The Rain, Sahabat Korban Patah Hati yang Pura-pura Tangguh

Agustinus Shindu Alpito 11 Juli 2018 14:26 WIB
indonesia musik
The Rain, Sahabat Korban Patah Hati yang Pura-pura Tangguh
The Rain saat tampil di Medcom.id (Foto: Dok. Medcom.id)
Tujuh belas tahun bukan usia singkat bagi sebuah band. Menyatukan visi, mengalahkan ego dan bertahan bersama di kala sulit bukan hal yang mudah. Beruntung, The Rain yang sudah 'terlatih patah hati' mampu melewati itu semua. 

The Rain bisa dibilang band yang hidup dua kali. Mereka sempat mengalami masa mati suri dan bangkit kembali pada 2013 lewat singel Terlatih Patah Hati yang juga melibatkan Endank Soekamti.

"Penggemar kami sudah mulai regenerasi, harus diakui kami sempat putus generasi. Dulu ada masa kalau main di SMA yang minta tandatangan gurunya. Kemudian ada regenerasi setelah lagu Terlatih Patah Hati dan Gagal Bersembunyi," kata sang vokalis sekaligus gitaris, Indra Prasta, saat bertandang ke kantor Medcom.id. beberapa waktu lalu.


Indra juga mengakui banyak penggemar The Rain yang sekarang mengira bahwa band ini adalah band baru, "Banyak anak SMA yang tanya, 'Kok sudah Om-Om baru bikin band sih?'"

Tidak semua band se-beruntung The Rain. Banyak grup-grup era 1990-an dan 2000-an awal yang sempat memiliki hit kini terkubur begitu saja. Bahkan tak terdengar gaungnya meski sesekali mencoba eksis kembali. Bangkit dari mati suri seperti anugerah bagi The Rain, karena mereka juga tidak menyangka bahwa singel Terlatih Patah Hati yang sempat dipandang sebelah mata justru menyelematkan karier mereka.

"Lagu itu (Terlatih Patah Hati) pertama kalinya kami indie, dulu kami sempat bergabung dengan label Prosound dan Nagaswara, terus kami mengundurkan diri. Akhirnya kami bikin Terlatih Patah Hati," 

"Kami dulu berpikir kalau The Rain nongol lagi enggak bisa dengan lagu yang sama. Lagu Terlatih Patah Hati sempat kami tawarkan ke label, tetapi enggak ada yang mau, lagunya dianggap enggak jualan, kurang 'The Rain.' Kami tidak menyangka, ternyata Terlatih Patah Hati ini arah penulisan lirik yang menarik."

Kesuksesan Terlatih Patah Hati disusul dengan singel Gagal Bersembunyi yang memiliki corak penulisan lirik yang sama. Akhirnya, dua lagu itu bisa dianggap sebagai cetak biru The Rain yang sekarang. Bukan lagi The Rain yang selalu berkutat pada melodi dan lirik sendu seperti di awal kemunculannya.

The Rain sadar, kesempatan hidup lagi harus diimbangi dengan strategi baru. Baik dari musikalitas maupun manajemen belakang panggung.




Rencana Berbahaya

Kini, The Rain meneruskan kiprah dengan singel baru berjudul Rencana Berbahaya. Singel yang akan masuk dalam album ke-tujuh mereka. Rencana Berbahaya agaknya bukan saja sebuah judul lagu semata, tetapi seperti pernyataan sikap The Rain untuk menatap perjalanan mereka ke depan.

"Kami beberapa tahun ini suka mengangkat cerita menertawakan kegetiran hidup sendiri. Itu bisa mewakili kisah orang ingin move on atau pura-pura tangguh, Karena lagu kami zaman dulu sudah banyak sekali yang melankolis. Saat ini kami lebih nyaman dengan lirik seperti itu, lirik ngenes, tetapi tokoh utama selalu punya harapan di balik cerita ngenes itu."

Formula penulisan lirik yang sederhana dan dekat dengan mereka yang tengah meratapi cinta ditunjang dengan aransemen yang minimalis hingga mudah diterima telinga para penggemarnya. Tidak sedikit mereka yang baru pertama mendengar lagu-lagu The Rain turut menikmati lantaran aransemen dan lirk yang cathcy.

"Kami enggak akan bisa melayani kuping seluruh rakyat Indonesia. Musik yang tepat akan ditemui orang-orang yang sesuai, enggak perlu takut," kata Indra.

"Kami berusaha juga untuk upgrade (kualitas rekaman) sesuai teknologi, tetapi yang kami utamakan lagu itu bisa harmonis. Kami tidak ingin memaksakan dengan aransemen yang rumit. Ada lagu yang cukup tanpa rhytm section atau drum, ya sudah. Kami ingin lagu terdengar enak, pas," imbuh gitaris Iwan Tanda.

Singel Rencana Berbahaya dapat didengar melalui beragam layanan streaming musik digital. Video musik singel ini juga sudah diunggah melalui YouTube.

Selain menyiapkan sederet materi musik, The Rain dituntut peka zaman. Tidak seperti awal kehadirannya 17 tahun silam, mereka kini harus melek teknologi dan paham dengan benar peta industri musik hari ini. Namun, The Rain tidak terlalu khawatir akan hal itu. Mereka yakin mampu melewati berbagai tantangan yang ada dengan bekal pengalaman 17 tahun ke belakang.

"Untuk penulisan lagu saat ini, kami suka riset. Kami ngobrol dengan penggemar The Rain yang masih SMA. Kadang saya melihat akun penggemar The Rain di Instagram yang tidak di-protect. Orang pada suka The Rain karena liriknya relate. Istilahnya quoteable. Itu yang ingin kami jaga."

Untuk merayakan usia 17 tahun, The Rain menyiapkan sebuah singel dan tidak menutup kemungkinan juga albumbaru.

"Yang jelas kami niatnya akhir tahun ini akan rilis satu singel lagi dalam rangka ulang tahun ke-17. Arahnya pasti album dan kami tetap ingin rilis fisiknya, sayang kalau tidak rilis fisik karena sudah 6 album kami semua ada format CD-nya," jelas Indra.

Secara demografi, kini penggemar  The Rain paling banyak berasal dari usia 18-30 tahun. Angka itu baik untuk program "rencana berbahaya" The Rain, meneruskan eksistensi di industri. Tetapi, mereka tetap harus mawas diri di tengah iklim industri yang terus berganti.

"Tidak usah mengeluh (akan perubahan iklim pada industri musik). Berdamai dengan perkembangan dan ayo bikin sesuatu yang bikin anak sekarang noleh," ujar Indra menutup sesi wawancara.


 



(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id