Program Next Step Studio edisi perdana ini menjadi ruang bagi sutradara muda Indonesia untuk bersuara di panggung global.
Berikut adalah empat judul film pendek yang siap berkompetisi di edisi ke-65 La Semaine de la Critique:
1. Holy Crowd
Disutradarai oleh Reza Fahriyansyah bersama Ananth Subramaniam (Malaysia). Dibintangi oleh Prilly Latuconsina, Yusuf Mahardika, Yudi Ahmad Tajudin, dan Arswendy Bening Swara.2. Original Wound
Disutradarai oleh Shelby Kho bersama Sein Lyan Tun (Myanmar). Dibintangi oleh Agnes Naomi, Omara Esteghlal, dan Vivian Idris.3. Annisa
Disutradarai oleh Reza Rahadian bersama Sam Manacsa (Filipina). Dibintangi oleh Choirunnisa Fernanda, Nazira C. Noer, dan Shakeel Fauzi.4. Mothers Are Mothering
Disutradarai oleh Khozy Rizal bersama Lam Li Shuen (Singapura). Dibintangi oleh aktris kawakan Happy Salma, Asmara Abigail, dan Yudi Ahmad Tajudin.Tak hanya jajaran aktor papan atas, film-film ini juga didukung oleh sinematografer peraih penghargaan seperti Vera Lestafa, Faozan Rizal, dan Deska Binarso, serta sentuhan artistik dari Retno Ratih Damayanti dan Sigit D. Pratama.
Jembatan Budaya Indonesia - Prancis
Dalam jumpa pers yang digelar di Institut Français Indonesia (IFI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 5 Mei 2026, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud nyata dari penguatan kerja sama kreatif kedua negara."Next Step Studio Indonesia, baru-baru ini disoroti oleh Menteri Kebudayaan Prancis dan Indonesia selama pertemuan mereka di Paris pada tanggal 22 April, menegaskan kembali komitmen bersama kita untuk memperkuat kerja sama budaya dan kreatif kita, dengan sepenuhnya menghormati semangat Deklarasi Borobudur yang diadopsi oleh kedua presiden kita," ujar Fabien.
"Kami ingin menjalin kerja sama jangka panjang antara industri kami. Kami yakin ini demi kepentingan kedua negara kami, dan yang terpenting, demi kepentingan para kreator dan profesional industri kami," lanjutnya.
Senada dengan hal tersebut, Irini Dewi Wanti dari Kementerian Kebudayaan Indonesia juga turut mengungkapkan rasa bangganya.
"Inisiatif ini tidak hanya membuka peluang bagi talenta muda Indonesia untuk menembus jaringan industri global, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Prancis, sejalan dengan semangat Deklarasi Borobudur," ungkap Irini.
Momentum Pertumbuhan untuk Sineas Lokal
Bagi Reza Rahadian, yang baru saja sukses dengan debut penyutradaraannya lewat film Pangku, kolaborasi ini adalah momen krusial bagi ekosistem perfilman regional."Next Step Studio memberikan kesempatan cerita-cerita dari Asia Tenggara semakin terdengar. Kolaborasi ini menjadi momentum dalam proses bertumbuh untuk menghasilkan karya-karya terbaik mendatang," ungkap Reza dengan antusias.
Di sisi lain, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, menekankan bahwa kehadiran di Cannes pada 14 Mei 2026 adalah bibit untuk posisi Indonesia yang semakin kokoh sebagai kekuatan sinematografi di Asia.
"Dari kami di BPI, tugas kami ke depan adalah memfasilitasi dan memberikan visibility bagi terjadinya kolaborasi dan koproduksi lintas negara, membangun ekosistem yang memungkinkan karya Indonesia tidak hanya hadir sesekali, tetapi menjadi langganan panggung global," ujar Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni.
"Kami percaya bahwa kehadiran di Cannes minggu depan adalah bibit dari perjanjian koproduksi besok, dari bakat-bakat baru yang ditemukan, dan dari posisi Indonesia yang semakin kokoh sebagai kekuatan sinematografi Asia," sambungnya.
Empat film pendek Next Step Studio 2026 akan tayang perdana (world premiere) dalam sesi pemutaran khusus di La Semaine de la Critique Cannes Film Festival 2026. Bagi Sobat Medcom yang tertarik untuk memantau informasi dan update terbaru dari Next Step Studio 2026, kalian bisa melihatnya di kanal media sosial Instagram @kawankawanmedia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News