Keraguan tersebut muncul lantaran banyak warganet yang belum mengetahui rekam jejak panjang Soleh Solihun di industri musik.
Jauh sebelum terjun ke dunia stand-up comedy, Soleh Solihun merupakan jurnalis musik senior dengan CV mentereng dan cukup disegani. Ia tercatat pernah menjadi reporter di Majalah Trax (2004-2005), hingga menjabat posisi editor di Playboy Indonesia (2006-2008) dan Rolling Stone Indonesia (2008-2012).
Setelah kompetisi berjalan selama beberapa episode, gaya penilaian Soleh sebagai juri yang blak-blakan pun mulai menuai sorotan. Tak sedikit yang menilai komentar jujur Soleh terlalu "pedas" bagi para peserta idol.
Baca Juga :
Daftar Lengkap Juri Indonesian Idol Season 14: Raisa, Soleh Solihun hingga Vincent Rompies
"Saya mah segala macam komentar, mau dia suka atau tidak suka akan penampilan saya (sebagai juri), segala macam komentar saya syukuri," ucap Soleh Solihun saat ditemui di Bakmi Sedjuk Pejaten, Jakarta Selatan pada Jumat, 13 Februari 2026.
Bagi Soleh, kritik ataupun pujian adalah bentuk apresiasi karena penonton telah meluangkan waktu untuk memperhatikan kinerjanya di meja juri.
"Ketika orang berkomentar, mau dia setuju atau tidak setuju, mau dia suka atau tidak suka, berarti saya sudah menarik perhatian mereka sehingga memberikan waktunya buat mengomentari kinerja saya. Jadi saya sih komentar positif maupun negatif, saya syukur Alhamdulillah," lanjutnya.
Soleh Solihun Soroti Masalah Konsistensi Peserta Indonesian Idol
Tak hanya menyoroti komentar dari warganet, Soleh juga turut memberikan komentar mengenai kualitas peserta Indonesian Idol musim ini.Sebagai orang yang lama berkecimpung memantau perkembangan musisi, Soleh pun menyoroti masalah utama para peserta, yakni masalah konsistensi.
"Masih banyak yang peserta yang nggak konsisten. Kadang bagus, kadang minggu depannya jelek," tuturnya.
Ia pun mengibaratkan kompetisi Indonesian Idol seperti sebuah maraton yang membutuhkan stamina dan konsistensi, bukan sekadar hanya tampil gemilang di satu episode.
"Makanya saya selalu bilang kompetisi itu seperti maraton, orang butuh stamina. Nggak bisa butuh bagus di satu episode aja, butuh bagus juga di episode-episode lain," tutup Soleh Solihun.
Kini seiring berjalannya waktu, sebagian penonton pun mulai memahami perspektif yang dibawa Soleh ke meja juri. Alih-alih sekadar memberi komentar manis, ia justru memilih untuk menghadirkan sudut pandang kritis yang lahir dari pengalaman panjangnya di industri musik.
Bagi sebagian warganet, kehadiran Soleh kini justru memberi warna baru sekaligus memperluas wawasan musik, baik bagi para peserta Idol maupun penonton di rumah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News