Joey Alexander (Foto: AFP)
Joey Alexander (Foto: AFP)

Menyelisik Keseharian Joey Alexander di Luar Musik

Hiburan joey alexander
Agustinus Shindu Alpito • 21 Mei 2016 16:40
medcom.id, Jakarta: Melihat aksi Joey Alexander bermain piano tentu kita akan terpukau. Lantas timbul berbagai pertanyaan tentang sosoknya. Bagaimana tidak, di usia yang sangat muda Joey begitu piawai dan juga berprestasi. Tidak menggambarkan sosok anak pada usianya.
 
Joey, lahir pada 25 Juni 2003, saat ini baru berusia 12 tahun. Prestasinya tentu tak perlu kita ragukan lagi. Dia adalah satu-satunya musisi Indonesia yang atas namanya sendiri menembus nominasi Grammy Awards. Bahkan masuk dalam jajaran musisi termuda yang berhasil masuk dalam nominasi, sepanjang sejarah Grammy Awards.
 
Pada Kamis (19/5/2016), Metrotvnews.com berkesempatan bertemu Joey Alexander dalam konferensi pers konsernya di JIExpo Kemayoran, 22 Mei 2016. Joey datang ke Indonesia dari New York bersama kedua orang tua dan segenap manajemen, termasuk drummer jazz dunia Jeff “Tain Watts dan pemain contrabass Dan Chmielinski. Dua nama itu turut tampil di atas panggung dalam konser Joey.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Usai konferensi pers, Metrotvnews.com bertemu dengan ayah Joey, Denny Sila. Kami berbincang seputar kehidupan Joey di luar panggung.
 
Pemandangan anak berusia 12 tahun bermain jazz dengan musisi berusia di atas 50 tahun secara profesional tentu menarik. Bagaimana pribadi Joey ketika beranjak dari hadapan piano dan turun panggung? Apakah dia seperti bocah 12 tahun pada umumnya yang sering kita jumpai sedang bermain sepak bola di jalan, bermain games di tablet atau ponsel pintar, merengek pada orangtua minta dibelikan mainan? Pertanyaan-pertanyaan macam itu menghantui ketika bertemu orangtua Joey.
 
"Dia suka berenang. Dia seperti anak kecil lain, main toys, koleksi mainan superhero," kata Denny menjelaskan sosok Joey di luar musik.
 
Cukup sulit memang membayangkan Joey di luar panggung. Mengingat pembawaannya yang sangat dewasa ketika di hadapan publik. Hal itu terlihat dari bagaimana cara Joey menjawab pertanyaan para wartawan, sangat bijak dan tenang.
 
"Saya tidak bisa memberi advice, keep going and focus," salah satu contoh jawaban Joey saat ditanya tips yang bisa dibaginya kepada para musisi muda. Sebuah jawaban yang tidak terdengar terlontar dari anak berusia 12 tahun.
 
Menyelisik Keseharian Joey Alexander di Luar Musik
 
Denny membeberkan, selain mendengarkan musik, waktu luang Joey diisi dengan menonton film. Ini seperti membuka celah bagi kita untuk memahami sisi Joey yang seperti anak-anak pada umumnya.
 
Selain bergaul dengan para musisi yang secara usia terpaut jauh, Joey juga memiliki teman-teman sebaya. Meski baru dua tahun tinggal di New York, Denny tidak merasa Joey kesulitan beradaptasi dengan lingkungan di sana.
 
"Joey itu fleksibel, main sama anak kecil juga. Dia main juga sama anak-anak di sekitar rumah, kalau lagi weekend kami suka ke tempat keluarga dan kumpul, di sana ada anak-anak. Lalu ada klub renang dan klub tenis yang diikuti Joey, di sana bertemu anak-anak juga," katanya.
 
Seperti bocah pra-remaja lainnya, Joey juga memanfaatkan teknologi informasi untuk mencari-cari hal yang disukainya. Joey kerap mengeskplorasi referensi musik pop lewat YouTube.
 
"Dia juga mendengarkan lagu top 40, tapi lagu zaman dulu, dia suka Michael Jackson, James Brown,” urainya.
 
Mendengar jawaban Denny, Metrotvnews.com tertarik mengetahui lebih dalam apakah Joey juga mendengarkan musik dari musisi yang sedang digilai anak muda saat ini, salah satunya Justin Bieber.
 
"Dia enggak (mendengarkan Justin Bieber). Saya selalu mengawasi dia buka YouTube, saya tahu apa yang dia dengarkan, dia juga mendengarkan John Mayer,” ujarnya.
 
Hubungan antara Denny dan Joey tak sebatas ayah dan anak. Keduanya di saat bersamaan bisa jadi sahabat dan partner bermusik. Obrolan keduanya sehari-hari tidak jauh dari musik.
 
"Setiap hari kami diskusi, dia latihan dua jam, mendengarkan musik lalu kami ngobrol. Kami ngobrol soal sejarah (musik), dia biasa tanya soal cara bermain dia. Misal dia bilang menambahkan not apa (dan terdengar seperti apa)," ucapnya.
 
Salah satu fakta menarik yang diungkapkan Denny adalah tentang perjalanan awal musikal Joey. Tidak banyak yang tahu bahwa Joey sempat belajar menyanyi ketika di Bali.
 
"Pertama (pengalaman tampil bermusik) umur tujuh tahun, dia dulu awalnya menyanyi. Menyanyi Amazing Grace. Dulu dia sekolah vokal. Setelah dia main piano, dia enggak mau menyanyi lagi," katanya.
 
Pengorbanan Orangtua
 
Apa yang dicapai Joey pada saat ini tentu tidak lepas dari peran orangtua. Kedua orangtua Joey adalah sosok yang sangat mendukung minat dan bakat Joey.
 
Denny menjelaskan bahwa dia dan istrinya saat ini membagi peran untuk mengembangkan karier Joey. Ibu Joey, Fara Leonora Urbach, selalu setia mendampingi ke mana Joey pergi. Menyambangi negara demi negara untuk pentas musik. Sementara persoalan teknis, dipegang oleh Denny.
 
“Saya bertindak sebagai manajer, urus musik dia juga, saya yang dampingi dia latihan. Persiapan untuk performances, hubungi pemain lain, deal dengan manager, lawyer. Joey hanya ingin main, semua urusan di luar itu saya dan ibunya. Kami masing-masing punya job descriptions,” jelas Denny.
 
Orangtua Joey memang melihat potensi Joey dari awal dan fokus mengembangkan hal itu. Sewaktu mereka tinggal di Bali, Denny kerap membawa Joey yang masih berusia di bawah 10 tahun untuk terlibat dalam sesi jamming bersama musisi-musisi jazz di sana.
 
Hal serupa juga mereka lakukan saat ke Jakarta. Perlahan namun pasti, bakat Joey mulai dilirik oleh musisi jazz nasional. Joey sering diajak bermain oleh Benny Likumahuwa di sejumlah tempat di Jakarta. Dia juga sering hadir dalam sesi jamming di klub jazz kafe Red White yang dimiliki oleh Indra Lesmana.
 
Melihat kemampuan bermusiknya semakin berkembang, orangtua Joey memutuskan untuk hijrah ke New York. Kota di mana jazz berkembang dengan sangat liar. Terlebih, Joey punya kesempatan untuk maju di sana. Dia mulai memiliki relasi baik dengan Wynton Marsalis yang memberinya banyak kesempatan.
 
Keputusan untuk tinggal di New York tentu bukan hal mudah. Hal itu diakui Denny. Ayah Joey itu tidak menampik bahwa mereka harus rela menjual aset demi ke New York.
 
“Ya, kami sampai menjual rumah,” kata Denny. “Sekarang homeless,” lanjutnya sembari tertawa.
 
Saat disinggung apakah keputusan hijrah ke New York “membayar” segala harapan dan pengorbanannya dulu, Denny menyikapi dengan bijak.
 
“Pertimbangannya (ke New York), saya rasa itu yang terbaik untuk dia. Jika memang dia suka dengan musik dan itu membawa yang terbaik untuk dia. Tuhan kasih kita lebih dari yang kita bayangkan, lebih dari ekspektasi. Awalnya kami ke sana pengin (Joey) belajar, tujuannya simpel." terangnya.
 
Joey adalah fenomena. Bahwa mereka para anak yang sering dicap selalu kekanak-kanakan, nyatanya membawa sesuatu yang mencengangkan. Bakat dan potensi anak tidak bisa diremehkan begitu saja oleh orangtua, karena bukan tidak mungkin mereka adalah “Joey” yang lain.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif