Jakarta: Tim produksi dan jajaran pemeran film Laut Bercerita menggelar acara Press Conference di Cinema XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada Rabu, 9 September 2026 pukul 13.00 WIB untuk memaparkan alasan kuat di balik pentingnya mengangkat kembali isu sosial-politik era 1990-an ke layar lebar. Kisah adaptasi dari novel fenomenal karya Leila S. Chudori ini dinilai masih sangat relevan dengan situasi Indonesia saat ini karena menghadirkan cermin ketidakadilan yang belum tuntas, sekaligus menjadi sarana refleksi kritis bagi masyarakat dalam merawat ingatan dan menuntut kebenaran melalui media sinema yang inklusif.
Kekacauan yang Tak Pernah Berakhir
Salah satu alasan utama mengapa kisah ini terus beresonansi adalah situasi sosial yang belum banyak berubah. Penulis novel Laut Bercerita, Leila S. Chudori, menyampaikan pandangannya mengenai relevansi karya tersebut dengan kondisi masa kini
"Relevan karena keadaan masa kini juga ricuh seperti dalam cerita. Pada 2017 pun tetap relevan, banyak hal yang tidak selesai dan dibiarkan,"
Ketika pandemi melanda, ketertarikan publik terhadap karya ini makin memuncak karena masyarakat terus mencari gambaran dan refleksi atas kondisi negara saat ini.
Film sebagai Media Kampanye yang Luas
Pengangkatan kisah ini ke dalam bentuk film dipandang sebagai langkah taktis dalam merawat ingatan publik. Sutradara film Laut Bercerita menegaskan alasan di balik pentingnya media audio-visual untuk menyampaikan pesan perjuangan ini
"Usaha untuk mengkampanyekan negara bukan hanya lewat satu platform. Film menjadi salah satu media yang luas karena mudah dijangkau."
Melalui layar lebar, pesan perjuangan ini dapat menyentuh khalayak yang lebih beragam tanpa terbatas oleh satu media bacaan saja.
Dibalik Setiap Nama, Ada yang Menunggu Pulang
Kisah ini menegaskan sisi paling manusiawi dari peristiwa penghilangan paksa. Sutradara film Laut Bercerita kembali menekankan pesan emosional yang menjadi inti emosi dari karya ini:
"Dibalik setiap nama ada seseorang yang menunggu untuk pulang, matilah mati karena gagasan."
Pesan mendalam ini menegaskan bahwa perjuangan para korban seperti Pak Bambang Setiyawan dan tokoh Biru Laut bukanlah sekadar angka sejarah, melainkan tentang cinta dan harapan keluarga yang tak pernah padam.
(Sumber: Youtube @Pal 8 Pictures dan Tempodotco)
(Dinda Intan Ramadhani)