Mantra Magis Kunto Aji
Kunto Aji (Foto: Shindu Alpito
Setelah melalui masa inkubasi karya selama dua tahun, Kunto Aji Wibisono akhirnya melepas karya album kedua. Sebelumnya, teaser album kedua ini dibuatkan album mini dengan judul Overthinker pada 10 Agustus 2018. Buah dari pikiran itu akhirnya menetas sepenuhnya pada 14 September 2018 dengan judul Mantra Mantra.

Soal genre, Kunto masih bermain di ranah pop, dengan beberapa balutan warna musik yang terdengar kekinian, termasuk sentuhan elektronik yang terdengar gelap pada beberapa lagu. Berbeda dengan album pertama di Generation Y, pada album ini Kunto lebih banyak bermain gitar elektrik menyesuaikan komposisi instrumen dan nada dari para produser yang terlibat. 

Mantra Mantra dirilis mengangkat tema kesehatan mental. Bukan berarti Kunto mengambil kesimpulan karya ini sebagai sampul pengobatan alternatif, tetapi ingin mengangkat bagaimana tingkat depresi itu mencapai tahap delusif dan sering tidak disadari oleh sebagian besar orang.


“Risetnya bukan berarti saya ke psikolog. Saya berangkat ke tema ini karena masalah mental health. Yang saya tawarkan tema besar. Ketika jadi lagu, ke permukaan, tapi itu sumber masalah. Saya ingin meningkatkan awareness itu, butuh bantuan,” papar Kunto.

Ini bukan karya tiba-tiba. Sebelum mengerjakan album, Kunto Aji memiliki kerabat berprofesi sebagai psikolog. Dia lalu melakukan konsultasi sebagai seorang pasien. “Teman saya psikolog tentang isu-isu apa yang berdampak pada manusia,” kata Kunto.

Sebagai lakon dalam pembuatan album Mantra Mantra dan melakukan berbagai riset, penyanyi asal Yogyakarta itu menjadikan album ini sebagai bentuk cermin diri dan proses penyembuhan mental. Dengan kata lain, album ini menjadi cara Kunto untuk berdamai dengan dirinya sendiri dan berupaya menjaga keseimbangan mentalnya.

“Isu mental health yang tidak sampai ke bunuh diri. Memang angka bunuh diri kita enggak setinggi Jepang karena enggak sampai ke sana, tapi masalah mental orang takut dibilang gila. Itu yang pengin gue angkat. Enggak apa-apa punya masalah mental dan itu enggak apa-apa diselesaikan. Setelah selesai efeknya luar biasa. Enggak tahu ternyata selama ini ada masalah tidur, bangun lebih enak, ternyata sampai segitunya,” ujar Kunto.

Kunto memang menyelipkan cerita tentang masalah personal, tetapi baginya itu tidak perlu dibagikan. Cukup didengarkan melalui sembilan mantra. 

Penemuan mantra dari Kunto Aji berdasarkan hasil pergulatan batin seorang Kunto. Sembilan mantra itu dibuka dengan baik dengan Sulung, Rancang Rencana, Pilu Membiru, Topik Semalam, Rehat, Jakarta Jakarta, Konon Katanya, Saudade dan ditutup manis dengan Bungsu.

Empat produser untuk satu album agaknya terdengar berlebihan. Namun inilah Kunto Aji, dengan pergulatan batin hingga mengajak empat orang kerabat untuk terlibat. Dia merinci keterlibatan empat orang itu; Petra Sihombing dan Bam Mastro, Ankadiov Subran dan Anugrah “Uga” Swastadi.


Kunto Aji bersama empat produser yang terlibat dalam album kedua Mantra Mantra (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)


Ankadiov Subran: Sulung, Rancang Rencana, Pilu Membiru, Topik Semalam dan Bungsu

Anka dengan latar belakang sebagai produser musik untuk penyanyi di berbagai genre menggugah Kunto untuk menggandengnya dalam empat mantra pertama, sekaligus satu mantra penutup.

“Dia produser yang sudah pernah mengerjakan, mulai dari semodern Teza Sumendra sampai Goliath. Ini kan jauh banget dan saya suka dengan orang-orang seperti itu. Dia cinta sama musiknya, bukan sama genrenya. Itu cocok. Akhirnya bikin,” jelas Kunto.

Empat singel pertama digarap oleh Anka. Singel Sulung dikerjakan Anka sebagai pembuka yang menurutnya telah diramu dengan cara paling sopan bersama Kunto. “Tujuan utamanya untuk pembukaan album, alfatihah. Sulung anak pertama, kurang lebih seperti itu,” papar Anka.

“Ini pintu banget, vokal dulu, instrumen satu-satu. Cerita menggantung di akhir ada konklusi, gue bikin kayak dibuka pintu dulu kayak ruang tamu,” timpal Kunto.

Singel kedua, Rancang Rencana menjadi wadah Kunto berbicara pada diri sendiri. 

Rancang Rencana, cerita yang gue alami. Ngomong ke diri sendiri sekali lagi secara lirik. Cerita dan tema, kita pasti ada perubahan sifat dan lain-lain untuk menemukan jati diri, terutama untuk yang baik-baik, jangan berubah,” paparnya.

Kunto lalu bercerita bagaimana Rancang Rencana dibuat ketika salah seorang sahabat lama Kunto dari kotanya berasal, Yogyakarta, selalu mengingatkan Kunto untuk menjadi diri sendiri di manapun berada. “Gue dari Jogja kota kecil ke Jakarta, tapi dia tahu banget gue untuk enggak berubah ke arah yang bukan elu. Gue udah bangga dengan elu,” ceritanya.

Bagaimana dengan Pilu Membiru? Kunto rupanya memiliki cerita menarik lain. Ada urusan yang belum beres dan lagi-lagi berkaitan dengan isu kesehatan mental. Menurutnya, masalah yang belum terselesaikan dapat mengganggu kesehatan mental seseorang. “Kita lari dari masalah yang enggak harus selalu diselesaikan,” paparnya.

Agree to disagree,” timpal Anka.

Track empat, Topik Semalam, ikut diluncurkan pada hari yang sama saat pelepasan album. Ini sekaligus menjadi perkenalan album dan dirasa dapat mewakili semua elemen yang ada pada album.

Topik Semalam diangkat dari kisah cinta Kunto. “Ini simple banget, lebih mudah dicerna. Tentang dikasih target sama pasangan, gue alami waktu itu. Lu kalau serius lanjut, kalau enggak yaudah,” cerita Kunto soal hubungannya bersama kekasih yang kini menjadi istrinya.

“Cerita ini diterjemahkan dengan baik oleh Aji. Mau problem kayak apa jalani aja, slow,” kata Anka.

Pada singel Bungsu, Anka mengembangkan sampel dari Bam Mastro. Konsepnya tidak jauh berbeda dari Sulung. “Plan pertama mau ambil instrumentasi (saja untuk) Sulung, Kok kayaknya begini-begini saja. Lalu muncul sebuah ide,” kata Anka.


Petra Sihombing: Rehat, Jakarta Jakarta

Pada track kelima dan keenam, Kunto melibatkan Petra sebagai produser. Lagu ini telah mengendap sejak November 2017 tetapi justru paling cepat dikerjakan. 

“Ini self-reflection tentang berbicara pada diri sendiri. Gue sama Petra penggemar supranatural, metafisik. Ketika gue ngobrol sama dia, gue riset ada solfeggio frequency,” papar Kunto.

Menarik, karena di album ini Kunto turut mengambil lirik terinspirasi dari Marchella FP, penulis buku Generasi 90an.

Khusus di singel Rehat, Kunto dan Petra menggunakan solfeggio frequency 396 Hz yang dipercaya dapat mengeluarkan pikiran negatif.

Menurut laman attunedvibrations.com, frekuensi 396 Hz dapat membebaskan membersihkan perasaan bersalah yang seringkali hinggap ketika berhadapan dengan suatu masalah. Frekuensi ini dikenal dengan UT Tones.

“Ada unsur healing, enggak tahu karena frekuensi atau lirik yang ditulis. Gue bisa rasain apa yang dia rasain lewat lagunya. Mudah-mudahan orang merasakan apa yang kita rasakan,” kata Petra.

Untuk singel Jakarta Jakarta, Kunto mewakili para perantau yang tengah berjuang di ibukota. Ketika dia menganggap daerah asalnya Yogyakarta sebagai sosok bapak, Jakarta adalah ibu baginya yang membentuknya menjadi pribadi yang matang.

“Menceritakan tentang orang-orang yang jenuh dengan kota ini, tetapi tetap berterimakasih. Gue mengambil sudut pandang sebagai pendatang. Akhirnya, gue ajak Petra yang metropolitan banget, sudut pandangnya dijadikan satu,” kata Kunto.

“Gue merasa Jakarta bukan hanya sebutan ibukota Indonesia tapi ibu yang mendidik gue. Sementara Jogja adalah bapak gue,” imbuhnya.

“Kalau enggak karena Jakarta, gue enggak mungkin se-struggle ini,” kata Kunto.


Anugrah “Uga” Swastadi: Konon Katanya

Lain halnya dengan para produser lain, dengan berkelakar Aji dan Uga mengaku lagu Konon Katanya terinspirasi ketika mendengarkan lagu serial televisi Game of Thrones.

“Tahun lalu, gue orang pertama yang dikontak Aji. Kita mulai intens chat. Dia ada beberapa kirim lagu. (…) Dia menyimak lagu Game of Thrones,” kata Uga.

“Gue dapet di mobil, Ga, ini enak banget ceritanya,” timpal Kunto.


Bam Mastro: Saudade

Saudade diambil dari bahasa latin Portugis yang tidak memiliki terjemahan khusus seperti ketika menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Saudade bercerita tentang kenangan indah yang berubah pahit ketika dikenang.

“Kalau menurut Mas Kunto Aji lebih ke hal yang pernah terjadi dan dibayangkan lagi. Bikin happy tapi pas dibayangin jadi sedih,” kata Bam.

“Memang tidak ada terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia,” timpak Kunto.

“Kita mengenang sesuatu yang menyenangkan tapi jatuhnya sedih. Something missing, yang harusnya bikin lo senang malah sedih,” ujar Kunto.

Menurut terjemahan Urban Dictionary, Saudade digunakan untuk mengungkapkan perasaan kehilangan seseorang atau sesuatu. Sesuatu yang seharusnya Anda miliki tetapi kini tidak lagi.

Berbeda dari yang lain, penggarapan Saudade diawali dengan musik terlebih dahulu baru kemudian lirik.

“Ketika bikin lagunya, gue kepikiran saudade. Ini saudade banget stringnya, ada sedih ada bahagianya. Awalnya cuma jadi tema, tapi kata Bam jadi judul aja,” kata Kunto.

“Proses paling aneh yang pernah gue jalanin,” cerita Bam.


Eksperimen 

Materi album Mantra Mantra sebenarnya telah mengendap dan dipersiapkan Kunto sejak 2-3 tahun lalu. Untuk meyakinkan materi, Kunto sempat melakukan konsultasi dengan psikolog. Proses atau jeda yang dialami dalam mengerjakan album ini seperti depresi yang terasa delusif, terkadang tidak disadari.

Sembilan mantra dalam album pun sebenarnya ingin melibatkan Sembilan produser. Namun, karena keterbatasan waktu Kunto akhirnya melibatkan empat koleganya. Kunto memikirkan matang-matang konsep album ini, termasuk bagaimana Mantra Mantra dirancang mampu ambil bagian untuk turut menemani penggemarnya, dengan harapan memberi sugesti positif.

“Kita percaya manusia itu mengandung 80% air. Air itu kan getaran, terpengaruh sekali dengan getaran. Ada getaran-getaran yang bisa mempengaruhi mood kita. Ada juga yang menanggapi, ‘apa sih?’ Tapi kita ada di level itu, tapi seru juga,” cerita Kunto.

Solfeggio Frequency dengan 396 Hz digunakan pada tiga lagu dalam album, yakni Rehat, Rancang Rencana dan Saudade.

“Ini kayak pseudo-science. Kita enggak tahu benar apa enggak, kayak warna merah penanda lapar, tapi enggak ada salahnya gue coba untuk lagu ini kan?” kata Kunto.

Uniknya, isu kesehatan mental yang disematkan Kunto dalam album ini sejalan dengan berbagai fenomena yang terjadi secara global.

“Pas Chester Bennington (bunuh diri) lagi nulis satu lagu. Waktu itu lagu Rehat kalau enggak salah. Chester salah satu orang yang gue nge-fans banget, lirik Linkin Park juga under pressure dan gua merasa mereka membantu mengeluarkan emosi pada saat itu. Sangat relate dengan kita. Saat itu gue cukup sedih. Padahal saat itu Chester kelihatan baik-baik aja anaknya lucu-lucu,” papar Kunto.




 



(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id