dana kebun binatang. Sampai hewan-hewannya kurus, ternyata gara-gara dikorup. Orang kok kejamnya ngalahin setan," tulis Kunto.
Kasus ini bermula dari penyidikan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur terkait dugaan penyimpangan pengelolaan keuangan Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya selama periode 2016 hingga 2024. Pada 21 Juli 2026, penyidik menetapkan mantan Direktur Utama PDTS KBS, Choirul Anwar, sebagai tersangka setelah menemukan alat bukti yang dinilai cukup.
Berdasarkan hasil penghitungan sementara bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Timur, dugaan korupsi tersebut menyebabkan kerugian negara sekitar Rp10,2 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp7,4 miliar diduga digunakan untuk kepentingan pribadi tersangka.
Penyidik mengungkap sejumlah modus yang diduga dilakukan, mulai dari pengeluaran anggaran di luar peruntukan, pencatatan biaya fiktif, hingga pengurangan realisasi anggaran pakan satwa yang tidak sesuai dengan laporan pertanggungjawaban. Dana operasional yang seharusnya digunakan untuk pemeliharaan kawasan dan kebutuhan satwa diduga dialihkan untuk kepentingan lain.
Sejumlah satwa dilaporkan mengalami kekurangan gizi, tubuh menjadi kurus, rentan terserang penyakit, bahkan ada yang mati akibat kurangnya pakan dan perawatan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kasus ini memicu kemarahan luas di media sosial.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan