Strategi tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Joyland Festival yang kini telah memasuki tahun ke-14. Ferry Dermawan selaku Program Director Plainsong Live/Joyland mengungkapkan proses kurasi lineup yang diterapkan pihaknya dalam sesi IdeaTalk bertajuk "Curating Culture: The Human Side of Music Discovery" di IdeaFest 2026, Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu, 5 September 2026.
Menurut Ferry, kurasi lineup Joyland tidak sepenuhnya bergantung pada data, termasuk jumlah pendengar maupun popularitas seorang musisi. Pengalaman menonton penampilan secara langsung serta intuisi tim kurator justru menjadi pertimbangan penting dalam menentukan nama yang dianggap cocok untuk tampil di Joyland.
Numbers Bukan Tolok Ukur Utama Joyland
Ferry menjelaskan bahwa data tetap memiliki peran dalam proses kurasi. Namun, angka bukanlah pertimbangan pertama yang digunakan ketika menentukan lineup festival."Banyak orang datang ke festival untuk melihat headliners, tapi festival juga bisa jadi ruang untuk menemukan musisi baru. Dalam menentukan line-up, kami juga mengandalkan gut feeling: melihat potensi dari emerging artists maupun musisi yang lebih niche. Di situlah kurasi manusia berperan, membuka ruang untuk menemukan sesuatu yang tidak ditangkap oleh data," tutur Ferry.
Ia menambahkan, karakter sebuah penampilan live menjadi salah satu pertimbangan utama. Joyland ingin menghadirkan musisi yang tidak hanya menarik untuk didengarkan melalui platform digital, tetapi juga mampu memberikan pengalaman berbeda ketika tampil di atas panggung.

Ferry Darmawan bersama BoonKen Wong (Head of Spotify Southeast Asia), Mentari Novel (Iramenesia) saat jadi salah satu panelis di IdeaFest 2026. (Foto: Medcom/Basuki)
"Dalam konteks Joyland, data itu penting, tapi itu mungkin bukan yang pertama muncul atau pertimbangan yang pertama muncul dari kita ya. Karena memang insting sama gut feeling emang itu yang selalu pertama. Karena kalau ngomongin festival, ngomongin live performance-nya dia, apakah tipe-tipe pertunjukan seperti itu yang mau kita tampilkan di festival kita?" lanjutnya.
Belajar dari Interpol di Joyland 2023
Ferry kemudian mengambil contoh ketika Joyland menghadirkan band rock asal Amerika Serikat, Interpol, pada edisi 2023. Secara angka, popularitas Interpol di Indonesia ketika itu dinilai belum terlalu besar.Namun, pengaruh Interpol terhadap perkembangan musik Indonesia menjadi alasan lain yang membuat Joyland yakin mengundang band tersebut. Menurut Ferry, karakter musik Interpol dapat ditemukan dalam karya sejumlah band Indonesia dari generasi ke generasi.
"Contoh gitu kayak beberapa nama seperti waktu tahun 2023 itu ada Interpol. Secara data tuh sebenarnya kurang menarik Interpol di Indonesia secara pendengar dan segala macam," tutur Ferry.
"Tapi kita juga nggak bisa menyampingkan pengaruh sound Interpol ke band-band Indonesia tuh selalu ada gitu di tiap 5 tahun tuh selalu ada, 'Ini sound gitar Interpol nih'. Jadi itu yang buat gue cukup yakin kalau dia ini meng-influence banyak musisi di Indonesia sebenarnya," sambungnya.
Selain pengaruh musik, kualitas penampilan dari musisi saat live menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting bagi Joyland.
"Pertimbangan yang paling utama tuh live-nya sih. Live-nya harus bagus dan orang kan datang ke festival untuk itu ya," ungkap Ferry.
Menurutnya, festival musik idealnya tidak hanya menjadi tempat bagi penonton untuk menyaksikan musisi yang sudah mereka kenal. Festival juga seharusnya memberikan kesempatan bagi audiens menemukan pengalaman baru.
"Kalau di Joyland kita berani naruh nama-nama baru, baiknya memang seperti itu di festival. Memang orang beli tiket untuk satu nama yang dia tahu, yang dia mau tonton. Tapi kan festival itu fungsinya ketika dia pulang dia dapat satu nama band favorit baru, live-nya seru atau live-nya lucu," ujarnya.
Bagaimana Joyland Menentukan Lineup?
Lebih lanjut, Ferry menjelaskan bahwa Joyland memiliki tujuan untuk menjadikan festival sebagai ruang discovery bagi para penonton. Karena itu, pihaknya berupaya menghadirkan musisi-musisi yang berpotensi menjadi penemuan baru bagi audiens."Kita tuh punya target kayak sebisa mungkin pengen orang tuh ketika mendengar nama Joyland ada yang kayak dia bisa discover beberapa band baru, jadi kayak kita berpihak ke yang emerging gitu. Kadang-kadang band-nya nggak baru, cuma kayak cocok aja buat dia tampil di festival kita gitu," ucap Ferry.
Proses kurasi juga mempertimbangkan karakter setiap panggung dan waktu tampil. Joyland memiliki beberapa panggung dengan kapasitas serta atmosfer yang berbeda sehingga penempatan artis turut disesuaikan dengan karakter pertunjukannya.
"Karena festival kan ada beberapa panggung, terus juga kita plotting-nya bisa, 'Oh, dengan panggung capacity segini kalau dia suasananya sore kayaknya cocok nih dimasukin artis atau band seperti ini gitu'. Atau yang ini band namanya nggak terlalu familiar di sini tapi dia cukup serius mendesain lighting-nya, kayaknya cocok ditaruh di panggung utama di slot malam," tuturnya.
Ferry menegaskan, pendekatan tersebut membuat Joyland tidak hanya melihat seberapa besar jumlah pendengar seorang musisi, tetapi juga bagaimana karakter penampilan mereka ketika disaksikan secara langsung.
"Kurang lebih seperti itu dan itu yang selalu kita lakuin di Joyland. Kayak itu kan sebenarnya dia di data tuh nggak ada pendengarnya di sini. Nggak ada pendengarnya gitu. Cuma memang itu band bukan buat didengerin sih, emang buat ditonton," tutup Ferry Darmawan.