Ashanty mengungkapkan bahwa trauma tersebut sempat disimpannya rapat-rapat selama bertahun-tahun karena merasa malu dan mengkhawatirkan keberlangsungan rumah tangga orang tuanya kala itu.
“Aku menyimpan ini, baru aku cerita ini nih 2 tahun lalu ibaratnya gitu. Karena aku malu, aku gak mau ngomong ke mamaku, takut mamaku nanti pisah gara-gara aku, dan banyak hal lah gitu,” kata Ashanty, dikutip dari program Q&A di Metro TV pada Senin, 27 Juli 2026.
Proses Menyembuhkan Luka Masa Lalu
Walaupun pelecehan yang dialaminya dinilai tidak sampai melangkah terlalu jauh, peristiwa tersebut tetap meninggalkan luka mendalam hingga membuatnya gemetar setiap kali membahasnya.“Walaupun bukan gak sampai yang mungkin jauh gitu, tapi ada hal yang menurut aku luka dan sakit itu, mungkin kalau dulu ngomong gemeter gitu ya,” ujar Ashanty.
Setelah menjalani konseling dan proses pemulihan, Ashanty berhasil melewati masa-masa sulit tersebut hingga berada di titik damai. Ia pun mengajak para korban lain agar berani bersuara dan tidak memendam luka sendirian.
“Kalau sekarang aku udah dengan santai untuk ngomongin ini karena menurut aku, aku harus share ini ke orang-orang untuk berani speak up. Karena aku menyimpan ini, baru aku cerita ini nih 2 tahun lalu ibaratnya gitu,” jelas Ashanty.
Dampak Trauma terhadap Pembentukan Mental
Ajakan tersebut disampaikan karena ia menyadari bahwa pengalaman kekerasan atau pelecehan di masa kecil sangat memengaruhi pembentukan mental seseorang saat beranjak dewasa.“Karena ini luka, itu menghasilkan aku nanti saat aku dewasa, untungnya aku bisa gini. Karena aku tahu untuk orang yang pernah dilecehkan atau korban kekerasan atau apapun itu, itu akan tumbuh menjadi anak yang seperti apa aku tuh tahu gitu,” tutur Ashanty.
Menurutnya, keberhasilannya untuk bangkit dan pulih hingga saat ini merupakan bentuk kasih sayang Tuhan yang luar biasa.
“Aku bisa sekarang survive dan bisa kayak gini tuh suatu hal yang menurut aku, wah Tuhan itu sayang banget sama aku,” ucap Ashanty.
Pesan Penting untuk Para Orang Tua
Pada kesempatan itu, Ashanty mengingatkan para pasangan suami istri tentang kesiapan dalam memiliki anak. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter seorang anak pertama kali tercipta dalam ruang lingkup rumah dan keluarga.“Monster-monster di generasi ke depan itu diciptakan tuh dari rumah, baru lingkungan itu nomor dua. Jadi, orang tua kalau memang gak siap punya anak, jangan punya anak,” ujar Ashanty.
“Karena gak semudah itu kamu punya, ya memang katanya punya banyak anak banyak rezeki ya, tapi kamu hanya menciptakan generasi-generasi yang nanti ya akan seperti apa udah kelihatan kan sekarang banyak kan,” lanjutnya.
Ashanty pun menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan isu perlindungan anak dan penyembuhan trauma. Pengalaman pahit di masa lalunya dijadikan landasan agar kejadian serupa tidak berulang pada generasi mendatang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda