Awal Mula Keterlibatan
Hannah Murray mengungkapkan bahwa keterlibatannya bermula ketika ia bertemu dengan seorang "penyembuh energi" yang ia samarkan dengan nama Grace di lokasi syuting film Detroit. Film yang dirilis pada tahun 2017 itu mengusung tema yang sangat "kelam dan penuh kekerasan.”Atmosfer syuting yang berat membuatnya terus gemetar akibat lonjakan adrenalin serta dihantui mimpi buruk. Kondisi psikologis yang rentan inilah yang akhirnya membuat Hannah menjadi sangat terbuka kepada Grace.
Pada awalnya, Grace hanya menawarkan sesi "penyembuhan" seharga $150 (sekitar Rp2,6 juta) untuk membantu Hannah mengelola emosinya secara mandiri. Namun, Grace segera melangkah lebih jauh dengan mulai berbicara tentang aktivasi "DNA spiritualnya" menggunakan "metode kuno yang kuat."
Karena berkenalan melalui seseorang di lokasi syuting, Hannah tidak pernah menaruh curiga pada kredibilitas Grace. Seiring berjalannya waktu, ia diarahkan untuk mengikuti serangkaian kelas yang menjanjikan jawaban atas perjalanan pemulihan dirinya.
Eksploitasi dalam Organisasi
Dalam buku memoar bertajuk The Make-Believe: A Memoir of Magic and Madness, Hannah Murray mengungkap bahwa organisasi tersebut dirancang untuk mengeksploitasi siapa saja yang mencoba naik ke tingkatan lebih tinggi. Namun, ada pengecualian untuk seseorang."Kecuali satu orang, seorang pria, yang duduk di puncak tertinggi,” tulis Hannah Murray, dikutip dari The Guardian, pada Selasa, 26 Mei 2026.
Hannah merasa bahwa pengalamannya bermain di serial Game of Thrones sebagai Gilly serta tumbuh besar di lingkungan yang dipenuhi fiksi remaja membuatnya lebih rentan memercayai narasi fantasi yang disodorkan oleh kultus tersebut. Pria yang berada di puncak organisasi itu dipanggil dengan nama Steve.
"Dia memancarkan kekuatan dengan cara yang belum pernah saya lihat pada orang lain. Kekuatan magis," kenang Hannah Murray tentang sosok tersebut.
"Saya tahu saya sedang berhadapan dengan seorang penyihir,” lanjutnya.
Indikasi Kultus Seks
Seiring keterlibatannya yang semakin dalam bersama para pengajar dan pengikut perempuan lainnya, Hannah mulai mengendus adanya tanda-tanda eksploitasi seksual, meskipun ia sendiri tidak menerima kontak fisik secara langsung."Ada ketegangan energi yang terasa di dalam ruangan. Saya rasa hal seperti itu sering terjadi dalam organisasi spiritual yang hierarkis. Menariknya, ruang tersebut awalnya didominasi oleh perempuan—para pengajar dan sang penyembuh—lalu pria ini masuk dengan kepercayaan diri dan karisma yang luar biasa,” jelas Hannah Murray.
Ketika ia menyampaikan kekhawatannya kepada salah satu pengajar perempuan bahwa organisasi tersebut adalah sebuah "kultus seks", pengajar tersebut berkilah. Ia berdalih bahwa Steve hanya "sangat ahli dalam meruntuhkan ego" anggotanya.
Mengalami Delusi dan Halusinasi
Barulah saat menghadiri kursus intensif selama lima hari di London, Inggris, Hannah menyadari perilakunya mulai tidak terkendali. Ia berbicara dengan tempo yang sangat cepat, serta mulai mengalami halusinasi dan delusi. Ia bahkan memercayai bahwa Steve mencintainya dan akan menikahi dirinya.Ketika kondisinya kian memburuk, Hannah mengingat momen saat ia mengunci diri di kamar mandi sambil menahan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Ia menggambarkan rasa sakit itu seperti "melahirkan" melalui tengkorak.
Di balik pintu, para pengajar justru berkumpul dan merapalkan mantra, "Pergilah roh jahat dari dalam tubuh Hannah." Saat seseorang akhirnya memanggil bantuan, Hannah diringkus ke lantai oleh sekelompok pria lalu dilarikan ke rumah sakit.
Setelah insiden tersebut, ia ditahan selama 28 hari di bawah Undang-Undang Kesehatan Mental setempat.
Diagnosis Gangguan Bipolar
Meski menyadari pengalamannya dengan kultus spiritual tersebut terkesan tidak masuk akal jika diingat kembali, Hannah kini telah mendapatkan gambaran medis yang lebih jelas. Ia didiagnosis mengidap gangguan bipolar.Hannah mengatakan bahwa sejak psikiater menyatakan diagnosis tersebut, "segala sesuatunya menjadi jauh lebih masuk akal."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News