Laze (Foto: dok. Laze)
Laze (Foto: dok. Laze)

Pertemuan Laze dengan Seni Merangkai Kata

Hiburan indonesia musik Laze
Dhaifurrakhman Abas • 12 Juli 2020 09:00
Jakarta: Rapper asal Indonesia, Havie Parkasya, atau yang akrab disapa Laze, kembali menyegarkan belantika musik Indonesia dengan karya terbarunya berjudul Turun Dari Langit. Lagu ini digarap untuk mengajak pendengar melupakan sejenak pergejolakan ekonomi yang sedang sulit.
 
"Di masa yang sulit ini ada baiknya berkhayal yang menyenangkan agar bisa menjauh sedikit dari kecemasan," kata Laze ketika berbincang dengan Medcom.id, tempo hari.
 
Lagu Turun Dari Langit terinspirasi dari hasil inspeksinya terhadap dinamika sosial ekonomi di sekitarnya belakangan ini. Roda ekonomi dan sosial, kata dia, sedang mengalami masa-masa sulit. Sebab itu dia ingin mengajak pendengar bermimpi menjadi kaya raya melalui karyanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ketika roda ekonomi sedang tidak berputar dengan baik alangkah menyenangkannya kalau uang bisa turun dari langit, lalu kita bisa berlari mengejarnya," papar Laze.
 
Rilisan lagu ini praktis menandakan karier Laze yang sudah 13 tahun berkecimpung di belantika musik hip hop Indonesia. Kami pun mencoba menelaah perjalanan musik yang telah dilalui musisi muda tersebut.
 
Pertemuan Laze dengan Seni Merangkai Kata
Laze featuring Kara Chenoa, di lagu Turun Dari Langit (Foto: dok. Laze)
 
Laze mulai mengenal musik hip hop sejak duduk di bangku SD. Kala itu dia mengidolakan Eminem, 50 Cent dan musisi hip hop Amerika lainnya dalam menyanyikan lagu rap.
 
Kecintaan terhadap musik Rap berlanjut hingga remaja. Laze mulai menyaksikan film 8 Mile (2002) yang diperankan Eminem. Film musikal ini menceritakan seorang rapper yang menjadi tenar ketika mengikuti sebuah battle musik rap.
 
"Ketika menonton, saya penasaran, ada enggak ya battle kayak begitu di Indonesia. Ternyata ada battle Rap Hip Hop Asongan. Jurinya Saykoji," kata Laze ketika berbincang dengan Medcom.id, tempo hari.
 
Laze lantas mengikuti kontes rap tersebut di usia 15 tahun dengan nama panggung Lazy-P. Dia paling muda di sana. Namun kemampuan rapnya tak kalah dengan orang dewasa.
 
Benar saja, skill freestyle rap yang dimiliki Lazy-P sukses menumbangkan lawan-lawannya. Dia jadi jawara dalam kontes rap battle itu. Kemenangan ini membawanya menyandeng predikat berjuluk Raja Freestyle Indonesia.
 
"Semenjak ikut rap battle sudah yakin kayaknya memang jalurnya (karier) di hip hop," ucap Laze.

Debut Album


Bertahun-tahun setelah kemenangan itu, Laze mulai serius dengan industri musik hip hop. Dia kemudian menelurkan album perdananya bertajuk Vacant Room pada 2015.
 
Album berisikan 10 lagu ini dia jual dengan menggunakan Friendster, Facebook dan juga My Space. Dia berusaha menjual lagunya sambil berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sayangnya album Vacant Room yang menyuguhkan 10 lagu hip hop mayoritas berbahasa Inggris ini kurang diminati publik.
 
"Jadi saya sempat yang naro-naro lagu di MySpace, Friendster. Instagram dan YouTube belum sebegitu booming-nya kala itu. Sehingga talent belum terekspos sama media sosial. Jadi untuk me-marketing-kan diri sendiri lumayan sulit waktu itu," ucap dia.
 
Laze kemudian memulai semuanya dari awal dengan konsep bermusik dan promosi yang lebih matang. Dia lantas menelurkan debut album berbahasa Indonesia pertamanya bertajuk Waktu Bicara pada 2018. Laze mulai merambah media sosial Instagram dan YouTube sabagai medium promosi dari album yang menceritakan pencarian jati diri para manusia Ibu Kota tersebut.
 
"Setelah itu baru mulai bikin IG dan video klip di YouTube makin efisien. Alhasil album pertama bahasa Indonesia saya Waktu Bicara dirilis," papar Laze.
 
Laze juga menuturkan alasannya menggunakan bahasa Indonesia di album Waktu Bicara. Hal ini karena dia bangga dengan bahasa nasional.
 
"Bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama saya dan bahasa negara saya. Jadi, menurut saya untuk menyentuh lebih banyak orang Indonesia harus dengan bahasa Indonesia. Sehingga selanjutnya album saya akan menggunakan bahasa Indonesia semua," terang Laze.
 

Bahasa dan Perkembangan Hip Hop di Indonesia


Laze menuturkan bagaimana perkembangan hip hop di mata masyarakat Indonesia. Berdasarkan pengamatannya, pada dasarnya masyarakat sudah memiliki ketertarikan dengan genre musik ini sejak lama.
 
"Sebenarnya gini. Masyarakat dari dulu sudah menikmati musik hip hop. Tapi waktu itu lebih tertarik dengan genre lainnya," ucapnya.
 
Ini karena lagu rap bukan menjadi genre utama di Indonesia. Lagu rap kala itu secara mayoritas hanya diterima di kalangan underground atau komunitas rap.
 
Namun seiring perkembangannya, Laze bilang, musisi rap mulai diterima dengan sangat baik di pelbagai industri musik, dibuktikan dengan hadirnya musisi di acara-acara musik besar.
 
"Secara industri, saya lihat rapper sudah mulai main di festival atau hiphop mulai main dengan jumlah yang makin sering," ujarnya.
 
Menurut Laze, meningkatnya minat masyarakat terhadap lagu rap sangat berhubungan erat dengan perkembangan layanan musik di era digital. Saat ini masyarakat bebas memilih musik mana yang hendak mereka dengar.
 
"Dulu awal-awal 2007-an ke sini rapper main di acara komunitas hiphop aja. Tapi anak-anak generasi sekarang di era internet, mereka pilih apa yang mau mereka dengar ketimbang yang dulu terbatas disiarkan di TV dan radio," kata Laze.
 
Musikalitas rapper Indonesia juga tak kalah dengan penyanyi hip hop luar negeri. Sehingga minat dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap genre musik tersebut semakin tinggi.
 
"Musikalitas musisi sekarang sudah banyak yang bisa bersaing dengan internasional, contoh, Rich Brian, Yacko, Ramengvrl. Musisi Indonesia yang enggak kalah dengan negara tetangga," ucapnya.
 
Sementara itu, Laze mengatakan, peminat rap dengan musikalitas berbahasa Indonesia juga semakin diminati di Tanah Air. Setidaknya perkembangannya peminatnya di komunitas rap terlihat sangat jelas.
 
"Rap berbahasa Indonesia selalu ada peminatnya. Mungkin kalau enggak di area mainstream, di underground banyak," paparnya.
 
Hanya saja, Laze mengakui masih terdapat demografi pendengar musik rap di Indonesia. Kalangan modern lebih menghargai musisi rap Indonesia yang bernyanyi menggunakan bahasa Inggris.
 
"Cuma memang ada demografi yang berbeda listener rap Indonesia dan Inggris. Yang Inggris mungkin yang dengerin anak muda hypebeast dan modern. Dan mereka biasanya jarang dengar yang bahasa Indonesia. Sebaliknya yang dengar rap bahasa Indonesia juga enggak dengerin rap Indonesia yang bahasa Inggris, entah karena enggak memahami bahasa atau lainnya," ucapnya.
 
Laze mengatakan, musisi rap tak harus menyanyikan lagu rap dengan bahasa Inggris. Menurutnya, menyanyikan rap harus dilakukan dengan menggunakan bahasa yang paling nyaman untuk dinyanyikan.
 
"Kalau masalah bahasa ya pilih aja bahasa yang nyaman. Kalau nyaman dengan Inggris, enggak apa. Tapi kalau nyaman Indonesia, ya dilakuin aja Indonesia sambil belajar bahasa Inggris. Jadi elemen penting untuk berlagu atau berkarya adalah mengenal diri sendiri. Iwa K pernah bilang, kalau lo nemuin cara berkesenian sebelum menemukan cara lo membawa diri, justru bisa bahaya. Karena apa yang lo sampaikan bisa jadi enggak ada jiwanya," tandas Laze.
 

Berkarier Sebagai Rapper


Dalam perbincangan ini, Laze juga membahas peluang karier sebagai seorang musisi rap. Laze bilang, musisi rap memiliki masa depan yang cerah dilihat dengan semakin tingginya minat pendengar terhadap genre musik tersebut.
 
"Kalau karier rapper itu sangat baik. Tapi enggak ada salahnya lo kerja dulu atau punya bisnis lain sebelum mulai. Karena hip hop dan entrepreneurship itu hubungannya dekat," ucap dia.
 
Dia juga menekankan agar jangan terlalu memikirkan keuntungan ketika seseorang ingin berkecimpung di dunia hip hop atau rap. Laze bilang, yang utama soal musik rap adalah bagaimana menuangkan keresahan menjadi sebuah lagu. Jangan takut jika lagu tersebut kurang diminati.
 
"Kalau rekaman jangan pikirin sisi bisnisnya kayak bakal laku enggak ya lagu yang dibuat. Itu pikirin nanti ketika lagu sudah jadi," papar Laze.
 
Adapun Laze mengatakan lagu rap bisa mengangkat tema apa saja. Lirik lagu rap tak melulu harus mengandung unsur kritik terhadap fenomena sosial.
 
"Sebenarnya enggak selalu kritik. Hip hop liriknya itu sangat berdasarkan apa yang musisi itu rasain atau pedulikan. Ketika rapper hobi masak, boleh aja bikin lirik masak. Hip hop itu apa yang dimengerti musisi aja. Jadi jangan sampai pikir, oh hip hop itu kritis," terang dia.
 

(ELG)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif