Voice of Baceprot, Mengubah Paradigma Soal Muslimat dan Musik Metal

Agustinus Shindu Alpito 22 Mei 2018 08:37 WIB
indonesia musik
Voice of Baceprot, Mengubah Paradigma Soal Muslimat dan Musik Metal
(Dari kiri ke kanan) Siti, Firda dan Widi (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)

Dalam industri musik di Indonesia, grup dengan keseluruhan personel perempuan punya daya tarik tersendiri, sayangnya tidak banyak grup seperti itu di sini. Kalaupun ada, tak selalu besar dan mampu mempertahankan konsistensi. Perlahan tapi pasti, tiga sosok bernama Widi Rahmawati (bassist), Firda Kurnia (vokalis, gitaris) dan Euis Siti Aisah (drummer) mencoba mematahkan mitos itu. Ketiganya tergabung dalam grup cadas Voice of Baceprot (VoB).

VoB lahir secara natural dari persahabatan antara tiga personel dengan mantan guru bimbingan konseling mereka saat SMP, Cep Ersa Ekasusila Satia alias Abah. Abah bukan saja sebagai teman curhat para remaja ini, namun juga lawan diskusi dan bertukar referensi seputar musik. Pemikiran kritis para hijaber muda ini tidak terbendung, mereka kerap melontarkan kritik terhadap kondisi sosial yang ada lewat berbagai tulisan satire yang dipublikasikan melalui majalah dinding di sekolah. Singkat cerita, tiga remaja putri ini di bawah asuhan Abah, sepakat melampiaskan kegelisahan dan gagasan mereka lewat lirik musik dalam payung VoB.

Sejarah VoB dapat dibaca dalam artikel berikut: Tiga Hijaber Metal



Mei 2018 adalah momen penting bagi VoB, mereka merilis singel debut bertajuk School Revolution. Beruntung, VoB bertemu orang yang tepat bernama Stephan Santoso, yang membantu proses rekaman. Seperti diketahui, Stephan adalah sosok besar di balik industri musik Indonesia. Dia telah malang-melintang menjadi teknisi rekaman sejumlah grup besar Indonesia. Mulai dari Sheila On 7 hingga Burgerkill pernah merasakan tangan dingin Stephan. School Revolution seperti sebuah perkenalan resmi atas musikalitas VoB yang telah menjadi perbincangan selama satu tahun terakhir.

School Revolution adalah cara pandang kami terhadap sekolah, apa yang kami lihat, kami dengar dan rasakan. perasaan kami sebagai pelajar,” kata Firda saat bertandang ke kantor Medcom.id, beberapa waktu lalu.

Lagu-lagu VoB realistis, mereka menulis sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. Dengan kata lain, VoB tidak terbebani titel “metal” itu sendiri. Saat ini, personel VoB berusia 17 dan 16 tahun. Metal yang mereka usung tidak membuat mereka serta-merta sok dewasa, kelewat kritis atau bicara sesuatu yang di luar jangkauan. School Revolution bukti bahwa mereka mampu menerjemahkan makna metal itu sendiri ke dalam kehidupan sehari-hari, tanpa mengada-ada.


VoB saat tampil di @america (Foto: Shindu Alpito)


Anak Petani yang Menginspirasi

Tiga personel VoB bukan berasal dari keluarga musisi. Ayah Firda dan Siti bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ayah Widi bekerja sebagai buruh pabrik. Untuk menambah uang jajan, Siti dan Firda bahkan tidak segan untuk berjualan. Siti pernah berjualan cilok “metal” di sekolah, sedangkan Firda berjualan tahu pedas yang diberi nama "gehell" (dari paduan Gehu-Hell, yang artinya pedas bagai di neraka).

Ketiganya bukan pula berasal dari kalangan yang mendapat fasilitas komplet di sekolah dan di rumah. Untuk belajar instrumen musik, awalnya Firda menggunakan gitar "kopong" yang ada di sekolah. Begitu juga dengan Siti, dia belajar drum menggunakan alat-alat drum band yang ada di sekolah. Mereka belajar secara otodidak tanpa bimbingan guru musik.

Dengan latar belakang itu, bukan hal mudah bagi Widi, Firda dan Siti untuk menjelaskan passion mereka kepada orangtua. Lebih-lebih, musik yang mereka mainkan cukup asing di lingkungan tempat mereka tinggal, di pelosok Garut.

“Orangtua kami juga bilang musik kami enggak enak didengar, tetapi kami jelaskan musik ini yang membuat kami dikenal orang banyak. Mereka akhirnya mengerti,” kata Firda.

Di tengah keterbatasan yang ada, mereka merangkai keping-keping mimpi. Beruntung banyak pihak mendukung jalan yang mereka pilih. Widi sempat bercerita bahwa dirinya baru belakangan ini bisa berlatih bass di rumah, itupun karena ada pihak yang berbaik hati menyumbang instrumen dan peralatan bass elektrik. Sedangkan Siti berkelakar, dirinya hanya berlatih dengan cara menggebuk bantal lantaran tidak memiliki instrumen drum di rumah.

“Punya satu amplifier bass, dikasih kado dari kepala sekolah SMK Ristek Karawang, beliau fans VoB. Amplifier itu dipakai gantian sama Firda,” kata Widi.

Kompleksitas yang ada pada VoB, mulai dari keterbatasan alat hingga mendobrak paradigma lingkungan justru semakin mematangkan grup ini. Jika semangat mereka tak cukup tinggi, tentu akan layu sebelum berkembang dengan sederet persoalan itu.

Pada pertengahan Mei 2018, VoB mendapat kesempatan terhormat tampil bersama Dewa Budjana di @america, Pacific Place, Jakarta. Sang gitaris Gigi itu pun tidak bisa menyembunyikan rasa kagum melihat perjuangan dan kemampuan bermusik tiga remaja Garut itu.

“Empat tahun sudah main seperti itu luar biasa, orang berlatih butuh waktu lama baru membuat band, tetapi ini langsung bikini band. Untuk kemampuan bermusik, tergantung mereka sih kalau tetap konsistensi pasti bagus, karena bahannya sudah bagus. Saya tidak melihat kekurangannya,” kata Budjana.


VoB berkolaborasi dengan Dewa Budjana di @america (Foto: Shindu Alpito)


Bukan Semata karena Hijab

VoB sadar salah satu alasan mengapa mereka jadi sorotan adalah gaya penampilan. Ranah metal di Indonesia selama ini didominasi oleh laki-laki yang lekat dengan citra urakan. Kehadiran VoB seperti menawarkan alternatif baru. Mereka menunjukkan bahwa metal juga bisa jadi pilihan musik kaum hijaber.

“Kami ingin dikenal dari sisi musiknya bukan dari penampilannya, kami ingin dinilai secara objekif dari karya kami, bukan dari hijab.”

“Kami lebih menganggap musik dan hijab dua hal yang berbeda, tanpa musik pun kami sudah berhijab, hijab itu sudah identitas kami sebagai muslimah, sedangkan metal itu bagian kami berkarya,” kata Firda mewakili teman-temannya.

VoB bukan saja mengejutkan para penggemar musik metal, tetapi juga menjadi idola baru para remaja berhijab di Indonesia. VoB memberi akses baru bagi para hijaber yang sebelumnya tidak mengenal musik metal, untuk bisa lebih jauh bercengrama dengan musik yang identik dengan kesan angker ini.

“Kenapa sih yang dibahas hijab? kami main musik bukan mau fashion show. Makin ke sini kami makin enjoy. Banyak orang yang tanya, 'Hijab main musik metal?' Kok jahat? Metal enggak seperti (yang ada dalam pikiran orang) itu. Kami ingin mematahkan pemikiran seperti itu. Kami membantu hijaber lain untuk berekspresi ke hal lain yang mereka suka. Banyak yang terinspirasi sampai tanya2 berapa lama belajar musik. Senang bisa menginsiprasi orang semua.”

Seiring popularitas yang meningkat dan eksposur tinggi dari berbagai media dalam dan luar negeri, VoB sadar bahwa mereka membawa tanggungjawab besar. Mereka tidak bisa mengesampingkan label Islam yang turut melekat bersama mereka. Tetapi, Firda dan kawan-kawan sudah cukup bijak menyikapi hal ini. Mereka justru menjadikan sorotan itu sebagai pembuktian bahwa Islam yang mereka percaya, membawa kedamaian dan memberinya keleluasaan untuk berkespresi secara positif.

“Awal-awal viral sempat takut, kaget enggak nyangka sampai sebegitunya. Awalnya kami merasa biasa-biasa saja main musik pakai hijab, tidak ada yang istimewa. Semakin ke sini, kami disadarkan memikul beban stereotipe yang cukup besar. Kami juga ingin menumbuhkan perasaan bahwa ada toleransi tinggi dalam Islam, mengubah pemikiran bahwa Islam itu ekstrem, (pemikiran salah bahwa Islam) ceweknya enggak boleh macam-macam dan berkekspresi, kami ingin menumbuhkan rasa percaya diri seorang muslimah."

"Kami greget ingin mengubah cara pandang orang tentang metal, kami ingin menunjukkan bahwa metal itu bukan hal buruk. Itu mengapa kami menulis bahwa kami 'The Other Side of Metalism.' Kami menawarkan metal yang positif. Kami adalah metal yang moralnya terjaga."

Dari bangku SMK jurusan Administrasi Perkantoran yang terletak di Banjarwangi, Garut, Widi, Firda dan Siti menatap masa depan. Semangatnya mewakili spirit metal itu sendiri, meletup-letup dan tidak bisa ditaklukkan. Lewat raungan gitar dan permainan musik yang cadas itu VoB bukan saja meluapkan ekspresi jiwa mereka, tetapi membuka pandangan kita akan semangat remaja Indonesia yang tidak ingin terjebak pada pemikiran sempit akan justifikasi sosial, agama dan deret keterbatasan yang ada.




 





(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id