God Bless Masih Jauh dari Kata Berhenti
God Bless (Foto: MI/Galih Pradipta)
Jakarta: Mei selalu menjadi bulan istimewa bagi God Bless. Di bulan ini, 45 tahun lalu, mereka
memproklamirkan diri menjadi sebuah grup bernama God Bless.

Lantaran bulan istimewa, God Bless memperlakukan Mei dengan cara tak biasa pula. Mereka berkumpul di sebuah panggung bersama mantan personel di sebuah acara di Semarang, belum lama ini. Namun, mereka hendak menggelar konser lebih besar di Jakarta setelah Lebaran nanti.

Usia 45 bagi sebuah band tentu hal langka di Indonesia, bahkan di dunia. Karena itu, God Bless sendiri sadar, perjalanan mereka yang hampir setengah abad merupakan anugerah luar biasa.


"Kalau di luar negeri Deep Purple, The Rolling Stone sudah kurang aktif, tapi Indonesia masih punya satu band (lama) yang masih aktif. Salah satu orangnya ada di depan Anda. Itulah God Bless," kata Donny Fatah saat berbincang dengan Medcom.id, belum lama ini.

"Dan saya bangga sekali bisa menjadi bagian itu (God Bless)," lanjut Donny.

Donny Fattah mungkin tak seenergik dulu mencabik bass-nya. Begitu juga Ian Antono dan Abadi Soesman yang tampak lebih kalem berada di kemudi alat musik mereka masing masing. Sedangkan Ahmad Albar, mulai keteteran mencapai beberapa nada-nada yang ada di lagu God Bless. Namun, itu semua bukan alasan mereka untuk menyentuh kata akhir.


God Bless (Foto: MI/Galih Pradipta)

Saat rekan-rekan sebaya mereka banyak menikmati hari tua di rumah, para kakek-kakek di God Bless memang masih aktif beraksi dari panggung ke panggung. Mereka masih menjadi idola yang mudah ditemui di berbagai acara musik oleh para musisi muda.

Hebatnya, di usia yang hampir separuh abad ini, mereka masih 'banyak maunya'. Mereka masih punya segudang rencana layaknya band-band muda. Masih ada jadwal manggung, rencana album baru hingga mengurus royalti lagu-lagu lama mereka.

"Saya belum berani berpikir berhenti (bermusik). Kami masih jauh dari kata berhenti. Makanya saya tidak berani ngomong kapan God Bless berhentinya," kata Ian Antono saat berbincang dengan Medcom.

God Bless belum kehilangan daya kreasi. Tahun ini, mereka berencana kembali ke studio merekam materi yang akan dimasukkan ke dalam album baru mereka. Ada lagu baru, ada juga lagu lama yang mereka aransemen ulang.

Merekam ulang lagu-lagu lama memang menjadi tugas tersendiri bagi God Bless. Bukan berarti mereka tak punya lagi simpanan lagu baru. Namun, menurut Donny, master lagu-lagu lama mereka banyak yang sudah hilang dan rusak. Itulah sebabnya, album Cermin 7 yang dirilis pada akhir 2016 kebanyakan memuat lagu-lagu di album Cermin yang dulu muncul pada 1982.


God Bless (Foto: MI/Galih Pradipta)

Lewat aransemen baru yang lebih segar, God Bless juga berharap lagu-lagu mereka lebih mudah
diterima generasi muda. Dengan begitu, lagu-lagu mereka bisa lestari meski nanti sudah tidak ada lagi.

"Album-album yang dulu juga mau kami selamatkan. Sayang saja. Karena ini satu-satunya warisan buat anak-anak kita. Hasil karya kami ini harus dilestarikan. Kalau dulu berantakan. Tapi pemerintah sekarang lewat Bekraf mulai menata (soal royalti). Mudah-mudahan masih akan ada album-album berikutnya (dari God Bless)," jelas Ian Antono.

Mengkristal Bersama

Ahmad Albar, Donny Fattah, Abadi Soesman dan Ian Antono sudah melangkah bersama selama puluhan tahun. Perjalanan waktu itu dirasa cukup untuk mereka saling memahami musikalitas satu sama lain. Termasuk juga kehidupan di luar musik.

"Dalam perjalanannya yang panjang ini, kami mengkristal. Itu yang tidak bisa dibayar. Kami mengkristal karena perjalanan puluhan tahun bermusik. Inilah sisanya," kata Donny.

"Saling toleran. Itu yang paling penting. Rasa kekeluargaan," kata Ahmad Albar saat ditanya apa yang membuat God Bless mampu bertahan selama ini.

God Bless tercatat 15 kali mengalami pergantian personel. Posisi drum sekarang diisi Fajar Satritama yang juga dikenal sebagai drummer band Edane.

Diakui Iyek, sapaan Ahmad albar, God Bless yang memulai langkah pada 1970-an tentu pernah dilanda jenuh. Namun, mereka menganggap hal itu suatu kewajaran yang dialami musisi.

"Jenuh pasti, tapi jangan dituruti kejenuhan itu. Harus kita lawan. Semua musisi pasti pernah merasa jenuh, dengan tur-nya, rekaman terus jenuh juga," ucapnya.


God Bless (Foto: medcom/elang)

Menurut Donny, tak ada ambisi muluk-muluk yang hendak dikejar God Bless sekarang. Yang jelas, setiap kali mereka bertemu penggemar, semakin bertambah pula hasrat mereka untuk mempertahankan God Bless.

"Rock itu adalah spirit. Rock bukan sekadar paku-paku di gelang, tapi getaran jiwa. Masyarakat yang meminta jangan bubar, lanjut terus. Masih banyak yang berharap sama band ini."

"Kami sudah sekian lama, hampir setengah abad. Kalau di awal-awal mungkin masih penuh ambisi. Tapi setelah tahun ke-30 dan seterusnya, kami hanya memenuhi tanggung jawab sebagai musisi saja. Kebetulan masih diterima masyarakat. Itu saja yang kami jalani, tanggung jawab bermusik," tutup Donny.



 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id