Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta
Tashoora usai rekaman live di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Bantul (Foto: Antonius Dian)
Tashoora, grup musik muda dalam skena indie Yogyakarta, siap merilis karya rekaman debut pada akhir tahun. Dirangkum dalam judul Ruang Pertama, album mini atau extended play (EP) ini menjadi hasil eksperimen setahun di studio dan setahun berikutnya di panggung pertunjukan.

Proses rekaman Ruang Tatap dilakukan secara live serta terbuka bagi sejumlah wartawan, rekan musisi, dan kerabat. Ini pilihan yang diambil karena alasan "seru-seruan" serta pengalaman awal rekaman di studio yang membuat mereka "risih" dan ingin merekam sesuatu yang terasa natural.

Grup ini berjalan dalam formasi sekstet instrumen yang hampir semua menyanyi tanpa vokalis utama, setidaknya untuk album debut. Racikan instrumen awalnya meliputi gitar akustik dari Danang Joedarmo, gitar elektrik dari Sasi Kirono, gitar bass dari Gusti Arirang, akordion dan piano dari Dita Permatas, dan violin dari Danu Wardhana. 


Drummer Mahesa Santoso, masuk belakangan dan menambah warna musik Tashoora yang disebut Gusti dan Danang "lebih grande". Pengaruh musik terbesar, kata Gusti, datang dari musik-musik Eropa Timur dan Mongol.

"Begitu Mahesa masuk, perubahan cukup besar. Begitu drum masuk, ya ini jadi band," ungkap Gusti kepada Medcom.id usai sesi rekaman di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Bantul, belum lama ini. 

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif, terlantun lirik-lirik puisi serius bermakna konotatif yang merefleksikan isu-isu sosial bagi kaum terpinggirkan. Lirik Nista misalnya, berangkat dari kasus penolakan jenazah nenek Hindun di Jakarta karena berbeda pilihan politik saat Pilkada. 

Lalu ada Sabda yang menyoal rasisme, Tatap yang memaknai ketuhanan, Terang yang menyinggung Pancasila, serta Ruang tentang keberagaman. Semua lirik digarap berdua oleh Gusti dan Danang.

Soal pertunjukan, mereka punya perhatian khusus terhadap penampilan visual di panggung. Pakaian bergaya boho, yang mendapat pengaruh dari berbagai jenis gaya bohemian dan hippie. Mereka berlima, selain drummer, berdiri sejajar di bagian depan panggung. Semua instrumen juga berwarna merah. Logo grup ini adalah ikon dua mata buatan Tashoora dan Farid Stevy, seniman visual sekaligus pentolan grup FSTVLST.

Bukti keseriusan lain dalam merintis grup ini, kata Danang, adalah investasi alat dan produksi. Danang mengaku bahwa sejak awal Tashoora berjalan, mereka bersedia memberikan komitmen serius.

"Semua berani komitmen, satu sampai dua tahun ini kami investasi ke alat dan produksi. Jadi, memang sudah pasti mau serius," ujar Danang, yang sebelumnya lebih aktif sebagai manajer sejumlah grup musik dalam Yellow Management. Dia juga pernah aktif bersama Dita dan Ajityo Soeprijadi dalam grup musik Tik! Tok! sebelum proyek folk indie ini bubar pada awal 2016.




Berawal dari "Proyek Iseng" untuk Efek Rumah Kaca

Dalam rangka Netlabel Day pada penghujung 2016, CC Indonesia dan Ripstore Asia menggelar kontes membawakan ulang lagu-lagu Efek Rumah Kaca (ERK) sebagai wujud penghargaan bagi grup indie tersebut.

Danu, Dita, dan Danang sedang di warung bubur kawasan Gondokusuman ketika membaca pengumuman kontes tersebut. Didorong keinginan iseng berkarya, terlebih lagi karena grup dan proyek musik sebelumnya sudah bubar, mereka bertiga ikut kontes tersebut. 



Namun sebelumnya, Danu dan Dita sebenarnya telah "iseng" membuat proyek instrumental violin, akordion, dan trombone. Mereka membawakan aransemen atas lagu Libertango yang aslinya diciptakan Astor Piazzolla. Rekaman dilakukan di studio Satrio Piningit milik Sasi di Kalasan. 



Untuk kontes ERK tersebut, mereka bertiga membuat versi folk lagu Desember, yang mana juga pernah dimainkan Danang dan Dita ketika grup Tik! Tok! masih aktif. Rekaman juga dilakukan di studio milik Sasi. Selain mengerjakan pasca-produksi audio, Sasi juga mengisi tambahan musik gitar.

"Waktu mengirim, kami enggak pakai nama asli, pakai nama samaran," ujar Dita. 

Nama Tashoora sendiri diplesetkan dari nama jalan rumah Dita, tempat mereka latihan dan rekaman pertama kali, yaitu Jalan Tasura di kawasan Maguwoharjo, Yogyakarta.



Respons pendengar ternyata menyenangkan. Desember versi Tashoora masuk lima besar lagu dengan "likes" terbanyak di media sosial. Selain itu, masuk 14 besar final yang dikemas dalam kompilasi Tribute to Efek Rumah Kaca. 

"Waktu kompetisi itu, banyak (versi cover) yang beda banget. Kami langsung 'spam' teman-teman sendiri. Kami satu grup, tetapi punya inner circle beda. Akhirnya tercakup luas," tutur Danu, violinis lulusan Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) yang kerap bermain solo dan kadang aktif di kanal YouTube MR.DANUKW.

"Kami kaget, banyak juga yang tahu karena ada yang mengunggah ulang lagu Desember versi Tashoora, seolah-olah kami eksis padahal ya cuma proyek luang saja. (...) Kayaknya proyek ini sayang kalau ditelantarkan. Gimana kalau lanjut tapi pelan-pelan, seluangnya, yang penting bisa jadi ajang bermusik," imbuhnya. 



Rencana itu akhirnya diseriusi. Mereka mengajak Sasi, yang biasanya membantu proses rekaman, mixing dan mastering, untuk bergabung sebagai gitaris. Selain mengelola studio rekaman, Sasi punya riwayat sebagai pemain gitar ekstra untuk sejumlah proyek musik indie, salah satunya grup metal Hopeless. 

Menghadapi formula musik berbeda, apalagi tiap personel punya latar belakang musik beragam, Sasi mengaku awalnya butuh usaha ekstra dalam meracik musik yang mampu melebur.

"Kalau digambarkan, anak-anak itu sudah main, aku masih bengong, ini mereka main apa dan aku harus ngisi apa. Danang bilang terserah dan aku banyak ide. 

'Ya aku banyak ide, tetapi dari tadi main, enggak ada yang masuk!' Mungkin itu berjalan tiga bulan, hanya diam, sampai akhirnya ketemu arah musiknya," ujar Sasi. 





Gusti bergabung sebagai bassist dan salah satu vokalis. Sebelumnya, Gusti aktif dalam grup folk Chick and Soup untuk lini vokal, glockenspiel, dan gitar. Grup ini sempat merilis album debut Singgah pada 2015, tetapi bubar tahun berikutnya. 



Sebelum masuk Tashoora, Gusti sempat "belajar" menjadi bassist terlebih dulu di grup metal Skandal yang juga berada di manajemen Yellow. Danang dan Dita mengakui bahwa dari keenam personel Tashoora dan lima yang menyanyi, hanya Gusti saja yang "sungguhan" penyanyi.

"Kami butuh banget buat latihan vokal ekstra karena kami bukan penyanyi, selain dia (Gusti)," ujar Dita.

"Karena kami semua diwajibkan bernyanyi, kami jadwalkan latihan seminggu tiga kali. Senin dan Rabu buat sesi vokal, Selasa buat nge-band bareng – dan sesi itu kami rekam sehingga kami tahu," tuturnya. 

Vokal berlima adalah konsep yang mereka sepakati dalam perjalanan setahun meramu musik di studio. Sempat ada eksperimen dengan satu vokalis, lebih dari satu vokalis, bergantian, atau memecah suara, tetapi mereka merasa tak cocok. 

"Kami perlakukan vokal sebagai instrumen. Kebetulan, tipe suara kami mengisi ruang yang kosong di antara instrumen," ujar Gusti. 

"Itu bagian dari aransemen. Jadi kami bikin aransemen termasuk vokalnya juga diperlakukan sebagai instrumen," sambung Dita. 

Mahesa adalah personel terakhir yang bergabung. Di luar Tashoora, dia aktif dalam grup jazz Rekoneko dan Mahesa & Friends. Ini semakin melengkapi latar belakang musik tiap personel Tashoora, mulai dari folk, orkestra, hingga metal. 

Setelah Mahesa masuk pada pertengahan 2017, Danang tidak lagi memakai bass drum injak. Menurut Mahesa, Danang mengajak dia bergabung agar eksplorasi perkusi drum bisa lebih luas. 

"Dia enggak bisa eksplorasi (perkusi), dia sudah minta," ujar Mahesa, yang telah mengenal Dita, Danang, dan para personel lain sejak kuliah di jurusan ekonomi UGM.  

"Dulu waktu grup Koala (proyek musik Dita selain Tik! Tok!) main, grup Rekoneko juga main. Grupku dan grupnya seumuran," imbuhnya. 

Untuk Tashoora, Mahesa meramu suara drum khusus yang berangkat dari imaji atas "orang-orang di gunung, ramai, main bendera". Secara pribadi, Mahesa menyebut bahwamusik Tashoora sekarang seperti "musik gunung", hasil dari serangkaian latihan dan evaluasi atas penampilan di panggung. 

"Kami memulai Tashoora seperti restart. Jadi benar-benar baru semua. Kami nyemplung di sini, belajar dari awal lagi, ngulik dari awal lagi. Kalau akhirnya terdengar sangat berbeda dengan yang dulu, sangat wajah sih. Proses yang kami lakukan di sini benar-benar baru buat kami sendiri," terang Gusti.






Menjadi Berbeda

Penampilan pertama Tashoora adalah panggung Island in The Sun pada Agustus 2017. Waktu itu ada delapan personel terlibat, termasuk dua tambahan. Setelah itu, mereka tampil dari panggung festival ke festival seperti Ngayogjazz 2017, Land of Leisure 2017 dan 2018 di Yogyakarta, Java Jazz 2018, dan Artjog 2018. 

Namun belum layak rasanya jika sebagai grup musik mereka belum membuat karya rekaman. Ruang Tatap yang memuat lima lagu asli adalah karya Tashoora yang akan menjadi album debut. Sejauh ini, mereka tidak hendak membuat EP ini sebagai hasil rekaman studio, tetapi hanya album live recording yang akan dirilis akhir tahun. 

Setelah tampil di berbagai panggung dan mengunggah rekaman pertunjukan mereka di YouTube, tidak jarang mereka menerima komentar bahwa lagu-lagu Tashoora mengingatkan kepada Barasuara dan Of Monster and Men (OMAM).

"Banyak yang bilang kayak OMAM, banyak yang bilang kayak Barasuara, tetapi beda kalau menurut saya sendiri," ujar Mahesa 

"Barasuara jauh lebih rock, kami enggak se-rock itu. Vokal kami juga lebih beda. Kalau OMAM, nyanyinya banyak yang gantian. Kalau kami bareng-bareng terus," imbuhnya. 

Danu tak keberatan dianggap mirip, tetapi dia tak sepakat dengan anggapan itu. 

"Mungkin kamu kurang mendengar lebih banyak (musik) saja. Jujur aku pribadi, pas dengar sekali, (ada kesan) mirip, tetapi begitu dengar lagi, bedanya pakai banget," ungkap Danu. 

Sasi menjelaskan bahwa tidak ada pengaruh langsung dari grup musisi tersebut. Dia juga tidak keberatan atas penilaian pendengar. Namun menurut Sasi, banyak detail musik yang berbeda. 

"Ya enggak terlalu OMAM dan Barasuara juga karena kalau lihat detail, banyak sekali yang beda," kata Sasi santai. 

Danang dan Gusti, yang menyebut bahwa mereka lebih banyak dipengaruhi oleh musik dari kawasan Eropa Timur dan Mongol, hanya berharap mereka mengikuti jejak yang sama dengan musisi yang disamakan. 

"Semoga kami sesukses mereka," pungkas mereka. 



 



(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id