Pamela Kosin (Foto: Rigel Haryanto)
Pamela Kosin (Foto: Rigel Haryanto)

Pamela Kosin, Komposer Masa Depan Dunia dari Indonesia

Hiburan indonesia musik
Agustinus Shindu Alpito • 19 Desember 2018 07:00
Usianya 27 tahun, pada masa simpang quarter life crisis seperti dikeluhkan orang-orang seumurannya, dia justru melahirkan karya-karya mengagumkan. Dia adalah Pamela Kosin.
 
Nama Pamela Kosin belum terdengar sebelumnya di Indonesia. Kalaupun muncul, banyak yang mengaitkan dia sebagai putri Aminoto Kosin, musisi yang pernah bergabung dengan grup jazz legendaris Karimata.
 
Lepas dari bayang-bayang nama sang ayah, Pamela Kosin adalah seorang seniman jenius. Dalam waktu bersamaan, dia seorang pelukis dan komponis musik klasik. Tidak sembarangan, Pam - demikian dia akrab disapa - mendapat dua gelar bergengsi dari dua universitas berbeda terkait apa yang ditekuninya itu. Dia lulusan seni rupa Savannah College of Art and Design dan mengenyam pendidikan komposisi musik di Berklee College of Music.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di Savannah College, Pam lulus dengan predikat cum laude. Sedangkan di Berklee, dia mencapai GPA 3,7. Prestasinya tidak berhenti sampai di situ. Pam pernah membuat sebuah komposisi berjudul Cendrawasih: A Dance in Paradise yang lantas ditampilkan di kota-kota besar dunia, antara lain New York City, Boston, Den Haag dan Luksemburg.
 
Pam juga aktif sebagai penata musik film-film festival dan masih menyempatkan diri untuk mengajar musik, di sela-sela aktivitas padatnya itu, dia tetap melukis. Dia menguasai instrumen biola, piano dan dapat pula memainkan cello.
 
Hasil scoringPam untuk film pun tidak bisa dianggap remeh. Dia pernah diganjar penghargaan Best Score dari Hong Kong International Film Festival. Sejauh ini, Pam telah membesut scoreuntuk 26 judul film yang menembus festival-festival film berpengaruh di dunia, termasuk Tribecca Film Festival dan Sundance Film Festival.
 
Guru Pam di Savannah College berkeyakinan bahwa masa depan anak Jakarta ini di bidang musik cerah.
 
“Mengetahui musikalitasnya yang canggih, tidak mengejutkan saya ketika Nona Kosin mendapatkan penghargaan Best Score untuk musiknya. Untuk dipilih sebagai Best Score oleh tiga festival internasional jelas merupakan bukti bakat dan kerja kerasnya yang luar biasa. Raksasa-raksasa penggubah film hari ini seperti Ennio Morricone dan Alan Silverstri memulai karier mereka dengan bekerja untuk festival film sebelum bekerja untuk film-film box office. Saya tidak ragu bahwa Nona Kosin akan mengikuti jejak para raksasa tadi dalam musik dan kariernya,” ujar Margo Ames, profesor musik selama lebih dari 30 tahun di Savannah College of Art and Design.
 
Pengakuan lain datang dari Profesor Dennis LeClaire yang telah mengajar lebih dari 50 tahun di Berklee College of Music. Dia menilai komposisi Cendrawasih: A Dance in Paradise yang ditulis Pam adalah sebuah kesegaran baru.
 
“Menurut saya sebagai komposer, komposisi perkusi Nona Kosin ini luar biasa inovatif dengan menafsirkan pola ritme gamelan dalam pendekatan Messiaenik. Dia bekerja sama dengan MIT Gamelan Ensemble untuk meneliti prospek konsepnya. Sebagai hasilnya, ia menciptakan suatu irama beragam yang sangat berbeda, canggih, dan terbilang baru untuk dunia musik kontemporer. Tidak mengherankan bagi saya jika musik Nona Kosin kemudian menarik perhatian para musisi virtuoso,” jelas Profesor LeClaire.
 
Beberapa waktu lalu, Pam menyempatkan diri berkunjung ke kantor Medcom.id. Dia membagikan gagasan seputar seni rupa dan musik. Meski jalan Pam untuk membuktikan karya-karyanya masih sangat panjang, tetapi melalui dia kesempatan mengharumkan nama Indonesia di panggung musik klasik dunia terbuka.
 
Kini, Pam tinggal di kota New York, Amerika Serikat. Dari sana dia melakukan pembuktian demi pembuktian untuk cita-cita besarnya, jadi komposer hebat dunia.
 
"Musik klasik di Amerika berkembang banget, mereka selalu mencari komposer baru. Di sini (Indonesia) kurang (ada kesempatan), di sini bahkan pemain musik klasik masih main lagu-lagu zaman klasik, zaman romantic saja belum."
 
"Di sini musik klasik terkesan elitis dan tidak memasyarakat. Mungkin untuk memasyarakatkan bisa dimulai dengan mementaskan musik klasik di galeri-galeri kecil. Aku juga ada rencana membuat pameran dan opening reception-nya dengan bermain musik klasik dari album aku," ujar Pam.
 
Pam saat ini tengah mempersiapkan album debutnya. Dia akan merekam album itu di Amerika dengan melibatkan musisi-musisi lulusan universitas top dunia, antara lain Yale, Harvard dan tentu saja Berklee. Rencananya, akhir 2019 album itu akan dirilis, pada tahun yang sama dia juga akan menggelar pameran lukisan.
 
"Judul album belum tahu, itu paling susah. Konsep saya, album itu koleksi dari musik pendek saya. Seperti buku kumpulan puisi. Chamber music."
 
"Untuk proses kreatif, pure notasi dan sound, aku main di tension dan release-nya."
 
Apa yang dilakukan Pam lewat musik klasik rasanya turut membanggakan Indonesia. Bukan mustahil jika suatu hari nanti karya-karya Pam jadi bagian dari sejarah musik klasik dunia. Harapan itu tak berlebihan jika melihat kemampuan Pam sejauh ini.
 
"Guru-guru saya di Amerika terkadang kaget juga dengan komposisi saya, beberapa guru saya ada yang sudah ke Indonesia, banyak juga guru-guru saya yang sudah main di Java Jazz. Saat mereka lihat komposisi saya, terus dia bilang, "Emang di Indonesia musik klasik kuat?" Terus saya bilang hasil penulisan komposisi itu saya pelajari saat di Berklee."
 
"Mereka merasa komposisi saya, ini kata guru saya orang Rusia, komposisi saya dewasa dan ada sisi misterinya. Meski enggak perfect, tetapi dia bilang ada karakternya. Style saya disebut tidak pernah ada sebelumnya, disarankan untuk dimasukkan ke sejarah, ke line-up," ujar Pam malu-malu.


Belajar Mendengar


Saat ditanya apa hal besar yang didapat Pam dari musik klasik, dengan tegas dia menjawab, "belajar mendengar."
 
"Musik klasik mengajarkan kita untuk mendengar, karena orang terbiasa ingin didengar. Belajar musikmelatih saya mendengar lebih baik dan lebih sabar."
 
Hal itu juga yang ingin Pam bagikan ketika suatu hari nanti memiliki kesempatan untuk mengajar musik di Indonesia.
 
"Saya ingin orang mendengar, ada satu bahasa lain, yaitu bahasa musik. Agar orang-orang mengetahui keindahan dan sesuatu yang mendalam."
 
Perjalanan Pam sampai di titik ini tidak instan. Dia mulai bermain biola pada usia 5 tahun. Peran sang ayah, Aminoto Kosin, sangat besar. Dari kecil Pam sudah akrab menonton pertunjukan musik, termasuk orkestra. Pam sempat bergabung juga dengan Yayasan Musik Amadeus Indonesia. Satu dari sedikit wadah bagi para musisi klasik di Indonesia.
 
Uniknya, Pam belum benar-benar membayangkan profesi apa yang akan ditekuninya sampai pada akhirnya mengambil studi di Berklee, salah satu perguruan tinggi musik terbaik dunia. Pam mendapat beasiswa untuk studi di Berklee selepas lulus dari Savannah College.
 
"Dulu saya teacher assistant di Berklee, saya ikut mengajar mulai dari materi harmony jazz, harmony traditional, conducting, dan lain-lain. Saya juga mengajar biola dan piano untuk anak-anak sampai tingkat tes untuk masuk ke universitas musik," ujar Pam.
 
Saat di Berklee, Pam mendapat pengalaman-pengalaman luar biasa. Dia sempat terlibat dalam berbagai pementasan musikal dengan judul-judul legendaris, antara lain Grease, Titanic, Houdini hingga Into the Woods.
 
Pam berencana menghabiskan akhir tahun 2018 di Indonesia, sebelum bertolak lagi ke Amerika, tempat mimpi-mimpinya dia labuhkan.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif