Di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, lukisan garam raksasa dibuat dan diresmikan, menjadi salah satu daya tarik dalam agenda Festival Garam Dasun 2026.
Karya seni yang membentang di atas hamparan tambak garam ini menggunakan ribuan kilogram garam sebagai medium lukisan.
Dengan tema Memetri Kawitane Uyah, Festival Garam Dasun 2026 resmi dibuka pada Sabtu (17/10/2026) dan menghadirkan beragam rangkaian acara yang menggabungkan seni, tradisi, dan pengetahuan lokal masyarakat petani garam.
Potret Lukisan Garam Raksasa di Rembang
Lukisan unik ini memiliki luas sekitar 1.880 meter persegi dan menggunakan 8-9 ton garam dari total 10 ton yang disiapkan. Karya ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara seniman dan petani garam untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat pesisir melalui seni.
Lukisan garam di Rembang hasil karya kolaborasi seniman dan petani garam di Desa Dasun. Foto: Istimewa
Terbentang di atas 11 petak tambak, garam disusun menjadi gambar berukuran besar yang mengangkat kehidupan masyarakat pesisir, mulai dari aktivitas petani garam hingga kekayaan ekosistem laut.
Secara visual, karya ini menampilkan berbagai unsur kehidupan laut, seperti ikan, kepiting, cumi-cumi, plankton, dan hutan mangrove. Terdapat pula gambaran sesaji sedekah laut yang merepresentasikan rasa syukur masyarakat pesisir atas hasil alam yang jadi sumber penghidupan mereka.
Proses pengerjaannya membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Setelah tambak dikeringkan selama lima hari, pembuatan sketsa dan pengukuran skala pun dilakukan hingga proses pengerjaan yang memerlukan waktu sekitar 10 hari.
Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, menjelaskan bahwa ukuran lukisan yang sangat luas menjadi salah satu tantangan bagi para seniman. Mereka harus memastikan setiap bagian gambar sesuai dengan rancangan, meskipun tak semua bagian dapat terlihat secara bersamaan dari jarak dekat.
Kolaborasi Seniman dan Petani Garam
Pembuatan lukisan garam ini melibatkan 10 seniman dari berbagai daerah, 10 petani garam Desa Dasun, serta lima pendamping teknis. Kolaborasi ini tak hanya berfokus pada penciptaan karya seni, namun juga melibatkan petani dalam menyampaikan cerita hidup mereka melalui lukisan.
Pembuatan karya raksasa ini juga dilakukan sebagai persembahan sebuah gagasan dari seorang maestro seni rupa Indonesia, Nasirun. Sebelum meninggal dunia pada 1 Agustus 2026, Nasirun sempat membuat sketsa awal pada 25 Juli 2026 setelah mendengar cerita kehidupan para petani garam Dasun.
Gagasan tersebut kemudian diteruskan oleh para seniman bersama para petani garam melalui program residensi seni dalam rangkaian festival. Karya ini menjadi bentuk penghormatan terhadap Nasirun sekaligus ruang untuk masyarakat pesisir bersuara.
Festival Garam Dasun juga mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Saya harap melalui festival garam ini tak hanya jadi ruang perayaan seni dan budaya semata, tapi juga memperkuat identitas kultural masyarakat Lasem dan mempererat kebersamaan kita memajukan kebudayaan Indonesia,” ujar Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon, dalam prakata pembukanya.
Melalui kegiatan ini, tambak garam tak hanya dipandang sebagai tempat produksi komoditas, tetapi juga sebagai ruang ekspresi budaya dan pelestarian pengetahuan lokal.
Keberadaan lukisan garam raksasa tersebut diharapkan dapat memperkenalkan potensi budaya Desa Dasun kepada masyarakat luas.
Selain menjadi daya tarik seni, karya ini membawa pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian laut dan lingkungan pesisir yang menjadi tumpuan hidup para petani garam dan nelayan.
(Vira Farhatul Maula)