Berbeda dengan novel konvensional, karya ini dirancang khusus untuk menemani waktu ngabuburit dengan format perilisan harian selama bulan puasa.
Salah satu keunikan utama dari novel ini terletak pada proses kreatifnya yang menggunakan sistem Writers Room. Dani, perwakilan dari tim penulis, mengungkapkan bahwa 30 Hari Mewarisi Dosa tidak hanya ditulis oleh satu orang, melainkan hasil kolaborasi tiga penulis senior, yaitu Candra (Cendil), Dani, dan Indira.
Tantangan terberatnya adalah menjaga konsistensi cerita dan nada suara karakter, mengingat novel ini dirilis setiap hari atau striping, berbeda dengan karya sebelumnya yang dirilis mingguan.
"Biasanya di brainstorm awal itu tuh ada tuh. Oh masukin ini aja, masukin ini aja. Nah untuk 30 Hari Mewarisi Dosa ini, karena memang tone-nya lebih komedi, ada komedi-komedi dan kejadian-kejadian aneh yang dialami sama Rasha sama orang-orang di situ, itu ada satu writer namanya Indira Saraswati, itu emang punya banyak entah gimana koleksi kejadian aneh," ujar Dani.
Format harian ini menuntut tim penulis untuk bekerja dengan intensitas tinggi demi menjaga rasa penasaran pembaca. Dani menjelaskan bahwa mereka harus pintar-pintar mengatur alur cerita agar pembaca tetap terikat setiap harinya.
Hal ini membutuhkan diskusi rutin dan brainstorming yang ketat setiap minggunya untuk memastikan setiap bab yang tayang memiliki kualitas yang terjaga.
"Kalau yang sekarang harian. Artinya kami harus bisa menjaga intensitas, intensitas cerita gitu kan. Terus konsistensinya juga mesti dijaga. Lalu yang paling utama adalah tadi tuh rasa penasaran pembaca," ungkap Dani mengenai tantangan teknis dalam menulis novel bersambung harian.
Selain teknis penulisan, KaryaKarsa juga mencoba mendobrak kebiasaan diskusi buku yang umumnya membahas buku fisik. Melalui Spirit Ramadan, mereka ingin membuktikan bahwa karya digital juga layak mendapatkan ruang diskusi dan apresiasi yang sama. Novel ini sendiri sudah memasuki episode ketujuh pada saat acara berlangsung.
Kolaborasi tim penulis ini berhasil menyatukan berbagai ide liar menjadi satu alur cerita yang utuh. Kehadiran 30 Hari Mewarisi Dosa menjadi bukti bahwa ekosistem karya digital di Indonesia semakin matang, di mana sebuah cerita bisa diproduksi secara kolektif, cepat, namun tetap memperhatikan kedalaman rasa dan makna bagi para pembacanya.
(Maulia Chasanah)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News