Pesan tersebut disampaikan Raisa melalui lagu "Nyawa dan Harapan". Layar latar belakang menampilkan video musik lagu tersebut yang dirilis pada 28 Oktober 2026.
Visual Duka Kerusakan Alam
Video musik "Nyawa dan Harapan" menampilkan dampak karhutla secara nyata. Visualnya menyajikan kobaran api yang melahap pepohonan, kerusakan habitat, hingga satwa liar yang terdampak.
Salah satu adegan memperlihatkan orangutan yang membutuhkan penanganan setelah kehilangan habitat alaminya. Video musik tersebut juga menyoroti dampak karhutla terhadap kehidupan masyarakat serta perjuangan para petugas yang berupaya memadamkan api.
Simbol Solidaritas di Panggung
Suasana di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, berubah emosional ketika Raisa dan para personel band pengiringnya memperagakan gestur three-finger salute.
Gestur yang dipopulerkan melalui novel dan film The Hunger Games ini digunakan oleh tokoh Katniss Everdeen sebagai simbol terima kasih, kekaguman, perpisahan, sekaligus perlawanan terhadap kekuasaan tiran.
Para penonton pun serta-merta mengikuti gestur Raisa sembari menyanyikan lagu "Nyawa dan Harapan" bersama-sama.
Perubahan Lirik dan Pesan Menohok
Raisa juga sempat mengubah penggalan lirik lagu "Nyawa dan Harapan". Lirik asli yang berbunyi, "Akankah akhirnya kita sadari?" diubah menjadi "Akankah akhirnya mereka sadari?"
Penggunaan kata "mereka" ditujukan untuk pihak-pihak yang bertanggung jawab atas karhutla dan dampaknya.
Pada akhir penampilannya, Raisa menampilkan kutipan dari seniman dan aktivis Alanis Obomsawin.
"Ketika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah diracuni, ikan terakhir telah ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa mereka tidak dapat memakan uang," bunyi kutipan yang ditampilkan di layar.