Berbeda dari festival musik pada umumnya yang berpusat di satu area, Soundrenaline Sana Sini Yogyakarta mengajak pengunjung menjelajahi empat panggung dengan karakter berbeda. Keempatnya terdiri dari Alun-Alun Stage, Kasultanan Stage, Garden Stage, dan Dengar Kota Stage.
Pemilihan empat lokasi yang masih berada dalam satu kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya penyelenggara menghadirkan pengalaman festival yang berbeda. Dengan konsep ini, penonton diharapkan dapat berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya untuk menikmati beragam pertunjukan.
Namun, pelaksanaan di lapangan justru menghadirkan persoalan tersendiri. Sejumlah penonton mengaku kesulitan mengakses panggung karena penyelenggara menerapkan pembatasan jumlah pengunjung berdasarkan kapasitas masing-masing venue.
Akibatnya, meski telah memiliki tiket festival, tidak semua penonton bisa masuk dan menyaksikan penampilan yang mereka inginkan.
Keluhan tersebut ramai disampaikan melalui media sosial Threads. Salah satu penonton dengan akun @yashitadr mengaku kecewa karena tidak bisa menyaksikan penampilan The Adams dan The SIGIT akibat kapasitas panggung yang sudah penuh.
"Jujur konser teraneh, jualan tiket tapi yang bisa masuk ke stage di kuota in. alhasil ga kebagian nonton The Adams. The sigit juga full capacity. btw tiket OTS juga masih ready, terus kalo gabisa nonton apa-apa gini gw suruh ngapain? soundrenaline jogja 2026 totally fail," tulis akun Threads @yashitadr.
Keluhan serupa disampaikan akun @21moon.png. Ia mengaku sudah datang sejak awal acara agar bisa menikmati seluruh penampilan yang masuk dalam daftar pertunjukan. Namun, aturan pembatasan kapasitas membuatnya kesulitan berpindah panggung.
"Jujur beneran kecewa banget, aku udah berangkat dari awal biar bener² kena sdmua gs-nya (bisa menonton semua penampil). Ternyata ada aturan tidak tertulis kalo misal stage penuh, kita gabole masuk. Sedangkan jarak stage 1 ke yang lain lumayan jauh dan harus antri," tulis akun tersebut.
Kendala akses panggung rupanya tidak hanya dirasakan pengunjung. Sejumlah rekan media yang bertugas meliput festival juga mengaku kesulitan masuk ke area pertunjukan akibat padatnya penonton dan penerapan pembatasan kapasitas.
Akun media @gigssociety, misalnya, menceritakan pengalaman mereka saat meliput penampilan kolaborasi spesial dari Efek Rumah Kaca (ERK) dan Majelis Lidah Berduri (Melbi). Mereka harus menunggu lebih dari satu jam sebelum akhirnya bisa masuk ke area pertunjukan.
"Jujur, penampilan ERK X Melbi magis banget. Kami berhasil masuk melakukan liputan setelah stay 1 jam lebih disana. Tapi ternyata begitu keluar area indoornya, rame banget yang antri di bawah karena tidak dapat masuk/full kapasitas," tulis akun tersebut.
Konsep Pembatasan Penonton Kurang Efektif atau Salahnya Pemilihan Venue Acara?
Berbagai keluhan tersebut menjadi catatan penting bagi penyelenggara Soundrenaline Sana Sini Yogyakarta. Konsep festival dengan beberapa panggung memang menawarkan pengalaman berbeda, tetapi penerapannya perlu mempertimbangkan kapasitas venue, mobilitas penonton, hingga akses menuju setiap pertunjukan.
Pembatasan jumlah pengunjung di setiap panggung pada dasarnya dapat menjadi upaya menjaga kenyamanan dan keamanan selama acara berlangsung. Namun, ketika penonton yang telah membeli tiket justru kesulitan menyaksikan penampil yang mereka tunggu, efektivitas konsep tersebut patut dievaluasi.
Penyelenggara perlu mengkaji kembali sistem pembatasan kapasitas sekaligus mempertimbangkan pemilihan venue dengan daya tampung yang lebih memadai.
Pengaturan antrean dan alur perpindahan penonton (crowd control) antarpanggung juga menjadi aspek penting agar konsep festival multi-venue tidak justru membatasi pengalaman pengunjung.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah festival bukan hanya ditentukan oleh deretan musisi yang tampil atau konsep panggung yang ditawarkan. Kemudahan akses bagi penonton untuk menikmati seluruh rangkaian pertunjukan favorit mereka juga menjadi bagian penting dari pengalaman festival.