Rafi Muhammad dan Transisi Bermusik
Rafi Muhammad (Foto: Decky Arrizal)
Jakarta: Jika ada satu kata yang dapat mewakili hidup Rafi Muhammad, tentu kata itu adalah “musik.” Lebih dari separuh hidup Rafi dihabiskan dengan bermusik.

Saat ini, Rafi berusia 21 tahun. Dia sudah aktif bermusik sekitar umur 7 tahun. Titel “anak ajaib” pernah disandangnya, tentu karena kemampuan musikalitas Rafi yang di atas anak-anak seusianya. Tahun demi tahun dilalui Rafi dengan mendalami dunia musik. Dia tidak terpaku pada drum saja, melainkan juga memelajari instrumen lain, mulai dari piano sampai kontra-bass.

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan industri musik Indonesia, tentu sudah tahu kiprah Rafi. Dia kerap bermain drum untuk sejumlah musisi top. Di samping itu, Rafi sempat membuat beberapa proyek musik, di antaranya Rafi and The Beat dan Art of Tree. Kini, Rafi tengah sibuk dengan proyek solo terbarunya, yang dapat kita simak lewat album Transition (2016).


Berkenaan dengan proyek solo Rafi, drummer yang cinta mati dengan musik jazz itu menyambangi Medcom.id. Kami membahas banyak hal, termasuk soal kesehatan mental yang jadi isu penting dalam kancah musik dunia belakangan ini. Rafi sosok pribadi yang lugas. Dia tidak bertele-tele dan tampak apa adanya. Rafi adalah harta berharga musik Indonesia. Karya-karyanya melampaui zaman, melihat usianya yang muda dan dengan segala talenta yang dia miliki, maka kita berharap banyak atas nasib musik Indonesia di masa kini dan yang akan datang.



Selama ini Rafi dikenal lewat berbagai proyek musik, termasuk Art of Tree yang cukup visioner di industri musik Indonesia. Apa yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya memutuskan merintis proyek solo setelah membuat sejumlah proyek musik dengan berbagai nama sebelumnya?

10 tahun yang lalu gue bikin album solo, gue rekam di Amerika. Dengan 18 musisi internasional, salah satunya ada Bob James. Setelah album itu keluar, gue enggak berpikir bikin solo lagi. Gue sempat bikin Rafi and The Beat, itu solo konsep band. Sampai pada akhirnya gue pengin coba nge-grab audience yang enggak pakai nama gue. Bikinlah Art of Tree. Setelah jalan kurang lebih tiga sampai empat tahun. Kemudian gue sempat sama LLW, Indra Lesmana, Barry Likumahuwa dan gue.

Terus gue rekam materi ini dua tahun lalu. Dari dua tahun itu gue enggak pede untuk gue rilis. Kemudian materi ini gue kirim ke Nikita Dompas dan sahabat gue Zulham, mereka bilang, “Kalau album ini enggak lo keluarin, mendingan jadi album gue saja deh.” Kemudian tahun lalu di Java Jazz membawakan materi album ini untuk pertama kali dan November 2017 rilis di Yokohama, Jepang.

Mengapa Rafi tidak fokus pada satu proyek musik saja?

Kalau gue pribadi merasa era sudah berbeda. Kalau zaman dulu bisa di satu proyek sampai peak, di luar pun memang seperti itu. Karena gue masih muda, gue suka semua genre. Ini salah satu cara gue. Ini gue pelajari juga dari Mas Indra Lesmana yang banyak bikin proyek sesuai zona-nya dia saat itu.

Apakah dengan perilisan album solo Transition berarti proyek musik Rafi yang lain dalam status vakum?

Art of Tree masih jalan. Sekarang Art of Tree as a team, kadang kami diminta jadi band pengiring dan music director untuk penyanyi lain. Sebenarnya saat ini proyek solo dan Art of Tree. Kalau kayak di proyek lain seperti LLW itu gue yang diajakin oleh senior-senior.

Bagaimana proses kreatif seorang drummer Rafi dalam meramu musik jazz yang terdengar rumit?

Semua start ketika gue main sama Mas Indra Lesmana. Enggak bisa dibohongi pengaruh dia di gue besar banget. Gue jadi melihat musik secara big picture. Gue pernah main kontra-bass, saksofon, piano secara otodidak.

Kalau bikin lagu pakai piano. Enggak mukin bikin melodi pakai drum, tetapi gue sudah terbayang rhytm-nya. Sebenarnya hari gini enggak ada originalitas, itu bullshit. Gue biasanya lihat referensi, mencari warna yang sama dan mulai mengaransemen.

Bagaimana ceritanya bisa merilis album Transition di Jepang?

Waktu tahu lalu main di Java Jazz. Kemudian ada orang Jepang yang datang, dia pernah bawa Tesla Manaf tur ke Jepang. Dia bilang tertarik mau rilis album gue di Jepang. Sekitar Oktober 2017, dia menawarkan launching album gue di Jepang. Kemudian album itu dirilis pertama di Motion Blue, mereka part of Blue Note (sebuah label jazz legendaris). Gue main musik sudah 13 tahun, di Motion Blue salah satu crowd paling hangat. Encore juga. Baru kali ini ditepuk-tanganin sampai dapur.

Gue ingat pada 2006 main instrumental di Jakarta itu susah. Crowd belum mengerti apa-apa. Baru sekitar 2014, 2015 dan pada kemarin gue sadar crowd di sini sudah bisa bikin musik aneh-aneh.

Sekarang tolak ukur bukan soal penjualan jutaan, sekarang semua genre punya wadah. Lebih balance. Itu membuat gue semakin percaya diri dengna musik gue. Gue enggak ada pikiran untuk bikin musik untuk market tertentu. Sekarang main musik tinggal main saja.

Maret ini gue main sama Mateus Asato di Java Jazz 2018, dia gitaris Tori Kelly dan Jessie J.


Setelah membuat proyek musik berbasis jazz dan hip-hop, R&B, ada jenis musik lain yang ingin dijamah?

Dari dulu sampai hari ini beberapa orang mengenal gue di jazz. Tetapi gue juga main sama Glenn, Trio Lestari. Ke depan gue pengin coba genre-genre lain, we’ll see.



(Rafi Muhammad. Foto: Decky Arrizal)


Bagaimana kehidupan sosial seorang Rafi, mengingat sejak kecil sudah berkarier di dunia musik dan menjadi idola?

Teman seumuran gue dikit banget, untungnya gue disuruh gaul sama orangtua gue. Gue homeschool dari SMP sampai SMA.

Masih ingat bagaimana perasaan waktu tampil di panggung pertama kali saat usia tujuh tahun?

Gue pertama kali manggung itu sama Naif. Waktu gue umur 7 tahun, waktu awal main drum. Dulu gue lihat drum bukan instrumen, tetapi mainan. Dulu gue dapat tawaran tur sama Naif jadi opening, solo drum. Gue satu bulan tur dengan Naif. Tetapi itu seru banget. Gue juga pernah main dilempar batu, terus gue buktikan malah main double pedal. Karena waktu itu masih kecil, gue enggak down. Malah terpacu.

Dulu waktu pertama main drum idola gue Travis Baker. Itu normal, awal-awal main drum suka Travis. Kalau jazz suka waktu Java Jazz pertama, dulu bokap bawa gue nonton James Brown. Dari situ mulai cinta sama musik jazz karena gue merasa jazz enggak ada batasan, karena gue pribadi enggak suka diatur, jadi jazz bentuk ekspresi gue.

Belakangan masalah kesehatan mental kembali jadi sorotan, hal itu tidak lepas dari kabar beberapa musisi yang berjuang melawan depresi. Beberapa di antaranya bahkan bunuh diri. Bagaimana pendapat Rafi atas hal itu?

Kalau ngomong kesehatan mental personal, waktu bikin album Transition ini gue lagi sakit mental. Maksud gue, (beberapa) musisi itu sakit jiwa. Cara komunikasi mereka lewat musik. (Beberapa) jazzer seperti itu, mereka sulit berkomunikasi. Beruntung orangtua gue menyuruh gue terus bergaul dari kecil. Lihat MIles Davis, John Coltrane, gue enggak pernah mengerti dia ngomong apa.

Waktu Transition, dua tahun yang lalu gue divonis indikasi skizofrenia gue enggak sampai seperti itu. Gue sampai di titik panic attack. Dari hal itu membuat gue lebih dalam dengan musik gue.

Bagaimana cara Rafi menanggulangi masalah kesehatan mental yang dialami?

Minum obat penenang dari dokter. Cuma satu tahun. panic attack gue bukan freak-out. Tetapi diam saja enggak bisa ngapa-ngapain. Ada suara-suara, akhirnya gue menerima, semakin lo lawan semakin keras suara itu.

Pernah mengalami titik terendah dalam karier musik?

Itu terjadi berulang-ulang. Gue pernah berhenti main drum, tetapi enggak berhenti bermusik. Gue dulu main kontra-bass. Anehnya waktu gue selesai rekaman di Amerika. Sekitar umur 11 tahun. Album pertama gue di-produce Harvey Mason, drummer Fourplay, produser Britney Spears juga. Enggak tahu gimana caranya dia bisa telpon ke rumah gue. Dulu gue pernah dibikinin acara ulang tahun sama orangtua gue di Manchester United Cafe. Kebetulan ada orang Singapura yang lihat dan minta profil gue. Terus keesokan harinya gue diajak dinner di hotel tempat dia nginap. Dua minggu kemudian Harvey Mason telpon gue dia bilang mau produce album gue. Gue awalnya enggak percaya karena di Amerika banyak banget drummer anak-anak yang jago.

Dia produce banyak banget, termasuk lagu-lagunya David Foster. Dia bilang ke gue kalau dia waktu itu lagi sibuk banget, termasuk tur sama Usher, tetapi dia meluangkan waktu untuk produce gue rekaman. Dia kasih waktu 10 hari untuk gue rekaman, tetapi gue bisa selesaikan dalam tiga hari.

Waktu rekaman, Harvey nge-hire ada orang yang bikin musik Nickelodeon, dia ingin gue mencerna musik layaknya anak-anak saja. Gue main, di belakang drum gue ada permen-permen. Riders seperti anak-anak.

Dulu gue enggak expect apa-apa. Mereka butuh gue seperti anak-anak pada umumnya saja, enggak mengharapkan gue seperti orang dewasa.  DI album itu ada 18 musisi jazz, ada Bob James, Paul Jackson Jr (gitaris Michael Jackson). Tetapi habis album itu selesai, gue justru enggak main drum. Gue enggak tahu itu kenapa.

Lalu momen apa yang membuat Rafi kembali pada drum?

Gue mulai ABG, mulai suka cewek. Pengin nge-grab audience, akhirnya gue bikin Raffi and The Beat. Terus gue berpikir apa yang sebenarnya gue inginkan, dan jawabannya musik jazz. Akhirnya gue bikin Art of Tree dan akhirnya sampai di album ini (Transition)



(Rafi Muhammad. Foto: Decky Arrizal)

Di luar jazz dan hip-hop, apakah Rafi juga mendengarkan musik rock?

Dengerin. Viki dari Kelompok Penerbang Roket itu sahabat gue. Banyak yang enggak tahu kalau yang mixing dan mastering Rafi and The Beat dulu itu Viki. Gue ikutin musik Kelompok Penerbang Roket, Barasuara. Gue juga suka denger Boyz II Men, yang menurut orang  enggak banget cowok mendengarkan lagu mereka. Gue mendengarkan semua musik. Buat gue genre itu enggak ada. Itu budaya saja.

Siapa musisi yang ingin Rafi ajak berkolaborasi?

Ada, pemain trumpet dari Jepang, namanya Toku. Mungkin gue pengin bikin album sama dia berdua.

Siapa musisi Indonesia yang Rafi kagumi?

Gue suka banget Ahmad Dhani. Mau orang bilang gimana, dia jenius banget. Lagu Kirana itu gila banget. Mereka semua guru-guru gue, meski enggak belajar langsung sama mereka, apa yang mereka buat berpengaruh buat gue.

Gue jarang banget ngukur diri gue dengan orang sini, bukan karena sombong. Karena jazz bukan musik kita. Tetapi karena mendengarkan senior-senior itu, itu yang membuat musisi Indonesia berbeda. Punya warna tersendiri. beda sama musisi Jepang atau Asia lainnya

Kalau bicara soal kemampuan musikal secara teknis, siapa yang Rafi kagumi?

Indra Lesmana, kalau ngomongin skill, Mas Indra, tamat semua. Mau ngomongin musik dari A sampai Z, soal jazz sampai pop, Mas Indra the Man.


 





(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id