Jakarta: Kabar bahagia untuk para pecinta musik alternative rock Tanah Air. Band legendaris asal East Killbride, Skotlandia, The Jesus and Mary Chain resmi mengumumkan konser perdana mereka di Indonesia yang akan digelar di dua kota pada November 2026.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung melalui akun Instagram resmi The Jesus and Mary Chain pada Jumat, 26 Juni 2026.
Band yang digawangi kakak beradik Jim Reid dan William Reid itu dipastikan akan menyapa penggemar di Bali dan Jakarta, sekaligus menandai penampilan pertama mereka di Indonesia sejak dibentuk pada 1983.
"Baru diumumkan! Kami akhirnya akan tampil di Indonesia untuk pertama kalinya!" tulis akun Instagram @jesusandmarychain.
Grup pelopor genre noise pop dan salah satu fondasi utama lahirnya musik shoegaze itu dijadwalkan tampil di Bali pada Kamis, 26 November 2026, dan Jakarta pada Jumat, 27 November 2026.
"Sampai jumpa di Bali pada Kamis, 26 November, dan Jakarta pada Jumat, 27 November. Penjualan tiket dibuka mulai Minggu, 28 Juni. Jangan sampai kelewatan!" lanjut mereka.
Bagi Sobat Medcom yang belum familiar, The Jesus and Mary Chain merupakan band yang digawangi oleh Jim Reid (vokal), William Reid (lead gitar/vokal), Mark Crozer (bas), Scott Van Ryper (rhytm gitar), Justin Welch (drum).
Sejak kemunculannya pada dekade 1980-an, The Jesus and Mary Chain dikenal sebagai salah satu band paling berpengaruh dalam perkembangan musik alternative rock. Album debut mereka, Psychocandy (1985), bahkan kerap disebut sebagai salah satu rilisan paling penting dalam sejarah musik alternatif.
Melalui album tersebut, The Jesus and Mary Chain berhasil menciptakan formula musik yang unik dengan memadukan melodi pop ala grup vokal perempuan era 1960-an seperti The Ronettes, distorsi gitar dan feedback yang ekstrem, atmosfer gelap yang minimalis, serta karakter vokal datar namun sarat emosi.
Pendekatan tersebut kemudian menjadi cetak biru bagi lahirnya berbagai subgenre musik alternatif pada dekade berikutnya.
Pengaruh mereka sangat terasa pada perkembangan skena shoegaze era 1990-an. Sejumlah nama besar seperti My Bloody Valentine, Ride, Slowdive, hingga Lush banyak mengambil inspirasi dari eksplorasi feedback dan dinding suara (wall of sound) khas The Jesus and Mary Chain.
Tak berhenti di situ, warisan musikal mereka juga masih terasa hingga kini. Band-band alternative modern seperti DIIV, Nothing, hingga Whirr turut mengakui pengaruh besar The Jesus and Mary Chain dalam membentuk karakter musik mereka.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan