Perolehan Penonton Sementara, Film Ahok Lebih Laris dari Film Hanum Rais

Purba Wirastama 12 November 2018 17:08 WIB
box office film Indonesia
Perolehan Penonton Sementara, Film Ahok Lebih Laris dari Film Hanum Rais
Poster A Man Called Ahok (kiri) dan Hanum & Rangga (kanan)
Jakarta: Media sosial akhir pekan lalu diributkan pembahasan tentang capaian jumlah penonton dua film adaptasi yang baru saja dirilis di bioskop, A Man Called Ahok dan Hanum & Rangga: Faith & The City. Ada klaim bahwa salah satu film tidak laku, "pengerahan massa" untuk datang ke bioskop, hingga beragam komentar untuk Hanum Rais, penulis novel asli Faith & The City. 

Namun, berapa sebenarnya jumlah penjualan tiket kedua film ini?

Situs web FilmIndonesia.or.id, yang sejak satu dekade terakhir menyajikan data dan informasi tentang perfilman Indonesia, secara rutin merilis laporan box office mingguan atau jumlah penjualan tiket bioskop untuk film-film domestik. 


Biasanya, data box office terbaru dirilis di sana setiap Jumat dan Senin. Rilisan Jumat adalah data penjualan tiket film terbaru pada Kamis atau hari pertama tayang. Rilisan Senin adalah data penjualan tiket pada akhir pekan terakhir atau selama Kamis hingga Minggu. 

Menurut data terbaru per Senin, 12 November 2018, A Man Called Ahok memimpin capaian box office akhir pekan terakhir (8-11 November). Selama empat hari itu, angka penjualan tiket film ini mencapai 587 ribu lembar. Jumlah ini hampir enam kali lipat dari capaian hari pertama sebanyak 103 ribu lembar.

Dengan asumsi satu tiket seharga Rp37 ribu, pendapatan kotor fimnya diperkirakan telah mencapai Rp21,7 miliar.

Hanum & Rangga mengekor dengan angka penjualan 201 ribu lembar tiket. Jumlah ini empat kali lipat dari capaian pada hari pertama sebanyak 45 ribu lembar tiket. Dengan asumsi harga yang sama, pendapatan kotornya diperkirakan telah mencapai Rp7,4 miliar.

Berkaca dari capaian komersial, wajar jika A Man Called Ahok masih masih punya porsi layar lebih banyak dibanding film-film lain yang sedang beredar. Menurut data yang sama, film ini masih beredar di 500 layar bioskop. Hanum & Rangga masih beredar di 265 layar. Sembilan film lain, seperti Dear Nathan Hello Salma dan 3 Dara 2, beredar di lebih sedikit layar.


Keributan di Medsos

Sementara itu, media sosial Twitter hingga Senin ini, 12 November 2018, masih diramaikan oleh kicauan yang mendukung dan menyudutkan kedua film. Sebagian komentar tidak jauh dari perseteruan sisa-sisa Pilkada DKI Jakarta karena memakai sebutan "cebong" dan "kampret". 

Sempat beredar pula gambar tangkapan layar yang membandingkan jumlah kursi bioskop kedua film. Pengguna akun @Donihendarto, salah satu yang menyebarkan gambar tersebut, sempat mengklaim jumlah penonton Hanum & Rangga di salah satu bioskop jauh lebih banyak dari A Man Called Ahok. 

Klaim ini didasarkan pada data dari aplikasi pemesanan tiket M-Tix, bahwa kursi warna hijau telah terisi penonton dan kursi merah masih kosong. Padahal sebenarnya, blok warna merah justru menandakan sebaliknya. Kicauan ini viral dan sempat menjadi bahan perdebatan di Twitter.

Salah satu kesalahpahaman lain adalah mengenai konten kisah film Hanum & Rangga. Dari pantauan Medcom.id, sejumlah warganet menyebut bahwa film adaptasi garapan sutradara Benni Setiawan ini diangkat dari kisah nyata Hanum Rais dan suaminya di New York. Film dan novel aslinya memang mengikuti dua tokoh bernama Hanum dan Rangga, tetapi ini adalah novel fiksi dan bukan biopik. 

Topik "pengerahan massa" juga masih menjadi bahan kicauan warganet hingga Senin ini. 

Pada akhir pekan lalu, beredar pesan berantai di WhatsApp yang meminta tolong orang-orang untuk menonton A Man Called Ahok sehingga bisa mencapai satu juta tiket dan tidak diturunkan dari layar setelah tiga hari tayang. Sutradara Putrama Tuta, seperti dilaporkan Detik.com, menyebut pesan propaganda tersebut sebagai kabar bohong. 

Untuk Hanum & Rangga, dukungan untuk menonton film datang secara resmi dari Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Hanum, penulis novel asli sumber adaptasi, adalah kader partai dan putri Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais. 

Surat dari DPP PAN meminta sejumlah nama untuk menjadi koordinator dan membantu acara nonton bareng bersama konstituen mereka di daerah. Mereka diminta untuk memesan satu studio penuh dan mengundang media massa untuk meliput supaya "karya anak bangsa yang bernuansa Islami dan memberikan teladan dalam membina keluarga muda" tersiar luas. 

Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi, seperti dilaporkan Tempo.co, membenarkan kabar tersebut. Viva menyatakan bahwa mereka bangga ada kader partai yang "menjadi produser film dari kalangan muda millenial". 

Ajakan dari UMS disebarkan lewat postingan resmi di Facebook. Dalam postingan itu, yang kemudian dihapus begitu memicu kontroversi, tampak tulisan memo Rektor Sofyan Anif yang mengajak untuk menonton bersama keluarga. 

Humas UMS Budi Santoso, seperti dilaporkan Merdeka.com, tidak membantah adanya ajakan itu. Menurut Budi, "UMS hanya sebatas ikut membantu menyosialisasikan film tersebut." 

 



(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id