Cimot tidak tampil di balik set drum malam itu. Dalam wawancara beberapa waktu lalu dengan Medcom.id, Ia mengaku gagal ikut memainkan instrumennya karena tengah mengalami cedera pada bagian kaki yang memerlukan penanganan fisioterapi. Keputusan untuk tidak bermain di konser perdana ini menjadi salah satu hal paling berat dalam kariernya bersama For Revenge.
Namun saat lagu “Pulang” mengalun, Cimot muncul dari balik panggung. Ia berjalan perlahan menghampiri para personel lain, lalu memeluk satu per satu sahabat bermusiknya. Sorak penonton berganti menjadi sunyi, berubah menjadi haru.
“Pertama kalinya For Revenge konser, harusnya Cimot ada di drum!” teriak Boniex, vokalis band, penuh emosi dari atas panggung.
| Baca juga: Penonton Konser for Revenge Menangis di Panggung Curhat soal Perceraian |
Suara Boniex bergetar saat ia melanjutkan, “Gua, Arif, sama Ija mungkin baru berbulan-bulan nyiapin konser ini buat kalian. Tapi Cimot… 19 tahun dia pertahanin band ini!” ujarnya.
Tangis Cimot pecah di atas panggung. Dengan suara penuh beban, ia menceritakan bagaimana perjalanan For Revenge bermula hanya dari niat sederhana menyuarakan isi hati untuk mantan kekasih.
“2006, gua diriin For Revenge. Awalnya cuma buat mantan. Tapi ternyata bukan cuma mantan yang gua hadapin… hinaan, cacian, makian, semuanya gua lewati. ‘Kenapa lu masih nanggur?’, ‘Masa depan lu mana?’ Gua denger itu semua,” kata Cimot.
Namun kehadiran rekan-rekan band dan dukungan dari para fans membuatnya terus bertahan.
“Lu gak bisa ngerubah persepsi orang terhadap lu, tapi lu bisa ngerubah diri lu buat menghadapi persepsi orang lain,” ucapnya sambil menahan isak.
“Makasih buat semua yang udah ada di sini. Terima kasih udah wujudin mimpi gua.” lanjutnya.
Perjalanan Karier For Revenge
Dibentuk di Bandung pada tahun 2006, For Revenge bermula dari ruang kecil dan hasrat besar menyalurkan perasaan lewat musik. Di era awal mereka dikenal sebagai band emosional-rock dengan nuansa gelap dan lirik yang dalam.
Formasi awal band sempat mengalami banyak perubahan. Namun dedikasi Cimot sebagai drummer dan penggerak utama menjaga nyala semangat band tetap hidup, bahkan saat vakum dan sempat tidak terdengar namanya di industri.
Titik balik terjadi saat mereka merilis ulang lagu “Serana” di tengah era pandemi, yang viral di media sosial dan membuka jalan bagi generasi baru pendengar. Lagu-lagu seperti “Perayaan Patah Hati”, “Biang Lara”, dan “Jadi Apa Lagi” makin memperkuat posisi mereka di kancah musik alternatif Indonesia.
Kehadiran kembalinya Boniex Noer sebagai vokalis pun memberi warna segar, menjadikan band ini bukan hanya nostalgia masa lalu, tapi juga simbol konsistensi, transisi, dan harapan baru.
Setelah hampir dua dekade berproses, 2025 menjadi tonggak sejarah penting, konser perdana mereka yang dulu hanya mimpi di tongkrongan studio sempit Bandung akhirnya terwujud.
Meski tak duduk di belakang drum malam itu, Cimot tetap tampil sebagai jiwa band. Kehadirannya membuktikan bahwa For Revenge bukan sekadar band, melainkan rumah bagi setiap luka, perjuangan, dan persaudaraan yang tak lekang waktu.
| Baca juga: for Revenge Berikan Tribute untuk Palestina di Konser Tunggal Sang Derana |
(Cony Brilliana)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News